Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Tidak Mungkin

Pilihan sudah ditentukan,

Sesungguhnya hal yang diungsikan dari dalam diri,

hanya diri yang mampu menyemainya kembali

Maka untuk kembali, maka itu kembali

ketika kebencian dari dalam diri diproyeksikan pada orang lain

yang terjadi adalah hidup yang tidak bermakna

eksistensi dianggap yang jahat

membunuh eksistensi, membunuh cinta dan pemahaman

--

nyaris tidak mungkin

untuk kembali

untuk menarik benang kusut

oleh yang bukan dari diriku

baginya adalah, tertahan dan terbendung

--

hingga saatnya banjir bandang akan terjadi

pada siapa kau akan berpaling lagi?

Refleksi Tony Broer

Garut, 23-24 September 2016



Kegilaan adalah apa yang kami hadapi

Normal, sesuatu yang luar biasa tak dapat dicapai oleh mereka yang normal

namun menjadi gila adalah jalan tersendiri

Teater adalah obat jiwa yang membuat waras seorang aktor

Hidup sebagai aktor

---

Sebaiknya Anda berhenti berkesenian jika nama dan popularitas yang Anda cari

Carilah mereka seperti nafsu yang terus mengejar

Sedangkan aktor terus berlatih, mereka yang haus terus meminum

Haus abadi

--

Gerak ekspresi tidak sama seperti tari maupun gerak pantomim

Bagi penari, bentuk adalah segalanya

Mereka berpikir dan terus berpikir

Sementara aktor hidup spontan

Gerak ekspresi adalah gerak yang muncul dari objek

Hidup dari objek

Hidup aktor hidup gerak hidup ekspresi

(Aku menemukan "stillness" dalam konsep tari. Sementara konsep yang ditawarkan di sini adalah berbeda)

--

Karya muncul bagaikan teka-teki

Ia muncul memberi bentuk

Bentuk membentuk dengan sendirinya

Sementara inisiasi energi terbentuk

Maka makna menyelim…

Pasca Pembukaan Olimpiade

Pertunjukan Pembukaan Olimpiade Nasional berlalu
Aku berada di antara para penari Badawang
Merayakan keberhasilan kami
Kami menari dan membuka kesenangan
Akhirnya tugas ku berakhir
Dengan rasa senang dan sakit, menyedihkan
Sesungguhnya aku bertahan karena janji ku untuk menolong seorang dosen
Jika bukan itu, aku tidak akan ada di stadion ini
Namun krisisnya bukanlah itu
Ketika semua menghampiri level di hadapan kami
Aku melihat seseorang yang membuang kado ku diangkat
Ia berteriak menjulurkan lidahnya
Pandangan ku lempar pada bapak nomor satu
Mengapa salutasi terlewat?
Gelombang prihatin menggelimang jiwa dan tubuhku
Aku tak tertarik
Sementara bapak tertarik tersedot stadion
Memasuki ruang untuk kami tanyakan
Ada apa? Ada apa?