Fragmen Penyadaran 6: Memperkenalkan Sebuah Wawacan

Kenapa teksnya pendek-pendek?

Aku sebelumnya telah terbiasa dalam budaya lisan, sehingga apa yang disampaikan menjadi terlampau pendek. Lagi pula insight muncul dalam fragmen-fragmen kecil serupa puzzle yang berikutnya akan tersusun dengan sendirinya.

Bentuk tulisan ku adalah wawacan. Sekumpulan wacana untuk digabungkan kembali.

Semalam, aku mulai meracau hingga tertidurnya di kamar ku.
Memori tentang ia dapat ku kendalikan namun memang perasaan itu menjadi sangatlah tidak nyaman. Aku tidak suka berlama-lama memendam sesuatu karena daya serapku bergitu tinggi. Aku menyadari bahwa aku hopeless dalam beberapa hari terakhir. Memancing kembali keinginan untuk bunuh diri, namun tidak. Insting mati tampak lebih nyata. Aku menyadari ada dua sisi kesadaran yang aktif dalam diriku. Untuk dapat mengontrol sisi lain itu, aku menyaksikan ia memainkan tubuh ku hingga membuatnya kembali dalam kesadaran utuh.

Kondisi kejiwaan ku. Aku tak dapat samakan kondisi ku pada taraf normal. Namun adalah anugerah untuk dapat hidup dan menyampaikan pada mu hal ini. Aku tak bisa disamakan karena aku menjadi yang lain. Dibenci apa karena ditakdirkan untuk dibenci? Siapa lagi yang mau menanggung penderitaan sebesar yang aku alami.

Mega super despair. Betapa tabah dan malangnya diriku.

Dibenci, dijauhi, dikucilkan.

Namun ada harapan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Diri Mulai Meracau

CATATAN AKHIR KARYA KESADARAN WANITA ALPHA VULKANO VULVA

Revenge Puzzle