Langsung ke konten utama

Refleksi Tony Broer

Garut, 23-24 September 2016



Kegilaan adalah apa yang kami hadapi

Normal, sesuatu yang luar biasa tak dapat dicapai oleh mereka yang normal

namun menjadi gila adalah jalan tersendiri

Teater adalah obat jiwa yang membuat waras seorang aktor

Hidup sebagai aktor

---

Sebaiknya Anda berhenti berkesenian jika nama dan popularitas yang Anda cari

Carilah mereka seperti nafsu yang terus mengejar

Sedangkan aktor terus berlatih, mereka yang haus terus meminum

Haus abadi

--

Gerak ekspresi tidak sama seperti tari maupun gerak pantomim

Bagi penari, bentuk adalah segalanya

Mereka berpikir dan terus berpikir

Sementara aktor hidup spontan

Gerak ekspresi adalah gerak yang muncul dari objek

Hidup dari objek

Hidup aktor hidup gerak hidup ekspresi

(Aku menemukan "stillness" dalam konsep tari. Sementara konsep yang ditawarkan di sini adalah berbeda)

--

Karya muncul bagaikan teka-teki

Ia muncul memberi bentuk

Bentuk membentuk dengan sendirinya

Sementara inisiasi energi terbentuk

Maka makna menyelimuti objek

(Pandangan eksistensialisme terjadi pada penciptaan karya)

finish! Sentuhan akhir, lalu jadilah

Ini merupakan pertunjukan, karya sebenarnya membutuhkan waktu

--

Penonton berhak berada dimana yang ia kehendaki

Terjadi perbedaan antara berlatih dan berpentas

Ketika berlatih, penonton adalah imaji, bahkan jadi waham aktor

Ketika berpentas, penonton berada dan menjadi

Silakan bebaskan mereka, bebaskan diri

Berikan penghormatan terbaik

--
Terima kasih bang Tony Broer. Sampai bertemu kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…