Langsung ke konten utama

Memupuk Keyakinan

Cukup... Kini sudah saatnya untuk memaafkan. Berikan yang terbaik. Biarkan yang berlalu supaya teruslah berlalu. Semoga semua yang memberikan hal yang baik maupun buruk menyadari segalanya. Bahwa kebaikan dan keburukan yang diberikan... semuanya... memberi pengaruh untukmu.

Cukuplah meratapi kesedihan yang mampir tiap kali kenangan buruk masa lalu teringat.
Setibanya di rumah, aku mengadu lagi. Bahkan tak terbendung rasa rindu seorang ibu terhadap anaknya. Katanya, masakan aduhai itu tidak habis-habis jika aku tiada. Bahkan kucing rumah, si Ocan namanya, merindu berat pada tuannya. Kami dipertemukan lagi.

Keyakinan diriku terasa hilang sejak beberapa tahun lalu. Aku bertanya pada ibu, "sebenarnya kenapa ayah meninggalkan keyakinannya?" Ibu bercerita, aku mendengarkan. Lalu aku bertanya lagi, "lantas, apa yang bisa aku lakukan?"

Kehilangan keyakinan bukan berarti kehilangan Tuhan. "Semoga Tuhan memberkati," katanya. Keyakinan dalam hal ini adalah menyatakan seluruh kepercayaan pada hal yang hakiki, hal yang universal ada. Kenapa Ia ada? Karena Ia-lah yang menciptakan.

Setelah itu, aku berkata bahwa ada sesuatu yang mengganjal dan menahan diri untuk mengerjakan tugas-tugas dari perkuliahan. Aku selalu teralihkan. Lalu, aku jatuh sakit. Demam memanas, namun tidak, berjalan semakin pening.

Kenangan buruk itu muncul, dan aku tidak sadarkan diri. "Begitu..." Ibu berbicara. Aku jelaskan lagi napak tilas masa-masa pengingatan yang bermula dari awal tahun ini. Kenangan-kenangan itu muncul. Memberitahukanku hal-hal yang tidak beres pada saat itu untuk diselesaikan sekarang.

Dengan apa?

Perang batin berlangsung selama 9 bulan lamanya. Berdebat dengan diri hanya untuk suatu jawaban. "Apa?" tanya Ibu. "Ternyata aku harus memaafkan bu..." Jawab ku. Ada sisi diriku yang hidup kembali. "Keceriaan itu. Masa kecilmu sungguh indah nak," Ibu berkata. Bahkan, yang selama ini aku merasa itu bukanlah diriku. Ternyata itu adalah diriku. Kegembiraan, kekuatan, dan semangat. Itulah yang tidak aku sadari selama ini. Aku tidak dapat menyalahkan mereka, namun aku harus paham bahwa ini pelajaran paling berharga dalam hidup.

"Berjuanglah, nak. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu bisa jauh lebih baik. Sekiranya mereka adalah orang-orang yang buruk untukmu. Semoga mereka sadar. Pastilah mereka menyesal dalam batinnya. Dan untuk orang-orang baik di sekitarmu. Berterima kasihlah karena takdir mempertemukanmu pada orang-orang baik seperti mereka."

Mimpi boleh saja kandas. Tetapi semangat juang hidup selalu tetap ada. Keyakinan, tidak melulu tentang Tuhan. Itu pula mengenai diri kita sendiri dan semangat yang kita bagikan untuk orang-orang di sekitar kita.

Semoga umurmu panjang ibu. Aku ingin Ibu melihat aku dapat wujudkan cita-citaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…