U-PAD-I: Suatu Fragmen Aktualisasi Diri A Otep

Pada kesempatan sebelumnya, aku akhirnya mengakhiri komitmen ku di LUK BD. Memilih untuk memfokuskan kegiatan ku untuk mewujudkan aktualisasi diri dari seseorang. Aku terus mengikuti gang A Otep yang kini bernama EXPLORE RISET.

Mulai minggu depan, kami akan berlatih setiap hari untuk pentas di acara ISOLA MENARI 12 JAM. Koreografi sedang dimatangkan sementara para penari yang kini tinggal 12 orang mengolah tubuh, jiwa, dan ruh untuk masuk dalam koreografi. Sesekali aku bertanya pada A Otep mengenai koreografi, berusaha menemukan prinsip psikologi apa yang dapat aku terapkan di garapan ini.

Proses Pencarian

A Otep menjelaskan bahwa koreografi ini adalah proses pencarian makna yang bertujuan untuk mengetahui apa, siapa, dimana, dan bagaimana kita. Pernyataan dan pertanyaan diajukan untuk menutup dan menggali pemahaman yang ternyata tidak ada usainya. "Kita harus terus menggali lebih dalam," tambah A Otep. Aku temukan beberapa representasi mental dari apa yang sedang dipikirkan oleh A Otep dan setiap dari kita, para penari.

Yang pertama adalah proses pencarian A Otep yang diawali dengan inkonsistensi makna mengenai apa, siapa, dimana, dan bagaimana. 

Di bagian awal koreografi, diberikan sebuah pandangan mengenai orang yang berjalan-jalan. Sepertinya hal ini berkaitan dengan peristiwa sehari-hari di kampus. "Kita melihat orang lain, menyapa orang lain. Jika dilihat dari atas, kita akan terlihat seperti zombie yang berjalan tidak tentu arah," jelas A Otep. Kita tidak akan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain. Namun dengan melihat perilaku mereka, kita dapat lihat representasi proses mental mereka. "Apakah kita akan jadi seseorang yang diam dan melihat semua kehancuran begitu saja?"

Perjalanan koreografi ini dilanjutkan dengan penciptaan manusia. Sepertinya ada yang kita lupakan dari esensi kita sebagai makhluk hidup. Sekarang banyak metode yang muncul untuk meningkatkan pleasure dengan memanipulasi organ, atau metode kita dalam melakukan sesuatu. Kita akhirnya lupa apa hakikat dari proses penciptaan itu sendiri. "Banyak dari kita (laki-laki) membuang-buang sperma, hanya untuk kenikmatan. Tetapi kita lupa apa yang seharusnya dari diri kita sendiri," A Otep menambahkan.

Muncullah ide karawitan. Simbol dan makna alat musik mulai menyatu dalam koreografi. Kami mulai menarikan alat musik dan mengalun bersama tubuh. Karena A Otep memiliki latar belakang pendidikan di bidang karawitan. Tidak menutup kemungkinan bahwa koreografi ini dapat semakin kaya dengan ide ini. Meskipun aku sendiri masih mencari bentuk dari alat musik dan pergantian peran yang berubah drastis. Di sinilah tantangannya dimulai. Selanjutnya koreografi ini di-godog lagi.

Kedua, para penari. Aku dapat katakan bahwa kami masih berusaha untuk menyatu dengan ide yang disampaikan oleh koreografer, A Otep. Ekspresi, ini cukup menarik. Awalnya kami mereka-reka ekspresi apa yang tepat untuk ditarikan. Lalu, berbagai ekspresi muncul dan berangsur-angsur satu per satu dari kami menyadari konsepnya.

Tantangan bagi aku sendiri adalah ketika aku diberi peran penciptaan manusia di antara proses penciptaan manusia lainnya (aku bergerak dari tanah menjadi manusia sementara yang lainnya mewujudkan proses pembuahan sel telur oleh sel sperma). Bayangan yang cukup sulit memang. Aku mengalirkan konsentrasiku berulang-ulang. Di kesempatan yang pertama, aku mengalir terlalu cepat. Hingga minggu ketiga, A Otep meminta setiap dari kami untuk bermeditasi lalu menggerakkan visualisasi yang kami alami dalam gerak. "Nah, yang kamu gerakkan sudah bermakna dan ada tujuannya. Ketika kamu bergerak tadi, kamu nampak bingung memunculkan gerak yang tepat. Mengalirlah. Biarkan penghayatanmu memberikan gerak terbaik," katanya. Aku ikuti saran A Otep.

Kadang pula kami bercanda di tengah-tengah sibuknya latihan. Memang ada beberapa gerak tari yang nampak menggelikan. Kami tertawa karena tidak dapat menahan. Itu ketika kami menari lalu menoleh ke arah penonton, lalu kami berekspresi "O" dengan wajah datar. Meledaklah tertawa kami, pada awalnya. Namun setelah ini dapat diatasi, hal ini bukan jadi hal yang lucu lagi, sesekali. Dibutuhkan konsentrasi dan fokus untuk meredam tertawaan tadi.

Guru silatku pernah berkata, "berkumpullah dengan kawan-kawanmu, niscaya ikatan batin akan terbentuk." Amanat ini membantu ketika berkumpul bersama EXPLORE RISET. Ikatan kerja sama yang tidak dapat dinyatakan secara verbal nampaknya muncul di antara kami, penari dan koreografer. Dengan jargon utamanya, "UPADI! Gali terus aja ya~," (sebelumnya, "UPADI! Gali terus dan kaji!") kami mengawali dan mengakhiri latihan. Tidak lupa untuk berdoa sebelum dan sesudah latihan. Semoga usaha kami membuahkan hasil. Aamiin.

Obrolan Mengenai Psikologi

Aku merasakan proses empati mendampingi fungsi psikis ketika aku menari. Jelasnya, ketika kita mengikuti gerakan orang lain maupun gambar mental yang muncul kita akan dapat merasakan perasaan sesungguhnya dari gerakan yang kita lakukan. Makna paling tepat bisa muncul dari proses tersebut. Namun, aku dapati makna tersebut adalah gambaran yang sulit untuk diterjemahkan menjadi bahasa verbal.

Hubungannya dengan koreografi, ini adalah kali pertama aku merasakan pengalaman sebagai penari yang ikut memaknai maksud dari koreografer. Aku mengikuti alur berpikir koreografer secara kognitif sekaligus menyatukan pikiran tersebut dengan pikiranku. A Otep sesekali mencontohkan gerakan untuk ku, lalu aku mencermin gerakan tersebut. Butuh beberapa waktu untuk figure out emosi yang berkaitan dengan gerakan tersebut, melibatkan memori dalam memperkuat persepsi ku terhadap tarian ini.

Selain itu, aku pikir bahwa motivasi intrinsik dapat membantu penari dalam keberhasilan garapan ini. Aku kaitkan ini dengan kepribadian autotelic, seseorang yang melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri (aku mempelajari ini ketika kelas Psikologi Positif). Kondisi kepribadian autotelic berkontribusi dalam mempromosikan flow ketika menari. Berbeda dengan motivasi ekstrinsik yang tampak memiliki dampak destruktif jika tidak dikelola dengan baik. Seorang penari harus terus termotivasi dari dalam maupun luar untuk dapat berprestasi.

Aku masih melakukan studi literatur mengenai metode-metode yang berkaitan dengan meningkatkan performa penari dan memperkuat komunikasi dalam koreografi ini. Semakin lama aku terlibat dalam garapan ini, semakin besar kemungkinan aku untuk mengembangkan pemahaman ku tentang psikologi dan tari. 



ISOLA MENARI: Menjadi U-PAD-I

Dari UPADI menjadi U-PAD-I. Kamu dan aku, disatukan oleh PAD. Ini dapat menjadi sebuah penghubung pada konsep utama. Koreografi dirombak dan diubah-suai karena ternyata koreografi awal memakan waktu yang cukup banyak maka A Otep memangkas koreografi, membuatnya menjadi lebih ringkas. "Kita anggap saja penampilan di ISOLA MENARI sebagai UPADI part 1," jelas A Otep. Konsep degung ini memberi penasaran diriku. 

Kami akan menyajikan sebuah paradox yang dapat memberikan mindblow bagi audience. Sekaligus menampilkan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan bagi kita semua. "Kita akan terus mencari dan mencari," A Otep berkata. Pencarian ini menjadi motivasi utama untuk koreografer dan penari untuk terus mencari makna dan menyampaikan ide-ide untuk dipertanyakan kembali. Sungguh, jika kita tidak membaca peristiwa di sekitar kita, hal itu dapat membuat kita merugi menurut ku.

Menuju ISOLA MENARI. Kami akan mulai berlatih lagi dari Senin, 16 November 2015.

Penutup: Fragmen Aktualisasi Diri

"Kegiatan ini berhikmah, kegiatan ini mengubah diriku."

Kenapa aku menyebut ini sebagai fragmen aktulisasi diri?
Karena ini adalah bagian dari perwujudan visi

Terlibat dalam hal ini, artinya aku mengorbankan sepenuh hati, jiwa, dan raga. Termasuk tenaga dan waktu yang aku luangkan, aku memberikan yang terbaik apa yang dapat aku berikan pada koreografi ini. Aku tidak serta merta memilih seorang koreografer untuk aku tarikan karena ini berhubungan dengan konsep nasib yang menjalar dalam nasibku.

Di sisi lain aku memiliki harapan supaya aku dapat mengunjungi Solo. Keraton Solo menjadi hal yang bergairah di sisi lain. Namun, aku harus tetap mengingat A Otep sebagai koreografer sekaligus guru yang mengajari ku untuk saat ini. Terbawa pada motivasi ekstrinsik terlalu jauh akan sangat berbahaya. Maka kerendahan diri akan jadi apresiasi dan impresi yang dapat membantu ku ke depannya.

Sebagai sebuah potongan aktualisasi diri, maka kami dan koreografer akan melangkah pada pemenuhan aktualisasi diri. Hingga pada waktunya, aktualisasi diri ini terpenuhi.

Jika kawan masih bertanya kenapa aku berusaha untuk mewujudkan aktualisasi diri seseorang, silakan tanya pada nasib atau bahkan diri kawan sendiri?
Maka jawaban terbaik akan muncul dalam benak kawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle