Refleksi Pelatihan "Recovery Based Mental Health System"

Menyuarakan seniman dengan gangguan kejiwaan dan seniman dengan masalah kejiwaan. Bersama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Bandung, saya mendampingi Ketua, Pak Gema, untuk ikut serta dalam pelatihan "Recovery Based Service." Peserta pelatihan di bagi ke dalam beberapa kelompok FGD yang terdiri dari dokter psikiater, staf RSJ, perawat, staf Puskesmas, dosen Psikologi, staf Pemerintahan, dosen Keperawatan, dosen Kedokteran, pekerja sosial, dan aktifis NGO. Recovery, begitulah Prof. Sharon Lawn menyebutnya, adalah suatu paradigma yang baru bagi kami. Personal recovery, atau pemulihan personal, adalah suatu proses pemulihan yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri. Melalui pendekatan ini, pasien/klien memiliki hak untuk dapat melakukan pemulihan diri secara mandiri. Terlepas dari pemulihan klinis yang ditentukan atas diagnosis dokter psikiater, pasien/klien dapat menentukan tujuan pengobatannya. 

Menariknya, pasien/klien memiliki kebutuhan yang unik dan berbeda satu sama lain. Terutama pada seniman dengan masalah kejiwaan maupun gangguan kejiwaan, mereka memiliki perlakuan tersendiri dalam menangani dirinya. Patut diperhatikan bahwa kondisi pekerjaan-pekerjaan seniman mungkin melibatkan katarsis. Kondisi tersebut yang dapat berkontribusi dalam pemulihan diri seniman. Namun, pemahaman atas hal ini, saya rasa, belum teredukasi dengan baik. Misalnya penerapan dan pengembangan teknik-teknik terapi seni seperti Body Movement Therapy, Art Therapy, Psikodrama, dsb. Juga perlu diperhatikan dari bentuk ekspresi yang dihasilkan oleh seniman dengan masalah dan gangguan kejiwaan. Mereka dapat menghasilkan karya yang unik dan berbeda. Mereka mengingatkan kita bahwa kita itu manusia. Tidak ada yang membatasi orang disabilitas, khususnya orang dengan masalah dan gangguan kejiwaan, untuk berekspresi. Mungkin banyak orang yang terjebak dalam stigmatisasi itu, mungkin juga banyak orang yang enggan untuk mengakui keadaan dirinya. Dari keprihatinan itu, saya hadir untuk, salah satunya, menyuarakan seniman dengan masalah dan gangguan kejiwaan. Stigma kita selama ini telah membuat kita berpikir bahwa mereka bukanlah manusia. Namun sadarlah, mereka juga manusia. Mereka berhak untuk hidup, mereka berhak berekspresi, mereka memberikan kita realitas lain akan dunia yang sangat kaya. -You matters- Setiap orang berharga. Sahabat ku pernah berkata, "seaneh-anehnya, segila-gilanya seseorang. Meskipun kamu menghinanya setiap hari, kamu akan membutuhkan ia suatu hari nanti." Menuntut orang lain untuk sehat mental adalah proyeksi megalomania dari orang yang tidak mencintai dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle