Langsung ke konten utama

Seberkas Cahaya di Rumahku


Aku pikir aku akan selalu kosong. Tak pernah terbayangkan apa yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang benar-benar terjadi padaku. Aku tidak dapat merasakan apa-apa lagi yang terjadi dalam kronologi hidupku. Sekiranya ada sesuatu yang telah merenggut perasaanku.

Aku berjalan sendiri dalam ruangan tengah di lantai atas. Biasanya rumah sepi ini tak pernah diramaikan oleh penghuninya, termasuk aku. Tidak lagi, selain ribut-ribut yang diciptakan bibiku terhadapku. Aku mulai terbiasa tinggal disini dan waktuku untuk tinggal di rumah ini hanya sampai pertengahan tahun 2014. Aku harap ada perubahan berarti hingga aku meninggalkan rumah ini.

Aku tinggal di rumah ini, sejak saya menginjak kelas satu SMK. Memang, sewaktu SMP saya pun pernah tinggal di rumah ini walau hanya beberapa bulan karena alasan ekonomi keluargaku. Kesan yang terbentuk di rumah ini tak semeriah seperti yang kubayangkan sebelum aku tinggal di rumah ini dan aku sedikit tidak betah.

Tempat tinggal memang tempat tinggal, kan? Saya rasa inilah satu hal yang saya apresiasikan. Mengingat, bahwa setelah lama beradaptasi dengan rumah ini. Ya, kutahu rumah ini sedikit angker. Tapi, itulah yang membuatku sedikit lebih nyaman untuk tinggal. Walaupun aku tidak bisa sedikit pun dengan tenang belajar di rumah ini. Dan akhirnya saya tidak belajar sama sekali (maksudnya, mengenai pelajaran) di rumah ini.

Aku suka rumah ini.... Setidaknya untuk tidur dan mandiku. Ada satu ruangan kamar mandi khusus, hanya untuk aku saja. Karena sebelumnya kamar mandi di atas benar-benar terabaikan. Setelah aku perbaiki, aku tidak membiarkan orang lain selain diriku yag boleh memakainya. Karena butuh lebih dari sehari untuk membersihkannya. Apalagi untuk memperbaiki langit-langitnya dan saluran airnya.

Di kamarku hanya terdapat sebuah kasur dan kawna-kawannya. Bantal, gulingan dan selimut tentunya. Lemari ku simpan di ruang tengah atas karena tidak ada cukup ruang untuk menyimpan semua itu. Hihihi, jadi setiap aku ganti baju. Aku ambil baju dari lemari dan menggantinya di kamar.

Tak ada tempelan di dinding selain cermin. Dan pemadangannya cukup bagus di teras atas. Hanya saja pintu ke teras luar harus selalu di tutup setiap saat karena angin aku langsung masuk dan mengotori ruangan atas. Apalagi saat hujan, saya selalu siap-siap untuk membersihkan saluran air di atas untuk mencegah banjir terjadi. Ya, lucunya banjir ini hanya terjadi di ruangan atas.

Di ruang tengah aku bisa lihat dua rak, yang satu milikku dan yang satunya lagi adalah miliknya adikku. Ada lemari pendek dekat jendela dan lemari pakaian ku di depan pintuku. Dan sebuah meja kecil di tengah ruangan. Tak lupa tempat sampah di dekat pintu keluar.

Sedikit yang dapat aku ceritakan mengenai tata letak perabotan yang ada di 'bagian rumah'ku. Aku tahu sebuah rumah adalah istana. Tapi aku pikir sebuah rumah hanyalah rumah yang tak jauh untuk tempat tinggal. Dan istana, terlalu besar untukku tinggal. Apalagi untuk membersihkannya. Tidak akan selesai dalam waktu yang sebentar. Aku menyukai rumah bagaimanapun itu.

Berkisah mengenai rumah ini. Sekiranya aku dapat berpikir bahwa aku harus berterima kasih kepada bibiku untuk dapat tinggal di rumah ini dan segala fasilitas yang ada. Walau berakhir dengan rasa kekecewaan diriku sendiri terhadap kebiasaan bibiku yang jarang bersih-bersih dan adikku pula sepupuku ikut-ikutan untuk ngebala di rumah ini, membuat aku bekerja ekstra untuk membersihkannya. Dan sepertinya itu tidak akan pernah berakhir.

Ya, aku harus tetap tinggal sampai waktu tertentu untuk pindah dari rumah ini. I'm Homeless dan tak tahu harus pergi sekarang ini. Filosofi sebuah rumah memang tak bisa terpisahkan dari kehidupan seseorang. Memori tidak dapat dilepaskan dan aku harus meninggalkan suatu kenangan untuk rumah ini. Yaitu, seberkas cahaya.

Mungkin seberkas cahaya ini dapat menandakan bahwa aku pernah tinggal di rumah tersebut. Cahaya ini tidak berbentuk cahaya tetapi berbentuk sesuatu yang dapat diingat dan hanya aku saja yang dapat merasakannya. Semacam memori masa kecil yang tak pernah lepas dari ingatanku ini.

Aku berharap untuk hidup hari ini di rumahku. Aku ingin pulang, ke rumah. Dan aku akan baik, meninggalkan seberkas cahaya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…