Langsung ke konten utama

Perang Melawan Buku : Sebuah Konflik Pemahaman

sebuah esai oleh Muh Rhaka Katresna
seorang mahasiswa Departemen Psikologi
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia

"Baca ibarat perang. Taklukkan realitas. Lawan diri sendiri" -kuliah Pak Dharma, 5 September 2014 -
Membaca bagiku adalah suatu suatu kewajiban, hobi, juga kegiatan rutin. Sebagai kewajiban, membaca adalah memahami segala sesuatu yang ada sebagai bagian dari studi seumur hidup. Sebagai hobi, membaca dan membahas bacaan adalah suatu minat yang sangat menggairahkan. Dan sebagai kegiatan rutin, membaca termasuk dalam jadwal keseharianku.

Membaca merupakan proses pengolahan bacaan secara kritis kreatif dengan tujuan memperoleh pemahaman secara menyeluruh tentang suatu bacaan serta penilaian terhadap keadaan, nilai, dan dampak bacaan. Terdapat beberapa proses penalaran seperti itu menimbulkan suatu konflik dalam memahami bahan bacaan. Perang antara diri dengan realitas dan pemaknaan dari bacaan akan berakhir menjadi satu pemahaman bacaan secara menyeluruh. Pastinya setiap tulisan memiliki tujuan (secara tidak langsung) untuk mempengaruhi pembacanya. Oleh karena itu, memaknai dan memahami suatu bacaan dapat menjadi suatu rintangan yang dihadapi dalam membaca sebuah buku/tulisan.

Rintangan Pertama

Menghadapi suatu bacaan menuntut diri untuk berpikir kritis. Seorang pembaca harus dapat menyaring informasi yang didapatnya. Menentukan apakah bahan bacaan diperlukan atau sesuai untuk dibaca. Meski isi tulisan tidak sesuai dengan prinsip, kita dapat mengambil informasi yang dianggap perlu.

Jika tulisan diilhami tanpa pengolahan informasi terlebih dahulu. Pembaca akan terjerumus dalam pemaknaan yang kabur. Ini dapat menghambat pola pikir.

Rintangan Kedua

Hasil pemikiran manusia bukanlah suatu jawaban akhir atas pertanyaan yang si pembaca cari jawabannya. Pembaca harus mampu memahami konsep dari bacaanya. Pemahamanlah yang harus digali. Kita harus yakin bahwa dalam setiap makna yang diperoleh, akan diperoleh kesimpulan utuh dari bacaan. Pemahaman disini adalah pandangan keseluruhan.

Rintangan Ketiga

Menghadapi realitas adalah tantangan akhir setelah pemahaman berhasil diperoleh. Kendati demikian, pemahaman seyogyanya mampu diterapkan oleh si pembaca dalam menghadapi realitas. Dari sini, nilai-nilai tersebut dapat menandakan adanya sesuatu yang tidak selesai dalam realitas yang dialami.

Melawan Diri Sendiri

Tergantung dari diri apa bacaan yang dibaca membawa pengalaman yang seperti apa. Dari pemahaman, informasi telah diolah, dan tindakan adalah cerminan dari pemahaman. Pemahaman memberikan penilaian yang relatif kebenarannya.

Proses membaca berguna untuk melatih penalaran manusia. Informasi yang diterima tidak bisa diilhami begitu saja, tetapi harus diolah terlebih dahulu. Supaya pemahaman tidak kabur dan terpengaruh oleh bacaan.

Pada akhirnya, seorang pembaca harus mampu mengolah informasi yang didapat dari bacaannya. Informasi harus disaring terlebih dahulu untuk memperoleh makna. Dari makna tersebut berkembanglah menjadi suatu pemahaman utuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…