Hujan, mengingatkanku...

Terperangkap hujan kala itu

Terima kasih. Itu sudah sangat membantu.
Pesan itu lalu ku kirimkan lewat sms kepada guruku yang sedang dalam pertemuannya di suatu tempat yang aku tak tahu. Aku berlari menyusuri jalan dan basah kuyup. Semua barang elektronik, semuanya kumasukkan kedalam tasku, telepon genggam dan laptop sembari lari tak tentu arah. Aku tak peduli, aku harus segera menemukan tempat teduh. Aku tidak akan sakit oleh hujan ini.

Kutemukan sebuah warung kecil di pinggir jalan. Aku duduk dan melihat derasnya hujan menari kegirangan di atas lantai dansanya itu. Sepertinya aku terlalu lelah. Setelah berjalan menuju rumah guruku itu dan berlari menembus hujan. Yang kuingat hanyalah aku harus segera menyelesaikan janjiku itu.

Datanglah satu kelegaan dalam hati. Tetapi tak dapat menutupi kepenatan lainnya. Sayangnya, aku terlalu naif akan hal yang menghampiriku selama ini. Hujan ini bersenandung dengan komplikasi hidupku selama ini. Ini telah sangat lama, aku ingin keluar. Kesedihan yang kurasa terlalu pedih untuk ditangisi. Jadi aku hanya diam.

Telah lama aku menjadi korban perasaan. Entah itu karena aku sendiri, atau aku terbakar dalam kecemburuan para pengintaiku yang selalu mencintaiku sampai kapanpun. Menyimpan seluruh kisahku layaknya mereka akan segera mencumbui aku dengan keganasannya, fitnah dan unjingannya yang tak kunjung reda. Menutup mata hatiku sepenuhnya.

Sekolah, sesuatu kewajiban yang sebenarnya sangat pedih menurutku. Terkekang oleh peraturan dan kewajiban untuk mengejar nilai yang tak lebih dari sebuah angka yang berjarak tergoreskan dalam sebuah catatan dosa dan kebaikan yang disebut dengan rapor. Aku ingin mengejarnya tetapi itu hanyalah kosong bagiku yang telah mengabsenkan pikiranku ini. Aku lelah.

Hari ini berjalan sangat normal. Seperti biasanya monoton dan berulang-ulang. Dari pelajaran olahraga yang disusul dengan sosial dan akhirnya pulang. Aku tidak menyukai dengan hal yang disebut kelas maupun teman. Mereka tak begitu penting jika dibandingkan dengan keadaanku sekarang ini. Hingga sekarang, aku belum memiliki sahabat yang benar nyata adanya. Yang telah kumiliki adalah sahabat abstrak yang kapanpun dapat berkhianat dimanapun aku berada. Pengumbar kebohongan dan mempermainkan kepercayaanku sampai akhirnya aku tak percaya lagi hingga aku meninggalkannya.

Guru Matematika, Bu Aida (Sumber : FB Pribadinya)
Teringat guruku yang tadi kukirimi pesan. Beliau baik, walau aku telah berpuluh-puluh kali kecewa dengannya. Aku berbeda, di sekitarku adalah pemikir monoton. Ia biasanya mencampuri urusanku yang sebenarnya telah lama kuselesaikan. Atas karenanya kadang aku menjauh. Tetapi, aku berusaha mengerjakan tugasnya dengan sebaik mungkin. Walau tak secepat murid kesayangannya. Bagiku, tugas dari semua guruku adalah hutang yang harus segera dibayar.

Aku mendapatkan remedial pertamaku dengannya. Setelah beberapa lama, aku memang selalu menjadi bulan-bulanan pelajaran matematika. Bukan karena kesulitannya, tetapi karena aku terlalu lelah untuk mempelajarinya. Aku layaknya tidak memiliki nyawa untuk mempelajari pelajaran di sekolah tetapi aku sangat menyukai apa yang dipelajari disana. Walau aku sangat tidak menyukai tes tertulis karena tes tersebut sangat picik dan licik hingga aku tak percaya sama sekali dengan hasil yang tertera di kertas ulangannya. Yang kutahu bahwa di dalam kelasku saja dapat dipersentasi tingkat kejujurannya dalam ulangan yaitu hanya 5 % kejujuran sebenarnya.


Hujan ini mengingatkanku atas segalanya. Segala kisah yang kompleks ini memberikan ku sebuah kesimpulan ketika ku mendengar rintikan hujan.  Aku mengamati semuanya. Dengan masih mempercayai mitos yang menyelimutiku. Aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku harus mengejar impianku itu. Misteri keluarga yang hingga kini belum terpecahkan. Dan semua teka-teki yang harus kuselesaikan akan selesai satu persatu.

Jang, hujan-hujan gini mending merokok saja. Hangat, enak lagi...

Seketika lamunanku terbuyarkan oleh kata-kata seorang buruh bangunan yang sedang lewat di depanku itu. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku, memberikan arti bahwa aku bukanlah seorang perokok. Aku lihat sang buruh tersebut melanjutkan pekerjaannya walau hujan sangat besar. Kulanjutkan lagi apa yang harus aku lakukan selanjutnya.

Aku mengambil handphone ku yang sedikit basah dan melapnya dengan bukuku. Aku telepon ibuku yang sedang di rumah untuk menjemputku. Walau ini terlihat sangat menggelikan, karena sesuatu hal aku tidak mau mengendarai motor. Karena menurutku itu terlalu membahayakan nyawaku. Lagipula aku belum memiliki kartu SIM maupun KTP. Aku seharusnya bersepeda dari tadi tetapi sepeda itu telah rusak dan disimpan di gudang. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah berharap ibuku datang dan menjemputku. Sebelum handphone dan laptop ini kebasahan.

Waktu masih menunjukan pukul 2 tapi hujan masih begitu lebat. Harmoninya membawa hidupku ini lebih hidup. Aku menyayangi semuanya. Aku sangat senang dengan apa yang telah terjadi selama ini. Hidupku, perjalananku. Aku akan jalani walau sekarang aku sedang terpuruk. Aku yakin ada jalan keluar untuk ini semua... 

Sesaat kemudian motor matic berwarna merah menghampiriku. Dengan jas hujannya yang khas, pengendara motor itu membuka tutup helmnya sembari tersenyum. Aku segera menyimpan tasku ketempat aman di dalam motor. Aku menaiki motornya dan memeluk pengendara tersebut. Aku akan lakukan yang terbaik untuk nya walau aku pernah terpuruk dan jatuh. Aku yakin kudapat bahagiakan dirimu...

IU Mum !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle