Langsung ke konten utama

Penyucian Diri

Ketika datang saatnya untuk memahami diri, aku menemukan banyak sekali kekurangan dan kesalahan. Aku mengalami banyak tantangan sejauh ini. Tantangan yang berhasil membuat aku paham pada apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Itu membuat aku kuat sekaligus menjadi tidak menyadari apa yang direpresi oleh diri selama ini.
Hal yang dipendam manusia tidak hilang begitu saja. Ia direproduksi ulang pada setiap kesempatan untuk muncul. Setiap ide dibuat berdasarkan beban hidup. Ide tersebut membuat beban lain terakumulasi terus menerus. Jika seseorang belum memahami proses jiwanya maka ia akan terjebak dalam fasad yang sangat berusaha melindungi dirinya. Menjebak dirinya menjadi buta akan realitas.
Kebenarannya adalah kenyataan menyakiti tubuh subjek. Tubuh berusaha menghindari kenyataan. Itu terjadi sejak awal-awal kehidupan. Kebenaran baginya menjadi menyakitkan. Tetapi kebenaran membuka celah abyss dan chaos yang membuat orang memahami semesta dan TuhanNya.
Realisasi diri terus berlanjut. Aku berusaha dan berupaya untuk menjadi kepada akar. Akar yang sejati, akar yang merupakan permulaan dari pertumbuhan. Itu adalah hal esensial untuk menumbuhkan kembali semangat jiwa.
Aku memilih jalan penyucian diri. Menghindari segala kepalsuan dan riya. Menghindari kontak yang tidak perlu. Menghindari gejolak negatif yang mencelakakan jiwa. Menjadi diri, untuk kembali pada diri. Memasrahkan diri kepadaNya. Meski sepi dan luka ada, aku tetap bangkit. Melakukan UPADI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…