Grieving - Nelangsa

sumber
After having through this times... I'm having myself in a deep loving and deep hatred... toward... someone whom I cared a lot... He was responsible...
Episode grief terjadi berulang-ulang seperti tayangan berita yang terus-menerus ditayangkan dalam display kenangan ku. Kekosongan yang mengajak aku bunuh diri kini menjadi sahabat ku. Lalu aku melihat seseorang, "wahai dirimu yang menyebabkan ini dalam hidup ku..."

Itu memunculkan keinginan untuk membunuh ia dalam diri. Namun berangsur-angsur menjadi kehilangan atas diri. "Aku tak berguna dan tak pantas untuk hidup," katanya dalam-dalam. Aku merasakan itu merayap dan menggerayangi tubuh ku. Aku tak tahu entah sampai kapan aku terus mengalami ini.

Aku bertanya berkali-kali, "kenapa harus ia?" Bahkan aku menyadari bahwa tak sedikit pun ia peduli atas apa yang telah ia lakukan padaku. Seorang sahabat yang mengerikan, membunuh temannya atas gelimang hasad dan nafsu. Aku berakhir menjadi bulan-bulanan, selama 8 bulan lebih aku menghadapi gejolak depresif itu.

Aku selamat

Beberapa hari yang lalu ia kembali menghubungi ku via telepon. "Belajar legowo," katanya. Tetapi perasaan aku tetap merasa tidak aman dan tidak tenang. Ketika ku tanyakan "kita punya masalah," ia menjawab "... aku tidak merasa." Aku merasa sendirian lagi. Lalu ditemani dengan pernyataan kenangan ketika ia bersama dengan ku "... kau adalah sahabat terbaik" yang berkontradiksi dengan pernyataan kenangan ketika ia mengirim pesan "aku tidak peduli." "Tolong aku," aku berteriak dalam hati.

Kemana lagi aku mencari?

Melemas tubuh ku dalam ketenangan. Aku berkata pada diriku sendiri, "aku ingin hidup". Perjalanan di angkot berlalu, namun kembali ia mengingatkan aku. Perasaan untuk menelpon ia berhasil mendorong ku.

"Halo, Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam..."

Aku mendengarkan suaranya. Dengan tenang perasaan berbisik, "ia masih marah dan malu." Tafsiran peristiwa berdatangan namun aku coba tunjukan padanya bahwa aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia menjawab, "besok saja ketika pertemuan perdana." Aku berniat untuk mengambil pakaian ku. Namun gejolak depresif kembali datang, aku ingin marah. "Baiklah, kau tampak lelah." "Mantap," jawabnya. Segera aku tutup telepon ku. Aku tutup diriku dengan pertanyaan, "Kenapa ia begitu beruntung?"

Grief Attack ~ Serangan Berlanjut

Aku menikmati peristiwa depresif ini. Pelajaran berharga berhasil ku petik. Selain penyesalan yang terus menggunung, namun berikutnya luluh dengan perasaan cinta. Lalu luluh lagi oleh ketidakamanan, dan berakhir di kekosongan. Aku mempertimbangkan siapa yang salah, awalnya itu mengarah pada diriku. Aku menjalani hidup sebagai "aku yang salah" dan kini berhenti pada pernyataan "semua adalah kesalahan ia." Aku menemukan kehilangan tanggung jawab. Perasaan ingin menghakimi muncul, lalu aku melangkahi itu, menemukan kembali "sebaiknya ia mengambil tanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan."

Sejauh ini aku masih selamat dan bersyukur. Namun setiap pernyataan yang ia berikan adalah patah hati yang berangsur-angsur. "Apa yang telah kamu lakukan padaku?" Aku menjawab, "hati berkata padaku bahwa ada yang belum beres. Itu adalah tanggung jawab." Ketemu! Ketika ia semakin menciptakan jarak, adalah jalan ku untuk terus menempuh jarak itu. Aku ingin dekat, aku berjuang untuk itu!

Buku Viktor Frankl tiba di tangan ku. Aku berusaha lagi, bagaimana aku dapat menikmati grief ini?

There's a way to get meaningness...
Pembahasan refleksi akan dilanjutkan kemudian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle