Pengalaman Estetika Seni

Dicatat (dengan perubahan) dari:
Sumardjo, Jakob. (2015). Sunda: Pola Rasionalitas Budaya. Kabupaten Bandung: Penerbit Kelir.

Pengetahuan pengalaman estetik juga mengenal tingkatan-tingkatan, yakni wiraga, wirahma, wirasa, dan kosong.

Wiraga, artinya membenda. Setiap karya seni itu berwujud, jadi tubuh kasar. Tingkat pertama adalah menguasai teknik seni, menghafal bentuk seninya. Melihat atau meraba wujudnya, bahkan mungkin membauinya. Inilah pengalaman inderawi yang menggunakan pikiran.

Wirama, manusia memasuki "tubuh halus" karya seni, antara bentuk dan isi mulai terlihat hubungan kosongnya, karya seni bukan benda mati lagi, ada dinamika kehidupan yang membawa makna di balik bentuknya yang wadag. Peran subyek masih dominan.

Wirasa, manusia mulai kehilangan kesadaran subyektifnya dan menjadi benda seni itu sendiri. Dirinya lenyap menjadi seni itu sendiri. Pengalamannya adalah pengalaman dunia benda seni itu sendiri. Inilah tingkat mengosongkan diri sehingga kesadarannya diisi seni.

Kosong atau Anuning Ning. Ning tak lain adalah kekosongan yang sunyi senyap. Subyek diri dan dan obyek seni lenyap dari kesadaran. Manusia mengalami Kosong, Tiada, meninggalkan fenomena seni.

Seniman tingkat kosong sudah meninggalkan fenomena, sehingga tariannya bukan tarian, musiknya bukan musik, patungnya bukan patung lagi, karena semua yang diungkapkannya dalam kekosongan adalah benar belaka. Seninya adalah anti seni namun tetap seni. Seniman ini, atau manusia begini, sudah di atas salah dan benar, diatas bagus dan tidak bagus, di atas halus dan kasar. Dia seniman atau manusia dari golongan manusia yang berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle