Langsung ke konten utama

Aku Hanyalah Seorang Pecundang

Kamu tahu orang yang kalah? Orang yang diinjak-injak. Diremas hatinya hingga dirinya menangis. Tak tahu arah. Merasa mati. Putus asa? Tidak! Pikir bangkit adalah yang dirasa. Berjalan sembari di lempari batu orang dan cemooh "Kamu orang gila, tak mungkin terjadi!". Atau berusaha menciptakan lembaran-lembaran kepercayaan setelah tubuhmu remuk karena kesalahan di masa lalu. Mungkin penyesalan, mungkin orang belum tahu. Kamu tak perlu seperti itu. Jalani hidupmu!
Pesan di atas adalah apa yang ingin aku sampaikan kepada orang yang bertanya kepadaku suatu saat nanti. Apa yang sekarang aku alami ini sebagian terasa pahit dan sebagian asam. Menikmati dan menenggak butir-butir kehidupan yang telah ditakdirkan padaku untuk saat ini.

Aku pecundang. Ya, aku pecundang. Tetapi bukan pecundang yang merampas hak orang lain. Bukan pula orang yang berusaha memberontak untuk terjadi sesuatu yang melenceng. Aku berusaha membuat perubahan lebih baik untuk hidupku dan juga orang-orang yang aku sayangi, aku cintai. Ya, pecundang itu adalah orang yang berusaha mencapai sebuah tujuan walau itu memiliki rasio yang kecil untuk dicapai. Bisa juga tujuan itu adalah suatu bidang yang disepelekan, tidak penting atau murahan lah.

Tujuanku untuk saat ini adalah untuk bisa menikmati hidup lebih indah lagi. Aku pikir beberapa tahun kuliah dan bekerja akan menjadi suatu hal yang menarik bagiku. Selain itu, mengerjakan hobi yang telah menjadi kecintaan diriku dan berusaha merealisasikan diri dalam mimpi-mimpi masa kecil yang masih bisa dicapai. Apa? Menari, menulis. Mungkin beberapa tekanan dapat membuatku diam dan tidak melakukan apa-apa. Aku yakin aku bisa melakukannya. Selain itu ya, realisasi itu salah satunya untuk tampil di sebuah pentas dimana aku bisa melampiaskan segala gairah diriku dalam bentuk tari dan ekspresi. Ada pula untuk menulis sebuah kisah yang masih diceritakan dalam pikiranku terus menerus.

Aku akan lebih selektif lagi dalam memilih teman dengan prinsip semua orang bisa mengenaliku tetapi hanya beberapalah teman yang aku dapat. Aku tidak memikirkan seberapa banyak kenalan yang aku punya tetapi kualitas hubungan yang baik diantara teman. Dibanding dikerumuni banyak orang yang selalu berusaha menjatuhkanmu dengan segala hardikan dan bully-annya yang mematikan.

Aku yakin aku bisa berjalan sesuai dengan apa jadinya diriku. Yang awalnya seorang pecundang, "Loser". Yang bisa mencapai tujuan hidupnya selama ini. Realisasi! Realisasi adalah hal yang seorang pecundang seperti diriku inginkan beberapa waktu ke depan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…