Langsung ke konten utama

Kutipan Mencengangkan

Kendali atas sistem mesin yang lebih besar akan berada di tangan-tangan elit kecil - seperti sekarang ini, tetapi dengan dua perbedaan. Demi peningkatan teknik, elit akan memiliki kontrol yang lebih besar terhadap massa: dan karena pekerjaan manusia tidak akan diperlukan lagi, massa akan menjadi banyak yang tersisa: beban tidak berguna pada sistem. Jika para elit itu kejam, mereka mungkin hanya memilih untuk memusnahkan massa kemanusiaan. Jika mereka manusiawi, mereka mungkin menggunakan propaganda atau teknik psikologis ataupun biologis untuk mengurangi tingkat kelahiran, hingga massa kemanusiaan menjadi punah: meninggalkan dunia untuk para elit. Atau, jika elit terdiri dari para liberal murah hati, mereka mungkin memilih untuk memerankan si gembala baik hati bagi ras manusia yang tersisa. Mereka akan melihatnya apakah kebutuhan fisik semua orang terpenuhi, apakah semua anak-anak dibesarkan dalam kondisi yang higienis secara psikologis, apakah semua orang memiliki hobi bermanfaat yang membuatnya sibuk, dan apakah semua orang yang merasa tidak puas menjalani "perlakuan" untuk mengatasi "masalah-"nya. Tentunya, hidup akan jadi tidak memiliki tujuan bahwa orang-orang akan direkayasa secara biologis dan psikologis baik untuk menghapus kebutuhan kekuatan proses mereka atau membuat mereka "menyublimasikan" dorongan mereka untuk menguasai hobi yang tidak merugikan. Manusia-manusia yang direkayasa ini mungkin senang di dalam masyarakat, tetapi mereka nyatanya tidak bebas. Status mereka telah dikurangi menjadi hewan domestik. - dialihbahasakan dari https://joshualightningwarrior.wordpress.com/category/transhumanism/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…