Langsung ke konten utama

Tari itu Pemulih Jiwa

Pada kuliah psikoterapi kemarin, aku menyempatkan diri untuk melakukan demonstrasi terapi tari sebagai bagian dari segmen Seni Ekspresif/Expressive Art. Aku melepaskan sepatuku, membereskan panggung kelas, memasang speaker pada ponselku, menyalakan musik secara acak, dan akhirnya... menari. Aku melakukan terapi sesuai dengan yang biasanya aku lakukan, seperti instruksi Bang Iqbal dan Mbak Mata dari tim Body Movement Therapy. Pikiran terpusat, menuju tubuh, membiarkan tubuh menyampaikan perasaan yang paling dalam. Berbeda dengan eksplorasi estetis yang dilakukan oleh penari umumnya, eksplorasi yang dilakukan selama psikoterapi bertujuan untuk memahami proses kejiwaan yang diproyeksikan dari gerak dan tari. Memori beserta ingatan muncul perlahan-lahan selama menari, ditemani intensitas emosi yang mendampinginya. Isu yang terpendam dimunculkan untuk dipahami dan diobati. Aku menemukan tema dari gerakan yang aku alami, memahami dan merasakannya. Tubuh terasa sakit secara psikis, muncul gejala. Aku berteriak, tubuh mencoba menceritakan apa yang terjadi padaku. Termasuk peristiwa ketika satu-satunya orang yang ku percaya mengkhianati aku, terpanggil begitu saja. Rupanya itu permasalahan yang ku pendam. Aku ikuti alurnya sehingga aku menemukan prosesnya. Eksplorasi diakhiri dengan refleksi menyeluruh. Aku sampaikan apa yang terjadi padaku, cara aku menghadapinya dan resolusi dari permasalahan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

(Kesadaran Wanita Alpha:) Vulkano Vulva (3/8)Sinopsis:Berdasarkan karya seorang perempuan, Ratna Ayu Budhiarti
"Matilah Kau di Dadaku" dan "Perempuan Baja"
dalam gejolak magma
Kesadaran perempuan dalam mimpi terkuat
karena berbagai tekanan keadaan
lucu
anak-anak
polos
seadanya
Credits (Kesadaran Wanita Alpha) Vulkano Vulva
Director
Yudi Gentong
Koreografer Kaladian Raharja
Komposer Deden
Performer: Teater Samak
SAMAK2

Selma Jasmine
Adelia Oktaviani
Widiantu Sri Anjani
Aulia Putri Alkamisi
Sulis
Faisal Muflih
Muhammad Fadhila Anhar
M Abdul Agisna Safei
Bayu Hermawan
Naufal Rasyid Shidqy
SAMAK7
Lina Marlyana
Dila Fauziah
Neneng Henti Sugiarti
Risna Abdul Fatah
Fitri Nurhasanah
Aisri Ratna Dewi
Pemusik
Deden
Ijal
Stage Manager
Acep Bari'7
Nada Adan'2
Kru
Dinda
Ginar
Rifaldi
Puri
Ncep Wildan
- dedikasi untuk perempuan, Li Arofu -
"Terima kasih telah menyelamatkan hidupku..."

MASIGIT: WANGUNAN MULIH KA GUSTI TINA PUSEUR JAGAD NAGRI

Minggu, 26 Juni 2016
PASHEMAN Paskibra SMK Negeri 2 Garut bersama teman-teman penari dari komunitas teater tari Garut mementaskan sebuah pertunjukan tari kontemporer yang berjudul "Masigit: Wangunan Mulih Ka Gusti Tina Puseur Jagad Nagri" di acara Sa'alam Ramadhan XVI yang diselenggarakan oleh HISDRAGA (Himpunan Sastrawan Dramawan Garut). Aku ikut serta sebagai koreografer sekaligus direktor kelompok ini. Mencari, berusaha, dan berupaya untuk memahami Kota Garut dari bangunannya, Masjid Agung Garut.

[Video pertunjukan belum diunggah]


Mengenai Hero

K: Pernah nemu literatur yang bahas ini? Aku lagi di tahap 3.
http://www.thewritersjourney.com/hero's_journey.htm

F: Baru sekarang, tapi menurutku kau sudah di tahap 4 atau 5, kalau merecall kembali semua yg kau ceritakan. Menurutku di tahap itulah orang menjadi 'yang lain', bahkan mulai teralienasi

K: Kau mungkin benar. Nampaknya aku masih melaluinya perlahan-lahan.
Setelah ku renungkan, ternyata aku sudah di tahap 6

F: Kira" apakah hero ini punya semacam job mirip ff? Dan test  di tahap 6 berkaitan dengan job? "You either die as hero, or live  long enough to  see yourself become villain" -Harvey Dent, the Dark Knight, menurutmu apakah dalam hero journey ini sang hero bisa misguide, dan mengapa? 

K: Bisa jadi ada semacam sistem job yang termasuk di dalamnya. Yang mengubah job awal seseorang menjadi job transenden.
Jika dikaitkan dengan ku, aku merasakan krisis eksistensial sebagai penari. Setelah pertunjukan masigit, aku menyadari bahwa aku mampu me…