Langsung ke konten utama

World Dance Day 3 by LOKRA: Aftermath

Penyalaan Lilin Rd. Tjetje Somantri oleh Penari Sulintang dari Komunitas Wirahma. Sebuah tribute pada perayaan Hari Tari Dunia: World Dance Day 3 oleh Kelompok Anak Rakyat (LOKRA) di Gedung Indonesia Menggugat - Sabtu, 30 April 2016. Foto didapat dari Facebook Yosep Yogi.
Penari-penari Sulintang membawakan lilin. Berjalan ke susunan lilin, menyalakan lilin satu-per-satu. Alunan tari Sulintang yang sebelumnya ditarikan membawa suasana nyata yang menghanyutkan diri. Saya sebagai apresiator cukup terharu dan termenung atas ini. Penonton yang lainnya ikut menyalakan lilin dalam perayaan ini.
Penari Sulintang. Foto didapat dari Facebook Yosep Yogi

Ikut Ambil Bagian

Atas ajakan dari sahabatku, Satriya Adhiyasa, aku mengikuti pentas pertunjukan malam pertama, Jumat 29 April 2016. Garapan The Colours ditarikan oleh aku, Satriya, dan Zakbar. Penampilan ini dibuat dalam waktu sangat singkat, H-6 jam! Meskipun begitu, aku gembira sekali untuk pentas bersama sahabatku. Aku menampilkan ekspresi-ekspresi yang ngenes nyeleneh. Lucunya, aku baru menyadari bahwa garapan ini sedikit menceritakan kehidupan saya dan Satriya di kontrakan. Kami sangat ingin mencuci, tapi hari hujan. Makna aslinya? Nontonlah, nanti kamu tahu apa yang disampaikan mas Koreografer Satriya.
... tutuplah kemaluanmu! -Satriya Adhiyasa dalam sinopsis The Colours.
Penyebaran Brosur dan Sosialisasi Hari Tari Dunia bersama Rumah Belajar Mapusta Jabar. Foto didapat dari Facebook A Gatot.
Hari kedua, Sabtu 30 April 2016. Rumah Belajar Mapusta Jabar ikut merayakan Hari Tari Dunia. Penari anak dan dewasa menarikan garapan masing-masing. Kegiatan ini ditutup dengan menari diiringi musik "Heal the World." Kawan-kawan membawa bendera dan menari bersama. Menyenangkan sekali!
Saya menari!!  Foto didapat dari Facebook A Gatot.  
Setelah menari, kami menyebarkan selebaran Hari Tari Dunia di sepanjang jalan hingga jalan Asia Afrika. Respon publik cukup baik. Nampaknya, masyarakat uninformed mengenai perayaan ini.

Renungan Peristiwa

Aku tuliskan dengan catatan penuh insights
Aku mengikuti peristiwa ini sejak pembukaan.
Perjalanan melalui layanan Go-Jek menuju Gedung Indonesia Menggugat dan tiba dalam keadaan basah kuyup. Di sini tidak hujan, jadi aku terlihat menjadi satu-satunya orang yang kebasahan. Pertunjukan tari dari kawan-kawan dari sanggar tari jaipong dan SLB menggugah diriku. Semua orang dengan latar belakang yang berbeda dan kondisi yang berbeda dibebaskan menari pada peristiwa ini.
Everyone has the rights to dance...
Tepuk tangan terdengar setelah pentas. Aku melihat di sekitar ku, penonton di sini terbatas pada pihak yang akan pentas pada saat itu. Dari SLB: ada guru dan kawan-kawan dari SLB sementara dari Sanggar tari: ada guru tari, teman-teman, dan orang tuanya. Saya tidak menemukan orang selain saya yang menonton pertunjukan ini secara penuh, maksud ku, orang yang datang kemari hanya datang atas ajakan significant others.
Dimanakah kesadaran budaya? Adakah yang benar-benar peduli?
Lebih memahami tari, aku teringat akan penelitian ku mengenai tari Jaipong. Di akhir segmen ini. aku menyaksikan tari jaipong dan baru saja menyadari bahwa esensi utama dari Jaipong adalah pemahaman yang lebih dalam untuk hidup.
Apa yang harus dilakukan dalam kehidupan. Sebenarnya, yang membuat orang pusing ketika menonton tari Jaipong bukanlah penarinya, melainkan ilusi gaya yang menyampaikan esensi. Tidak semua orang mampu memahami itu dengan baik...

Malamnya...

Aku kembali ke Gedung Indonesia Menggugat setelah berganti pakaian di kamar kos. Satriya memesankan aku Go-Jek. Setibanya di sana, aku memasuki Gedung. Menemui Satriya dan memakai kostum pentas. "Hanya kain dan celana dalam, cukup," Satriya mengingatkan aku. Stagen aku ambil dari kantong ku, aku ikatkan pada kain. Satriya dan Zakbar telah siap dengan tiang jemuran. Dan bertarunglah kami di pentas...
Setelah pentas, aku menonton pertunjukan-pertunjukan dari performer lain. Aku menemukan pola seperti Konflik Batin dan Krisis Kepercayaan menjadi tema umum dari garapan-garapan yang ditampilkan, ini untuk aku simpan sebagai insight.
Penari pun menghadapi isu mainstream ketika suatu pola tertentu dipentaskan berulang-ulang dengan taste yang berbeda.

Esoknya

Aku tampil bersama Rumah Belajar Mapusta Jabar. Bu Anti, ibu-ibu Mapusta, dan kawan-kawan BESMA Universitas Al-Ghifari ikut membantu. Kami menari bersama setelah semua pertunjukan dari kami selesai. Kegiatan dilanjutkan dengan menyebarkan selebaran hari tari dunia di sepanjang jalan.
Nampaknya seni terpisah dari masyarakat...

Malam pangkat 2

Penutupan. kisahnya sudah aku sebutkan di awal. Aku menonton pertunjukan unik dari Shocking Rajah. Penarinya meniup balon dengan asap rokok...
Orang datang hanya untuk sertifikat. Aku datang untuk menyaksikan peristiwa. Tari Sulintang sangat indah, namun sadarkah orang akan itu?
Nampaknya komunikasi antar seniman belum terjalin dengan baik. Antar genre tari masih ada kesenjangan... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…