Renungan Pasca Seleksi Jalur Bidik Misi Sekolah Tinggi Seni Indonesia -TEKAD-

Kartu Peserta Jalur Bidik Misi (Sumber : Pribadi)
Senin, 19 Mei 2014.
Aku mengikuti seleksi jalur bidik misi ke jurusan seni tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

Hari cukup panjang yang membuatku berpikir,
Apa jadinya aku setelah aku lulus?
Siapakah aku?
Akan jadi apakah aku?

Proses seleksi dimulai dari pukul 8 di Ruang Sidang STSI Bandung. Para peserta dikumpulkan. Setelah itu terdapat acara sambutan dari beberapa tokoh jurusan Seni Tari STSI dan ditutup dengan penjelasan singkat mengenai proses seleksi.

Proses seleksi diawali dengan di panggilnya 3 peserta secara bersamaan ke ruang seleksi (Ruang Baca Jurusan Tari) yang terus berlanjut dan diakhiri dengan penutupan dan beberapa pengumuman saat menjelang petang (aku tidak begitu ingat waktu tepatnya).


Untuk siapapun yang membaca tulisan ini...

Aku tidak begitu mengerti apa itu definisi tari yang sebenarnya. Untuk apa seseorang menari dan untuk apa aku menari. Tetapi menari sudah menjadi bagian dari hidupku.

Wawancara yang lalu, aku dapatkan. Meski aku tidak dapat melakukan tari tradisional yang diinginkan seperti para peserta lain. Meski aku belum pernah mengikuti pendidikan seni tari tradisional, aku pernah mengikuti jejak seorang teman. Atau malahan dicap untuk mengikuti tren atau urusan yang sebenarnya aku tidak menyukainya. Mungkin seperti di rendahkan atau apalah itu. Aku masih yakin bahwa aku mau belajar.

Selain itu, beberapa penjelasan mengenai laki-laki dan perempuan membuatku cukup bergeming. Tapi apakah arti gender, karena tiap orang memiliki definisinya masing-masing. Aku tak bisa menyalahkan dan membenarkan apa yang anda anut. Ketika seseorang menari, apakah itu seorang perempuan ataukah laki-laki. Aku adalah laki-laki. Genderku laki-laki dan pula Sexku laki-laki. Dan itu tidak akan pernah berubah.

Mengenai mengejar ambisi setelah pengumuman penerimaan. Aku tidak akan mengikuti seleksi jalur mandiri. Menurutku, itu cukup. Jika memang aku dipantaskan untuk menjadi bagian dari kampus ini, aku pasti akan menjalaninya. Dan jika aku gagal dalam seleksi ini, mungkin bagian menari dalam hidupku ini akan aku jelajahi menurut jalanku sendiri. Tanpa memerlukan suatu pendidikan formal lainnya, tanpa penilaian pasti berupa angka maupun tropi.

Aku akui, aku buruk dalam tari tradisional. Saya masih menjelajahi dunia modern dan kontemporer. Ketika aku cukup mempelajarinya pasti suatu saat saya akan memperlajari tari yang menjadi bagian dari identitasku, sejarah keturunan diriku. Yaitu, tari tradisional...

---

Dan dalam menari, aku bisa menjadi apa saja. 
Jika itu adalah tuntutan suatu pementasan tari aku mau menjadi apa saja yang anda mau.

Aku menulis ini karena ada sesuatu yang belum aku sempat sampaikan.

Menari adalah bagian dari hidupku. Apapun jadinya tari dalam kehidupan diriku, menari akan tetap menjadi bagian diriku.Tak peduli genre yang akan aku mainkan, tak peduli peran yang aku hidupkan. Ketika aku menari. Satu-satunya hal yang aku rasa adalah aku "bermain". Layaknya memainkan peran, aku selalu berusaha menyampaikan pesan yang terdapat dari ide koreografer yang memberikan beberapa patternnya padaku.

Aku akan belajar, dan aku akan menjelajahi dunia tari yang begitu luasnya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle