Mengenai Kebenaran

Sumber : http://electric102.com/new/wp-content/uploads/2012/01/truth_000.jpg
Setelah postingan lalu mengenai kebenaran beberapa waktu lalu. Saya akan tunjukan berbagai teori yang telah saya kembangkan sejauh ini. Dari sekian banyak masalah menghampiri manusia dan oleh karena itu secara tidak langsung hal tersebut menuntu manusia untuk menjadi lebih kreatif dalam berbagai hal.

Begitu juga dengan filosofi ini, yang diawali oleh keraguan yang hadir dalam setiap manusia. Untuk menghasilkan suatu pemikiran yang tak jauh sebagai penenang/obat sementara dari keraguan yang tampak. Bila saja, manusia jarang sekali memikirkan. Bagaimana dunia ini hidup?

Sesuai dengan pengertian kebenaran, yaitu
Kebenaran adalah hubungan yang benar antara objek dan pengetahuan

Suatu kebenaran telah benar jika terdapat hubungan timbal balik yang sama-sama benar antara objek yang dinyatakan dan pengetahuan mengenai objek yang tampak. Aturan ini sangat mudah, sederhana dan berlaku berulang-ulang dengan repetisi yang absolut.

Sebenarnya, ada satu hal lain mengenai kebenaran yang terucap dari mulut manusia. Hal tersebut malah menimbulkan suatu keraguan yang kebenarannya tidak diketahui secara pasti. Meskipun yang keluar dalah peryataan yang memungkinan adanya kebenaran.

Hal yang seperti ini, selanjutnya akan saya sebut sebagai pernyataan ungu. Pernyataan ini layaknya kebenaran, tetapi keberadaanya sangat lemah karena tidak ada saksi yang mendukung juga mempercayai apa yang disebutkan dalam pernyataan tersebut.

Sebagai contoh, saya ambil dari suatu kasus sederhana yaitu kejadian yang biasanya terjadi di sekolah. Yaitu kehilangan penghapus,

Pada suatu saat si A kehilangan penghapusnya, lalu ia menanyakan kepada teman-teman sekelasnya.

Mula-mula si A bertanya pada si D, lalu D menjawab
Penghapusnya diambil oleh C

Lalu si A bertanya pada si C, lalu C menjawab
Penghapusnya telah kusimpan di meja A

Setelah mencari ke mejanya, ternyata si A tidak menemukan juga penghapus yang dicarinya, lalu si A menanyakannya pada si B
Penghapusnya telah dibawa guru

Setelah beberapa saat tiba-tiba si A menemukan penghapusnya di lantai dan akhirnya si A dapat menyimpulkan dalam biru bahwa
Penghapus itu telah berada di meja si A awalnya. Lalu dipinjam oleh D. Setelah D telah selesai dengan penghapusnya, si C meminjam penghapusnya  dan seusainya disimpan kembali di meja si A. Karena kemungkinan tergeser hingga jatuh, penghapus itu hilang. Dan penghapus yang dilihat B adalah penghapus lain yang memungkinkan adalah miliknya guru.
Apa yang sebenarnya terjadi? Semua pernyataan tersebut tertuju pada satu hal, yaitu penghapus. Penghapus yang dipinjam C dan D sangat memungkinkan menunjukan objek yang sama yaitu penghapus milik A. Penghapus yang dinyatakan D akan salah jika objeknya penghapus milik A dan akan benar jika ditujukan kepada pemilik sebenarnya dari penghapus yang dilihat B. Dari semua ini, Pernyataan yang telah ditunjukan teman-teman A yang terpercaya dapat disimpulkan sebagiannya sebagai kebenarannya.

Jadi, Truth is Believing. Faktor lain yang memperkuat suatu pernyataan untuk menjadi suatu kebenaran adalah kepercayaan orang-orang yang memahami  dan mengetahui yang mengakui bahwa kebenaran tersebut benar adanya. Kebenaran tersebut akan lebih kuat keberadaannya jika terdapat orang yang mengakuinya.

Contoh lain dari penyataan ungu didapat dari suatu kasus pembunuhan. Pengakuan yang didapat dari para saksi dapat disebut sebagai pernyataan. Detektif yang menangani kasus tersebut mempertimbangkan apakah testimoni-testimoni yang didapat bisa menunjukan suatu kebenaran.

Kebenaran ini diuji melalui gestur, perilaku, bahasa tubuh dan ekspresi yang ditunukan saksi saat menyatakan kesaksian mereka masing-masing. Dari sinilah detektif tersebut -setelah membandingkan juga pengakuan saksi dengan fakta yang berada di lapangan- menyimpulkan perkara yang terjadi dengan kebenaran biru.

Setelah penyelidikan berlanjut, akan muncul kebenaran-kebenaran lainnya, baik itu merah maupun biru sesuai dengan kebenaran emas. Kasus yang ada akan terus berkembang dan terbentuklah reka ulang kejadian perkara pembunuhan sesuai dengan kebenaran yang terbentuk dan akhirnya dapat menentukan siapa pembunuh sebenarnya dalam kasus tersebut.

Setelah penjelasan panjang, aku beri satu kebenaran
Semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan tindak kriminal
Untuk contoh lainnya, saya ingin anda saja yang mencarinya sendiri. Karena hidup ini adalah pilihan. Dan dari pilihan inilah manusia belajar. Dan dari tulisan ini supaya semua orang dapat belajar.

Sebagian kisah artikel ini kemungkinan akan berlanjut. Jika sang pencipta memberikan waktunya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle