MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]




PERGULATAN MULA

 Proyek koreografi ini mulai muncul sebagai insight pada Jumat, 3 Juni 2016 di rumah ku, dengan tajuk "Without Love It Cannot Be Seen". Berangkat dari konsep mengenai menerima apa adanya dengan mencintai. Aku mencoba menerapkannya untuk melihat sebuah kota dimana kenangan buruk masa sekolahku terjadi, Kabupaten Garut telah menjadi saksi atas tumbuh kembangnya diriku. Aku tinggal di Garut selama 8 tahun, 2006 - 2014. Saat itu aku menginjak kelas 4 SD. Bersekolah di SDN REGOL XIII. Tepat di Jalan Kiansantang, di seberangnya terdapat bangunan pendopo. Aku seringkali melewati Alun-alun Garut sambil menunggu ibu menjemputku. Oleh karena itu, awalnya aku memilih untuk menyorot alun-alun Garut dengan ibu-ibu, pemuda, dan paskibra sebagai pelaku pertunjukannya.

Keesokan harinya, insight lain muncul. Aku teringat keadaan Masjid Agung Garut ketika aku kunjungi beberapa bulan lalu. Bagian teras dalam Masjid Agung Garut dipagari dan di sisi muka terkunci, masyarakat masuk melalui gerbang samping. Aku menjadi bertanya-tanya, kenapa bagian teras Masjid Agung Garut dipagari? Nilai apa yang mewakili kota Garut? Bagaimana kehidupan orang Garut tempo dulu? Ini adalah sebuah embrio. Tidak ditampilkan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, diperlukan riset untuk membentuk konsep yang jelas.

Secara fenomenologi, masjid berfungsi sebagai pengumpul energi dari masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Jika bagian dalam masjid ditutupi maka pengumpulan energi menjadi terhambat. Bahkan terjadi "angin nu tijalikeuh" karena angin terhalang oleh pagar besi di dalam masjid.


EMBRIO

Lita Arofu mengundangku menjadi pengisi acara di kegiatan Sa'alam Ramadhan XVI pada hari Senin, 6 Juni 2016. Aku menyebut kegiatan ini sebagai Public Stage. Ini berlangsung dari 20 Juni 2016 - 26 Juni 2016. Aku meminta tolong padanya untuk mencari penari untuk garapan ku.

Dalam catatan ku, aku membuat tiga ide garapan.


Ide 1: Paskibra + sepasang pemuda-pemudi

Mengenai Masjid Agung Garut. Kenapa teras masjid Agung Garut dipagari?

Ide ini aku pertahankan. Aku segera menghubungi pelatih Paskibra Kabupaten Garut. Dari 6 pelatih yang aku hubungi, Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersedia ikut serta dengan antusias. Aku sangat bersyukur.


Ide 2: Ibu-ibu + Penari

Aspirasi ibu-ibu warga Garut terkait ramadhan dan anak-anak.

Ide ini aku batalkan karena kesulitan teknis. Mengumpulkan ibu-ibu ternyata tidak semudah yang aku kira. Namun ide ini menjadi komplementer ide 1.


Ide 3: Adik kakak, Reikha dan Devan

Bagaimana anak menemukan secercah harapan di balik gelombang pengaruh luar yang begitu kuat.

Ide ini dibatalkan karena dibutuhkan self-efficacy yang memadai untuk melibatkan kedua sepupuku dalam permainan drama.


MEMULAI

Aku menganggap proyek ini sebagai ujian dan ziarah hati. Waktu itu aku baru saja pulih dari keadaan psikosis yang membuat aku depresi berat. Awalnya aku tidak punya harapan untuk hidup, apalagi untuk menari. Aku merasa aku tidak punya apa-apa untuk ditampilkan. Sejak 3 Juni 2016 hingga seminggu berikutnya, aku bergulat dengan diri, konsep, dan garapan. Berusaha mengalihkan perhatian depresif kepada konsep garapan. Aku ingin melihat dengan cinta dan menerima apa adanya garapanku. Melihat Masjid Agung Garut sebagaimana aku mencintainya dan mengunjunginya setiap hari.

Aku berpengalaman menjadi koreografer sejak aku pertama kali menari. Aku menyusun dan menciptakan tarianku sendiri. Setelah beberapa lama bergaul dengan teman-teman yang kuliah Seni Tari, perasaan inferiorku muncul. Aku berpikir aku tidak pantas untuk membuat koreografi. Aku seringkali diabaikan ketika ide gerakan muncul dariku. Terkungkung dan dicap "hanya penari" itu cukup menyakitkan bagiku. Lagipula semua pemikiran itu adalah self-generated. Itu semua muncul dari diriku sendiri, membentuk bayangan yang harus aku lawan. Berusaha memupuk rasa percaya diri dan self-efficacy bahwa aku bisa membuat suatu karya.

Inspirasi dari UPADI dan Mulat Sarira mengalir dalam konsep ini sebagai landasan pemikiran. Proses pencarian manusia tidak akan pernah selesai. Jika kita mengalami fenomena penting dalam masyarakat, kita dapat mengubahnya menjadi suatu karya.

"Resapilah fenomena sosial sebanyak mungkin untuk mampu menjelaskan kembali fenomena dan pandangan melalui karya mu," pesan om Kenan.

Riset untuk garapan ini dilakukan secara sederhana. Referensi didapat melalui pengalaman, literatur, berita, studi lapangan di Alun-alun Garut dan Masjid Agung Garut, juga kontemplasi mendalam. Riset dilakukan berdasarkan prinsip UPADI yang disampaikan oleh guru sekaligus sahabatku, Yosep Yogi Anjaeni. Aku mencari sebanyak mungkin kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang sedikit disadari masyarakat Garut. Berusaha mengumpulkan dan menyusun materi garapan yang kaya. Berupaya menyampaikan ide dengan sepenuh hati.


KOREOGRAFI

Koreografi final terdiri dari 15 fase yang ditampilkan oleh PASHEMAN Paskibra SMKN 2 Garut dan Penari Komunitas Teater Tari Garut. Jumlah performer adalah 20 orang: 13 orang pasukan Paskibra, 4 orang penari, sepasang aktor-aktris dan seorang penari sufi. Saya sendiri berperan sebagai koreografer dan pengisi musik didukung oleh Indra Lesmana, pelatih Paskibra SMKN 2 Garut, sebagai asisten koreografer dan Devan Nouvaldy sebagai crew.  Proses latihan dilaksanakan di SMKN 2 Garut, Bale Paminton, dan Sanggar Senam Reisy pada 13 Juni 2016 - 26 Juni 2016.
Judul:


MASIGIT

Sinopsis:

wangunan mulih ka gusti tina puseur jagad nagri
Masigit dalam bahasa Sunda berarti Masjid. Sederhananya, aku merujuk ini untuk mengembalikan istilah awal masjid yang digunakan masyarakat sunda tempo dulu.

Wangunan mulih ka gusti tina puseur jagad nagri berarti Bangunan kembali kepada "gusti" dari pusat jagad negeri (kota).  Bangunan pada suatu kota menunjukan keadaan masyarakat di kota tersebut. Di sini saya menekankan bahwa kata gusti ini merujuk pada dua hal, yaitu kepada Tuhan yang Maha Esa, dan diri sendiri. Dari diri terkumpul menjadi kumpulan diri kolektif yang menjadi milik kebanyakan orang. Bangunan dimiliki masyarakat sebagai simbol. Simbol yang dijunjung masyarakat sekaligus simbol yang menunjukan keadaan masyarakatnya. Dari diri pula kita dapat menemukan Tuhan, Gusti Nu Maha Agung.


15 FASE KOREOGRAFI MASIGIT

Fase 1: Pembukaan 

"Salam hangat dari kami!"

Pasukan Paskibra menyampaikan penghormatan terbaik mereka kepada penonton. Saya memberikan ruang bagi mereka untuk bersalaman dan berkenalan. Diawali kerapian, lalu dilanjutkan dengan salam hangat, mewakili seluruh performer yang terlibat dalam kolaborasi ini.


Fase 2: Patanjala

Patanjala
Mengambil intisari patanjala, sebuah aliran kehidupan yang memulai terciptanya jagad negeri. Sebuah proses pembentukan kosmos. Komponen-komponen kosmos mengelilingi gusti. Lima langkah dalam fase ini menandakan perjalanan pembentukan kosmos berdasarkan lima urutan nada, yang A Otep (Yosep Yogi Anjaeni) sebut sebagai proses pembentukan dunia.


Fase 3: Papat Ka Lima Pancer

Papat ka lima pancer
Empat komponen kehidupan berkumpul membentuk formasi papat ka lima pancer. Terdiri dari empat posisi arah mata angin dan bangunannya (saya sebutkan sesuai urutan sejarah pembangunannya):

Selatan: Pendopo
Utara: Kantor Asisten Karesidenan (sekarang Koordinator Pembangunan Wilayah Kabupaten Garut)
Barat: Masjid Agung Garut
Timur: Rutan Garut
Pusat: Alun-alun Garut

Komandan pasukan sebagai Ratu Inten Dewata (Bupati Garut) berada di depan pasukan selatan, mengarah ke utara, seperti di dalam babancong. Musik rajah dimainkan untuk membuka pertunjukan, mengumpulkan energi sekitar untuk mentransformasikan fenomena ke dalam gerak. Setelah musik rajah berhenti, komandan melakukan gerakan da-mi-na-ti-la (diambil dari konsep UPADI oleh A Otep yang menggambarkan proses kehidupan), diikuti oleh pasukan secara berurutan sebagai berikut:

1. Komandan gerak 1 ~da
2. Pasukan Selatan gerak 1 ~

"Dampal suku nu mimiti mere hirup".
Pemerintahan baru bisa berjalan setelah ada bangunan yang bertindak sebagai pusat pemerintahan.

3. Komandan gerak 2 ~mi
4. Pasukan Utara gerak 2 ~mi
Pembangunan dan pergerakan oleh kantor asisten karesidenan.

5. Komandan gerak 3 ~na
6. Pasukan Barat gerak 3 ~na

Masjid yang memberikan nafas dan kehidupan. Mengumpulkan energi dari lingkungan sekitarnya lalu mengembalikannya pada masyarakat.

7. Komandan gerak 4 ~ti
8. Pasukan Timur gerak 4 ~ti

Dalam hidup kita harus merasakan sakit. Tidak sakit, maka tidak hidup. Yang membuat kita sadar.

9. Komandan gerak 5 ~la
10. Seluruh pasukan gerak 5 ~la
Lalangit, kembali kepada Sang Pencipta. Kembali ke pusat kehidupan.

11. Komandan gerak silat
12. Komandan gerak pembangunan dan pergerakan diikuti pasukan

Pesan terakhir yang menjadi visi dan misi pembangunan dan perkembangan negeri Inten Dewata. Disampaikan melalui gerakan silat yang menunjukan bahwa kota Garut dikenal sebagai kota Jawara. Bersilat dan menunjukan kemampuannya.

Pesan-pesan yang disampaikan dari gerakan silat dilakukan oleh komandan dengan pergerakan. Menunjukan bahwa masyarakat akan dibawa kepada visi dan misi beserta tujuan yang telah ditentukan oleh Ratu Inten Dewata. Meskipun kita tidak tahu seperti apa jadinya kota Garut yang didambakan oleh Ratu Inten Dewata, semangat juang ini diturunkan dari generasi ke generasi. Diikuti oleh bangunan-bangunan yang menjadi saksi pergerakan nagri.


Fase 4: Palastrana Ratu Inten Dewata

Tidak selamanya manusia hidup. Perjuangan harus diteruskan oleh generasi berikutnya. Ratu Inten Dewata menghadapi kematiannya. Meskipun telah tiada, nilai luhur masih dipegang oleh penerus-penerusnya. Ini berakibat pada perubahan paradigma (paradigm shift) yang membuat sudut pandang orang berubah terhadap puseur jagad nagri. Namun posisi bangunannya tidak pernah berubah.


Fase 5: Wangun Masigit

Pasukan mengikuti langkah Ratu Inten Dewata. Menandakan bahwa masigit berfungsi sebagai pusat energi. Energi dari sekitar puseur jagad nagri diserap oleh masigit dan dikembalikan pada masyarakat dan bangunan oleh masigit. Masigit memberikan spirit nafas yang memberi kehidupan pada bangunan dan masyarakat di sekitarnya.


Fase 6: Masyarakat di Puseur Jagad Nagri

Empat penari Masigit

Merupakan masyarakat pada alur waktu pertama. Puseur Jagad Nagri selesai dibangun. Pada awal dibukanya oleh bupati, masyarakat dapat mengunjungi puseur jagad nagri dan merasakan keindahan dari puseur jagad nagri. Bersyukur memandang nagri yang baru. Masyarakat memupuk harapan dan perjuangan pada negerinya.


Fase 7: Mulih Ka Gusti

Penari Sufi
Ketika panggilan Gusti dikumandangkan. Suara adzan menyusupi setiap celah-celah bangunan dan memanggil masyarakat untuk kembali menghadap pada Gusti Nu Maha Agung.


Fase 8: Masigit Urang

Masyarakat bersatu bersama bangunan masigit. Mengembalikan dan memulihkan energi.


Fase 9: Subhanallah, Megahna Gusti Ngaji di Masigit

Energi yang terkumpul membuat sebuah nagri menjadi megah. Itu dapat dirasakan dari bangunan masigit yang sederhana. Kekuatan dan semangat masyarakat menjadi milik bangunan juga. Bangunan melalui banyak perubahan untuk menjadi lebih baik. Salah satunya atap nyungcung berubah menjadi kubah serta pembangunan dan renovasi. Masyarakat menjadi semakin baik dari masa ke masa.


Fase 10: Garut Bangkit Garut Berprestasi

Menggambarkan masyarakat pada alur waktu kedua. Di era Garut Bangkit Garut Berprestasi. Banyak orang berpengaruh bangkit dan mewujudkan Garut Kota Intan. Prestasi di segala bidang, di lintas generasi.


Fase 11: Masyarakat Garut Kiwari

Menggambarkan masyarakat pada alur waktu ketiga, kini dan nanti. Untuk mewujudkan kembali "GARUT Bangkit Garut Berprestasi", masyarakat menghalalkan segala cara untuk meraihnya kembali. Masyarakat mulai tergulung dari berbagai pengaruh dari luar dan dalam, kehilangan identitas seni dan budaya, bahkan kehilangan tujuan hidup. Ini membuat mereka "kagugulung ku nafsu" untuk mencari rasa aman. Aktualisasi diri terhambat dan berakhir menjadi boneka yang tidak berdaya layaknya zombie.


Fase 12: Surak Ronggeng

Masyarakat Garut mengalami transisi pemahaman mengenai pemimpin setelah adanya kasus yang menimpa bupati mereka. Orang-orang pemerintahan yang kuat melakukan unjuk kabisa. Pada peristiwa pertama ditunjukan dua pejabat yang berusaha bekerjasama dengan cara yang tidak sehat. Peristiwa kedua, ada juga pejabat yang baik yang berusaha melakukan perbaikan dengan gaya silat, dan ponggawanya. Dan yang ketiga, seorang pemimpin sejati yang akan datang dan memberikan semangat juang baru. Entah kapan datangnya, entah seperti apa pribadinya. Bisa jadi bupati yang sekarang, bisa jadi bupati yang akan datang, atau bahkan bukan siapa-siapa. Nantinya ia akan menunjukan dan mengembalikan masyarakat pada tujuan utama mereka. Selama unjuk kabisa, masyarakat bergerak layaknya ronggeng tetapi melakukan gerakan silat pula. Merasa tidak berdaya atau tidak peduli. Memang masih dirasa selera dan getaran gairahnya. Pada hakikat Surak Ibra, orang-orang di sekitarnya melakukan gerakan pencak silat sambil memutari jawaranya. Tidak diketahui apa yang terjadi berikutnya setelah peristiwa ketiga. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh masyarakat? Apa masyarakat berguna bagi nagri Inten Dewata? Kenapa seperti ada yang ditutup-tutupi? Apa masyarakat akan  mulai bersilat atau tetap menari ronggeng?


Fase 13: ??? (penutup)

Semua fenomena tersebut secara tidak langsung mengkristal, memberi tanda, pada setiap bangunan termasuk Masigit. Mojang jajaka masuk sebagai ikon pariwisata lalu menghilang setelah "masa tugas" mereka selesai. Terdengar perbincangan masyarakat mengenai mereka dibalik penampilan dan pengetahuan mereka. Suara itu seakan mengganggu dan mewujudkan penutupan diri. Mereka berteriak, namun tidak bergerak. Hanya terdengar suaranya, berdiri manis, menarik, dan menawan.

Gong adalah pusat kesadaran. "Ketika tukang gong berontak maka kesadaran terganggu." Tukang gong berusaha menghentikan semua suara yang menggganggu. Keadaan nagri jadi tersadarkan dan mematung, memberikan ruang bagi kita untuk memikirkan sejenak. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Nagri Inten Dewata?


Fase 14: Pidato

Sebenarnya fase ini saya gunakan untuk menyampaikan maksud dari ketigabelas fase yang saya jelaskan sebelumnya. Namun untuk mempersingkat waktu, saya hanya menyampaikan intinya saja. Sederhananya meminta masyarakat Garut untuk melihat kembali pada apa yang terjadi pada Nagri Inten Dewata. Karena menurut hemat saya, jika orang memperhatikan dan berusaha memahami maka mereka akan memahami apa yang mereka lihat. Saya tidak mengharapkan demikian, namun mengembalikan pada diri penonton apakah yang ingin mereka lihat dari garapan saya. Maka lihat dan ambillah. Suatu kehormatan untuk melihat Anda sebagai apresiator.


Fase 15: Salam Penutup

Setelah pidato selesai, semua performer berkumpul di atas panggung. Komandan kembali bersama pasukan. Kami bersama-sama menyampaikan penghormatan terbaik kami pada apresiator, penonton yang mulia. Garapan ini jauh dari sempurna. Maka sebab itu kami mencari, berusaha, dan berupaya untuk menyampaikan apa yang kami rasakan mengenai kota Garut untuk kebaikan bersama.


AFTERMATH

Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Lita Arofu yang telah mengundangku untuk mengisi acara sebagai Koreografer pada kegiatan Sa'alam Ramadhan XVI. Kegiatan ini menjadi sarana ujian dan ziarah hati. Aku mulai memahami lebih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi selama aku tinggal di Garut. Menjadi lebih tenang dan menerima.

Kedua khusus untuk HISDRAGA selaku penyelenggara kegiatan Sa'alam Ramadhan XVI. Pertunjukan ini tidak akan ada tanpa kehadiran kegiatan Public Stage ini.

Karya ini merupakan garapan kedua pada tahun 2016 setelah pertunjukan Kesadaran Wanita: Beritahu Aku Rasanya Punya Rahim

Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas persahabatan dari teman-teman Penari Komunitas Teater Tari Garut dan Paskibra SMKN 2 GARUT dalam karya Masigit. Mudah-mudahan karya ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berprestasi. Masigit Jaya!
Tim Masigit


Koreografer:

Kaladian Raharja

Asisten Koreografer:

Indra Lesmana

Crew:

Devan Nouvaldy

Paskibra SMKN 2 GARUT:

Adrian Kevin

Kristiadi Ginanjar
Agus Jaelani
Muhammad Sahrul
Rido Murthado
Rafdi Syukma M
Panji Eka Wijaya
Fajar Herdian
Wildan Koswara
Abdul Rimang Pahlawan
Gesti Adhi Pradina
Ryhman Aji
Dandi F A
Penari Komunitas Teater Tari Garut:
Ajeng Siti Zakiah
Ersila Fuji Anggitha
Lita Arofu
Rina Cahyani
Penari Sufi:
Sani Paujiah
Aktor:
Fuad Sahlul Hilmi
Larassati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle