Refleksi Kuliah Psikologi Dasar I bersama Bu Linda

Pada pagi hari ini saya tiba di kampus sekitar pukul 8. Lalu mengikuti UAS mata kuliah Sejarah Aliran dan Perspektif Psikologi hingga kebablasan satu jam. Alhasil, saya datang terlambat ada UAS mata kuliah Psikologi Dasar I, mengerjakan soal UAS dengan kesetanan terburu-buru.

Setelah UAS selesai, saya membantu menyalin berkas absen kelas. Saya kembali lagi ke kelas dan menyempatkan merefleksikan kegiatan yang saya ikuti selama kuliah Psikologi Dasar I bersama Bu Linda.

dari sekian banyak materi yang diuji, ada beberapa materi yang saya tidak begitu hafal. Tetapi materi lain begitu mudah untuk dipanggil.
Materi kuliah disampaikan begitu informatif. Saya pun mudah dalam mengingat dan memahami koten materinya. Meskipun saya jarang sekali untuk membaca literatur yang berkaitan untuk menunjang kuliah. Saya berusaha unuk memahami sebaik mungkin setiap materi yang telah disampaikan. Yaa, hanya sekedar belajar dari pertemuan-pertemuan di kelas.


Yang ditekankan adalah bagaimana kita dapat memasuki ranah pikiran orang lain, membuat orang lain setuju dengan apa yang kita sampaikan. Lepaskan ego atas ide pribadi yang mungkin lebih baik. Tetapi empatilah yang diperlukan. Koneksi dengan orang lain bagaimana kita mendengarkan, memahami, dan merasakan. Itulah psikolog. Meski ada saja orang yang telah melanjutkan kuliahnya ketika kembali masih menyimpan ego pribadinya yang kuat. Kita harus mulai empati terhadap orang lain.

Mengenai kisah Mengandung Tuhan. Saya menceritakan berbagai koneksi dan makna. Makna filosofis yang terkandung begitu banyak. Tapi mulailah dari yang terdekat. Pemahaman lebih baik ditunjang dengan bacaan yang sesuai. Saya paham, perspektif dalam diri harus dikembangkan. Seseorang tidak dapat menilai begitu saja suatu tindakan.  Harus melihat keseluruhan. Bu Linda bercerita mengenai sudut pandangnya dalam memahami suatu karya. Beliau menemukan sebuah puzzle dari suatu karya. Dari hal itu, saya simpulkan bahwa setiap karya yang dibuat seseorang menggambarkan keadaan orang tersebut. Terdapat proses mental yang menyertai dalam proses pembuatan suatu karya. Disitulah potongan puzzlenya, disitulah seseorang bisa paham.

Pandangan saya mengenai kebutuhan di kesempatan lalu dinilai terlalu jauh dari konsep. Sebenarnya itu bagus, tetapi yang diperlukan disini adalah sebuah makna filosofis yang disampaikan dari multi-interpretasi hierarki kebutuhan Maslow. Pada Psikologi Kepribadian akan dipelajari, maka membacalah lagi. Supaya tahu makna dari teori-teori buatan orang.

Pengalaman saya jauh sangat sedikit dibandingkan beliau. Butuh bertahun-tahun pengalaman untuk menjadi ahli dalam suatu hal. Butuh komitmen, juga dedikasi untuk belajar. Saya harus lebih banyak belajar lagi. Membaca lebih banyak buku. Membaca lingkungan lebih baik lagi. Observasi dan wawancara adalah senjata utama yang harus dikembangkan. Materi yang disampaikan disini adalah landasan untuk melangkah ke ranah selanjutnya. Baik jika akan melanjutkan ke S2 maupun ke S3.

Saya harus paham pula, setiap dosen memiliki perspektif yang berbeda. Pada kesempatan kali ini saya bertemu dengan Pak MIF dan Bu Linda. Bagaimana dengan dosen lain? Orang kan beragam, kita harus memahami perspektif setiap dosen. Menyenangkan atau tidak itu hanyalah efek samping dari perkuliahan. Yang penting bagaimana mahasiswa dapat melewati gejolak perkuliahan, beserta masa-masa perkembangannya dengan baik.

Refleksi ini sangat bermanfaat. Pada saat ini kita bisa merefleksikan kegiatan perkuliahan satu semester ini. Bagaimana ketika setelah saya lulus? Kita akan bertemu lagi dan mendapatkan esensi dari refleksi selanjutnya. Nilai-nilai beserta kesan yang muncul adalah suatu pengalaman yang tak terhingga berharganya.
Suatu saat nanti kau akan tahu. Nikmati perjalananmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle