Sebenarnya Aku Masih Bisa Mendengar

Plaak! Suara itu terdengar sampai barisan siswa dibelakangku. Suaranya bagaikan membahana berurutan satu per satu layaknya sebuah simfoni. Simfoni yang hampir mirip dengan acara pemerkosaan atau hal melecehkan lainnya. Tapi sangat kurang dari itu, tapi ini membekas.
Sendirinya perkara itu adalah masa lalu. Walau selalu teringat, ini adalah kisah yang pernah kualami. Jika itu menyakitkan aku akan menyimpannya dalam hati. Bukan untuk dendam, tetapi untuk disimpan sebagai bagian dari kisah perjalananku.

Aku ingin kembali di kala waktu itu. Sebuah kejadian mencekam yang mengatasnamakan pendidikan sebagai topeng dibalik kejahatan yang menyelubungi insiden ini. Aku sebenarnya bisa mengelak. Dengan segala kekuatanku, aku menyisakan diriku dengan sebuah bekas yang tak dapat disembuhkan lagi oleh kuasa sang Tuhan.

Maaf, sepertinya anda akan terus seperti ini. Obat yang diberikan hanya untuk meredakan rasa sakitnya...
Ya, sejak saat itu aku kehilangan sebagian dari kemampuan pendengaranku. Walau awalnya masih terdengar sedikit kini telinga kiriku hanya berfungsi 25%-nya. Sakit pada waktu lalu itu sangat menyakitkan. Walau nanti aku khan terbiasa, tapi aku mempertanyakannya.

Kejadiannya...
Sesaat setelah perbincangan antara dokter dan orangtuaku. Lalu aku membaca hasil diagnosa dokter tentang keadaanku waktu itu. Saya terdiam. Dalam grafiknya menunjukan bahwa fungsi telinga kiri ku memburuk stelah kejadian itu. Aku hanya berpikir, apa yang harus kulakukan.

Buat apa mereka mengadakan hal yang seperti itu? Untuk apa? Dan mengapa hal se-brengsek itu dapat terjadi selama bertahun-tahun. Akulah yang akan menguaknya pertama kali. Aku sebagai korban penganiayaan massal oleh oknum tak berwenang dan aku akan menumpasnya.

Kesimpulannya, aku dan dia tak pernah tahu
 Berawal dari penunjukan sang kambing hitam. Seluruh suara yang terngiang, aku mencarinya. Ini terjadi keesokan harinya. Aku dan orang tuaku pergi menuju kantor untuk hal ini. Dan saya mendengarkan ceritanya.

Tidak ada yang mengaku
Saat itu aku berbaris. Satu satu orang yag berbaris denganku ditanya satu persatu. Karena aku menjawab pertanyaannya dengan salah. Akhirnya terdengar suara "Plaak!" Suara itu terdengar sampai barisan siswa dibelakangku. Suaranya bagaikan membahana berurutan satu per satu layaknya sebuah simfoni. Simfoni yang hampir mirip dengan acara pemerkosaan atau hal melecehkan lainnya. Tapi sangat kurang dari itu, tapi ini membekas.

Akulah korbannya. Perbincangan di kantor hanya berlangsung sekilas. dengan berbagai debat sengit antara kedua belah pihak. Sang terdakwa tak bisa mengelak dan akhirnya mereka membayar seluruh tagihan rumah sakitku.Walau semuanya telah selesai, saya tidak pernah mengetahui siapakah dalang yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Saya tidak tahu, tetapi aku yakin suatu saat balasan untuk dirinya akan datang.

Dari seluruh lubuk hatiku. Aku harap kamu mati...

Komentar

  1. Semoga apa yang sudah terjadi sama si mas Allah dapat membalasnya terhadap orang yang melakukan itu sama si mas :)
    Tetaplah berdoa.

    BalasHapus
  2. apa yang telah terjadi pasti ada hikmahnya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle