Langsung ke konten utama

Mengingat "Kesadaran Wanita": Percayalah pada Panggilanmu


Untuk mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, klik di sini.

Aku terbangun. Tubuhku masih terasa sakit. Lumpur berlumuran di sekujur tubuh. Lalu aku melihat Lita dan Ilham saling menatap. "Aku wanita," kata Lita. Ilham menggangguk sementara aku terus melihat ke arah Lita. Tak percaya, apa yang terjadi padanya?

Penonton terpaku, tegang. Ini membuat ku merinding. Selesai sudah, aku menyalami penonton. Lalu berjalan ke balik panggung. "Terima kasih Lita dan Ilham, kalian melakukan yang terbaik." "Penontonnya merinding," Lita berkata pada ku. Suara pemandu acara terdengar bergetar dan merinding. Aku berjalan menuju masjid untuk berbilas dan mengganti pakaian. Sekembalinya ke tempat kegiatan acara Milangkala ka-2 Teater Jalarea UNIGA, om Kenan menamparku beberapa kali. "Hebat!" Pujinya. Aku tertegun cukup lama. Ini adalah karya pertama ku. Aku merasa ini melampaui apa yang aku kira.

Ilham, Aku, Lita
Aku tak menyangka akan menampilkan suatu karya yang seperti itu. Yang aku pikirkan waktu itu hanyalah perkataan-perkataan Mbak Mata tentang wanita, juga perasaan kesal ku ketika melihat para lesbian berkencan di Pantai Santolo Garut. Lita kebetulan sedang melatih Ilham membaca puisi. Aku ajak mereka berdua berlatih. "Eh iya Ka, besok ada pentas di acara Milangkala Teater Jalarea UNIGA. Kamu bisa datang?" Tanya Lita. Aku awalnya berencana untuk pulang keesokan harinya. Tetapi, baiklah. Aku akan datang.

---


"Wanita itu lemah," Lita berpendapat. Ilham memperhatikan. Aku mencoba mengolah apa yang dipikirkan masing-masing dari kita mengenai wanita. Aku coba jelaskan kembali dengan perumpamaan sederhana seperti ini,
Pada suatu hari, ada seorang laki-laki yang jatuh hati pada seorang perempuan buci lesbian. Ia menyamar menjadi perempuan untuk mendekati perempuan buci itu. Perempuan buci itu selanjutnya jatuh hati juga pada si laki-laki. Mereka semakin dekat saja. Hingga pada saatnya, laki-laki itu mengakui yang sebenarnya. Perempuan buci tidak percaya pada apa yang terjadi padanya. Ia akhirnya terlanjur sangat mencintai seorang laki-laki.
"Di situlah," kataku. "Ilham memerankan laki-laki, Lita memerankan perempuan buci, dan aku memerankan sosok Animus dari perempuan buci," aku menentukan peran semua orang.

"Wanita selama ini berpura-pura kuat untuk menjadi seperti laki-laki," Lita menambahkan.

"Apa yang membedakan perempuan dengan laki-laki adalah rahim," pesan Mbak Mata kembali terngiang.

"Aku berusaha memahami bagaimana rasanya punya rahim," aku berkata. "Perempuan, bagaimana pun juga, pada hakikatnya akan melahirkan. Palingan, laki-laki merasakannya seperti mencret-mencret." Itulah penjelasan ku untuk memotivasi Lita dan Ilham.

Dan begitulah, proses sederhana yang dilalui selama semalam. Lita, Aku, dan Ilham mengeksplorasi tubuh untuk menari. Ini pun kali pertama bagi Lita dan Ilham untuk pentas tari kontemporer. Mereka menunjukan flow dengan cepat, mengalir.

Panggilan?

Membuat karya dapat dilakukan pada situasi apapun. Namun, aku menemukan hal lain, ini merupakan panggilan. Pikiran tentang wanita, perempuan, kewanitaan, keperempuanan, keputrian, dan lainnya muncul terngiang begitu saja. Ku pikirkan berulang-ulang sampai aku lelah. Ditambah pemandangan lesbian yang membuat pikiran ku keruh hingga aku bertemu Lita. Mereka tumpah begitu saja. Secara tidak sadar aku jadi ngebet bikin karya dan karya itu mengenai wanita. Jika mundur ke belakang, aku pernah mengalami masa kecil yang androgyny. Aku berperan sebagai laki-laki sekaligus perempuan, berpakaian netral gender, berambut panjang. Proses perjalanan hidupku telah membawa ku. Terlepas isu seksualitas yang aku hadapi, aku berusaha menampilkan fenomena yang aku tangkap. Memang jika karya dari orang-orang yang sebelumnya aku ikuti belum ditemukan sesuatu yang keluar seperti ini. Ekspresi dan ideku tersampaikan dan yang terpenting, penonton memahami itu. Panggilan yang seperti itulah yang membuat hidup semakin kaya. Aku merasakan kelegaan dan ketenangan setelah pentas.

Namun panggilan itu tidak selesai sampai di situ. Panggilan lainnya datang menghampiri.

Berhubungan dengan Panggilan

Kehidupan memunculkan panggilan; itu adalah suatu tuntutan pada setiap individu yang hidup, Kebanyakan orang tidak merasakan panggilan ini. Ini terjadi jika kamu menyadari ilusi dirimu sendiri dan secara bersamaan menyadari kebenaran dari diri sendiri, dan kehidupan. Akibatnya kamu akan memahami setiap peristiwa yang didatangkan oleh panggilan hidupmu.

Jika kebangkitan diri memerlukan kerusakan sementara, kerusakan itu akan menjadi dasar kehidupan batin yang nyata, persiapan diperlukan untuk membangkitkan pusat dalam. Jika kebangkitan diri membawa peristiwa yang sangat menyenangkan, pengalaman tersebut membuktikan bahwa kamu selaras pada diri yang sebenarnya dari yang kamu sadari.

Panggilan hidup adalah universal. Sikap diperlukan untuk membangkitkan pusat dalam mengikuti nilai-nilai universal. Setiap jalan mengarah pada penyadaran diri yang sejati seharusnya sangat pribadi dan berhadapan dengan masalah yang sangat pribadi.
[diambil dari http://pathwork.org/lectures/responding-to-the-call-of-life/ ]

Percayalah pada Panggilan

Panggilan ku adalah untuk membuat karya. Meskipun kemampuan tari ku perlu ditingkatkan. Ada sesuatu yang terpenuhi setelah pentas. Karya yang ku buat merupakan renungan bagi semua orang. Aku merasakan bahwa tari mampu menyampaikan apa yang aku pikirkan. Inovasi, ide baru, bisa muncul dari ku. Aku dapat memegang tanggung jawab yang lebih besar. Meskipun begitu, aku berusaha menjadi rendah diri. Suatu karya tidak akan pernah terwujud tanpa penarinya. Aku memegang ide dan konsep atas suatu karya. Setiap unsur terkecil dalam garapan ku bermakna. Aku masih pemula, dan aku masih terus belajar. Karya pertama ini (Kesadaran Wanita) merupakan obor nyala yang terang benderang. Aku punya sesuatu itu dan aku memperjuangkan itu. Aku membuat karya untuk kemanusiaan. Panggilannya adalah membuat suatu karya. Mencari, berusaha, dan berupaya atas apa yang aku pegang. Mewujudkannya perlu perjuangan. Tetap semangat. Aku bisa menciptakan suatu maha karya. Terlepas dari adanya pendukung maupun pembenci.

Mengingat "Kesadaran Wanita," membuat aku sadar. Aku dapat mengetahui apa saja yang sesuai untuk pertunjukan ku. Menyusunnya dengan sepenuh hati, pernuh rasa hormat.

Orang datang begitu saja. Mengisi ruang-ruang yang dibutuhkan untuk memenuhi panggilan seseorang. Mencapai sesuatu yang diraih. Sebuah panggilan ada untuk dicapai. Dikumpulkan dan berjalan.
Ilustrasi sederhana

Percayalah pada panggilan hidupmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…