Langsung ke konten utama

Testimonia


Sejenak ku harus alfakan pikiranku terlebih dahulu. Selayang pandang...

Ku terjenuhkan oleh diriku sendiri. Tak terasa sudah bertahun-tahun selama ini aku telah hidup. Tapi terdayakan oleh seraut pisau tajam menusuk dalam jemari hatiku. Di sebelah pintu emosi yang menunjukan perasaan. Aku telah mati. Tak memiliki emosi yang seutuhnya lagi dan sepenuhnya ada untuk terbuka dalam kala rembulan datang.Sepenuhnya terbunuh oleh kisah sendiri yang membawaku ke sonata diriku yang menyanyikan lagu dari diriku.

Aku miliki akal. Pembawa berita, pengumpul butir-butir informasi yang tak kunjung habis. Mungkin lebih dari beberapa terabyte sudah kuhafalkan. Menerjemahkan lebih dari triliunan bahkan lebih bahasa yang harus kuubah dalam bentuk verbal yang sebagian besar tidak aku ubah hanya untuk diriku sendiri. Selebihnya itu adalah intrik dari strategi yang kuolah dan kusimpan dalam beberapa konsekuensi. Sepintar-pintarnya, sekonyol-konyolnya. Aku tahu suatu saat ada dampaknya. Baik buruknya aku hadapi. Melihat hati yang sepenuhnya terabaikan, aku tahu aku tak rasakan apa-apa.

Bila dunia ini terbelah. Aku akan pilih dimensi yang tak ada kata sesal dalam kamusnya. Lelah? Ya, aku lelah. Bila aku pilih suatu jalan dari jutaan pintu paralel yang megah di hadapanku. Walau datang kala gagal. Aku tahu, aku yakin. Semua yang terjadi hanyalah beberapa juta variabel yang membawaku ke saat yang satu ini.Hal yang dibawa oleh diri sendiri tak pernah layaknya terbagi dan terpisah oleh orang lain. Aku hanyalah aku.

Jika hal yang satu ini adalah cinta. Hanyalah awal yang kusimpan untuk diriku sendiri. Tak terpungkiri jutaan rasa yang terpendam dalam perasaan yang mati ini ada sebuah rasa itu. Walau tak nyata bentuknya dan tak menyerupai apa-apa. Aku memilikinya walau aku mengontrolnya dalam acak dan berusaha menyambungkan semua kenyataan dalam satu. Walau terasa kehilangan, tak ada alasan untuk bersedih. Dikhianati, tak ada alasan untuk bermain api hingga terbakar salah satu jiwa. Bila tak sadarkan hal yang tak diinginkan aku hanya menahannya. Hingga suatu saat membeku dan menyejuk. Aku memeluk sang waktu yang menjaga panjangnya jiwa ini berpikir dalam panggung sandiwara ini.

Bila, tak ayal suatu kebingungan. Setitik, walau tak terasa. Dunia dibalik topeng, adalah aku. Topeng dibalik dunia adalah aku. Jutaan gerbang berterbangan menghampiri.Aku yakin, aku ada. Dunia dalam genggaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…