Mulat Sarira

Aku menyadari sesuatu. Perasaan sakit hati pagi tadi memang muncul karena ulah ku. Aku pindah dari kamar kontrakan Satriya, kembali ke rumah ku di Cicadas. Itu bermula dari ketidaknyamanan ku, juga dirinya, selama tinggal bersama. Setibanya di rumah, aku memeluk ibuku erat-erat. "Semua tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan," kata ku. Serangan kenangan muncul dan membuat aku tidak tenang selama seharian. 

Sambil merenungi nasib, ibu datang dan mengingatkan, 
"... ada hal yang tidak bisa manusia pertahankan. Yang dapat kau lakukan adalah menerimanya... Hentikanlah drama itu karena itu terjadi karena ulah mu pula... tidak murni karena kesalahannya, dan tidak murni karena kesalahan mu... kalian terlibat... dan untuk mu, anakku, aku selama ini memperhatikan dirimu dan berusaha melindungimu. Aku biarkan dirimu bermain dalam permainan ini hingga aku tahu bahwa lingkaran kerusakan itu selalu terjadi padamu. Maka sadarlah... flashback sudah tidak berguna lagi... impian mu banyak sekali, namun sedihnya, hanya satu per satu yang dapat diwujudkan segera, bukan semuanya... yang lainnya dapat terwujud sedikit demi sedikit... kau kelelahan, wahai anakku... beristirahatlah..."
Aku mendengarnya dengan saksama. Rasa panas di dada membuat jantung terus berdebar kencang. Aku berusaha menerimanya. "Ini memang menyakitkan, tapi ini harus terjadi." Aku menenangkan diri sekali lagi. Berusaha menerima dengan baik apa yang dikatakannya. Pendapat orang lain sangat penting untuk mengetahui apa yang tidak disadari oleh diri.
"... berintrospeksilah..."
-O-
Aku tidak mau terus begini. Aku tidak mau terus terpuruk. Aku tidak mau terus terlibat dalam lingkaran setan kehancuran yang terus berulang-ulang.
Memanggil bait yang dinyanyikan dalam pentas UPADI,
PIRAKU REK RELA, PIRAKU REK TEGA | ALAM NU NGEMPLOH HEJO, | PINARENGAN NGARANGRANGAN, TEU KARIKSA

Masa aku rela membiarkan hidup ku semakin terpuruk?
Masa aku tega membiarkan hidup ku semakin terpuruk?
Kecerdasan dan kelebihan yang aku miliki
Rusak begitu saja, tidak terpakai

Aku tidak dapat lari begitu saja dari kenyataan...
Aku pula teringat bahwa aku memiliki tiga cita-cita yang aku sampaikan ketika kecil,
"Aku ingin menjadi astronot... menjadi ilmuwan... menjadi penari..."
Aku selama ini terjebak dalam keinginan besar untuk menjadi seorang ilmuwan Psikologi Klinis sekaligus menjadi  Penari. Oleh karena itu, aku gila-gilaan belajar psikologi sekaligus mengambil semua peluang untuk berpentas tari dimana-mana. Semua tugas kuliah menjadi terbengkalai, nilai-nilai ku jadi buruk, dan rumah menjadi berantakan. Aku mengalami krisis prioritas dimana banyak orang dirugikan atas tindakan ku.

Semua cita-cita tidak dapat dipenuhi segera. Aku harus memilih satu di antara dua cita-cita besar ku, psikologi atau tari. Psikologi karena itu merupakan bakat ku untuk melakukan konseling dan terapi juga tuntutan akademis; Tari karena itu pun merupakan bakat dan aku memiliki konsep garapan yang dapat memakan waktu cukup panjang termasuk meluangkan diri untuk berlatih dan merenungkannya. Kedua pilihan tersebut merupakan pilihan tersulit.

Aku diterima di jurusan Psikologi setelah ditolak di jurusan Seni Tari. Tidak memaafkan kondisi itu, aku mulai menyerang pernyataan yang menurut ku menyakitkan ketika ujian masuk Seni Tari dengan mengikuti kegiatan tari secara berlebihan. Jika aku menyerahkan pilihan ku pada Tari setelah sejauh ini, aku pikir itu sangat disayangkan sekali. Aku memang berprestasi dengan riwayat pertunjukan Tidak Sekedar Tari dan Mulat Sarira Nagri Parahyangan. Tetapi orang lain tidak akan menghargai aku karena latar belakang pendidikan ku yang Psikologi. Lagi pula untuk mengembangkan Psikologi Tari (yang ingin aku kembangkan setelah memahami Psikologi Klinis) diperlukan kemampuan psikologi yang memadai.

Jadi untuk itu, hal pertama yang aku lakukan adalah untuk menanggalkan banyak cita-cita menjadi satu cita-cita utama sementara cita-cita lainnya diwujudkan dalam langkah-langkah kecil. Dan karena itu, aku memutuskan untuk melanjutkan di bidang Psikologi. Meninggalkan menari sebagai kegiatan utama memang sulit. Itu bukan berarti aku tidak bisa menari lagi. Aku masih bisa menari ketika aku benar-benar luang waktu.

Masalah berikutnya melibatkan emosi marah dan jijik berulang. Itu disebabkan oleh peristiwa cemburu dan munculnya keinginan untuk melakukan agresi terhadap seseorang yang menyebabkan itu.

Mengingat semalam, aku menonton video dokumentasi Nuart Sculpture Park. Termasuk pertunjukan yang aku terlibat di dalamnya, Mulat Sarira Nagri Parahyangan. Aku mengingat kembali pesan yang disampaikan Pak Nyoman. Katanya, kita harus melihat diri untuk mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Rupa kita sebenarnya adalah entitas yang merepresentasikan perilaku kita. Itu bisa berupa dewa-dewi, bahkan tokoh yang tidak nyata sekali pun.


Entitas yang mewakili diri ku adalah kesombongan dan keangkuhan. Ketika orang lain nampak melebihi kemampuan ku dalam melakukan sesuatu, aku mulai naik pitam dan marah. Muncul keinginan-keinginan untuk mencelakai orang-orang yang seperti itu. Keinginan seperti itu jelas tidak akan menyelesaikan masalah melainkan menambah ketegangan di antara orang-orang yang terlibat dalam hidup. Menimbulkan konflik dan adu domba.

Sayangnya, itu semua disebabkan oleh diriku. Bahkan tidak ada masalah dari orang lain. Akulah yang menyebabkan perselisihan itu. Perselisihan itu adalah refleksi dari proses batin yang berselisihan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Untuk itu aku dapat melakukan Mulat Sarira sebagai langkah kedua.

Disebutkan dalam Tri Dharma (Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi), salah satunya adalah "Mulat Sarira Hangrasa Wani" yang dijabarkan satu per satu sebagai berikut (didapat dari http://kivandanu.blogspot.co.id/2014/07/tri-darma-mulat-sarira-hangrasa-wani.html):
Mulat berarti melihat diri sendiri. | Sarira berarti badan, tubuh.   | Hangrasa berarti merasa sedang | Wani artinya adalah berani. | Untuk memahami arti kata-kata tersebut, harus dibaca dari belakang, yaitu : berani merasa, melihat diri sendiri.Makna yang terkandung didalam kata-kata tersebut adalah seorang pemimpin harus bersedia secara terbuka untuk melihat kesalahan yang terjadi dalam dirinya.
Bli Putu Prasasta pun berkata dalam blognya bahwa terkadang dalam hidup tidak semua sesuai dengan harapan kita, ada saat kita bisa tertawa karena senang, mengerutkan dahi meratapi kesedihan, atau bahkan menangis karena bahagia. 

Mulat sarira merupakan sebuah ajakan bagi seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan latar belakang agama, status sosial, ras, ideologi politik dan ekonomi untuk “kembali ke akarnya dan menemukan dirimu.” Ketika hal ini kita sadari, banyak sekali rasanya kita melewatkan setiap detik yang berharga untuk sebuah introspeksi diri.


Mencari jati diri, dan mengenal diri sendiri merupakan pengembangan konsep mulat sarira. Anand Khrisna menyebutkan adanya dua aspek bagi mulat sarira. Pertama ialah menemukan diri, dan kedua ialah apa yang hendak Anda lakukan terhadapnya.
Kenali dirimu sebelum engkau mengenali orang lain, karena ketika kita mengenali diri kita, kita akan senantiasa untuk melihat kelebihan dan kekurangan, yang justru merupakan langkah awak bagi kita untuk berbenah.
daun yang jatuh tak pernah membenci angin. -Tere Liye
Apa sulitnya untuk membiarkan sesuatu terjadi dan berlalu? Aku tertawa. Marah boleh muncul, cemburu pun boleh. Tetapi setelah itu, kita harus melanjutkan perjalanan hidup kita. Membiarkan diri meratapi kecemburuan itu artinya membiarkan diri untuk tetap terjebak dalam satu kurun waktu. Kejadian ini terjadi karena ada sesuatu yang belum aku pahami dari diri ku sendiri sehingga aku tersesat dalam peristiwa itu dan tidak bisa keluar. Diri sebaiknya ditemukan terlebih dahulu. Aku tidak dapat melangkah lebih jauh lagi karena aku belum menemukan diriku sendiri. Siapa aku? Apa yang aku lakukan? Akan jadi siapakah aku? Untuk itu aku malah masih bertanya-tanya.

Aku berusaha mengembalikan diri ku pada akarnya. Itu adalah hal esensial dari diri ku. Supaya aku dapat berbenah untuk menghadapi masalah dalam diri, aku temukan diriku. Aku mencari, berusaha, dan berupaya sebagai langkah utamanya. 

Aku tidak tahu siapakah sebenarnya diriku. Aku pun tidak tahu akan jadi apa setelah aku mengetahui diriku sebenarnya. Dari situ aku tahu, nantinya aku harus menerima itu untuk melakukan pembenahan diri. Meskipun itu menyakitkan, aku siap untuk itu. Aku mampu melewatinya karena itulah aku siap.

Aku ikhlas dan pasrah...

Meresap pupuh ginada,
eda ngaden awak bisa,| depang anake ngadanin,| geginane buka nyampat,| anak sai tumbuh luhu,| ilang luhu buke katah,| yadin ririh, liu enu pelajahin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle