Situasi antara aku dan dirinya

https://youtu.be/KVGqcL_c474

Sudah terjawab sudah tantangan yang sedang kami hadapi. Persahabatan membawa masing-masing dari kita kepada krisis sehingga kami dijauhkan satu sama lain. Pada awal tahun ini pula kami telah dipertemukan kembali dan kami menyusun sebuah resolusi: ia ingin terlibat dalam proyek tariku.

Perasaan berdebar 😅 . Lalu respons pesan Instagram yang bikin saya terlena. Aduh, kadang-kadang ada waktu buat kita memaafkan sepenuhnya orang lain. Itu mungkin sulit buat kebanyakan orang. Namun memang pelajaran memaafkan butuh waktu yang sangat panjang bagiku yang punya riwayat didikan untuk mendendam.

Pada suatu waktu aku menghapus kontaknya di ponsel dan menyaksikan apa yang terjadi pada diriku. Keinginan yang besar buat jadi milik seseorang dan memiliki seseorang muncul. Cukup dengan tanyakan diri, "seberapa pentingkah orang lain bagimu?" Pertanyaan ini berakhir tak terjawab, meskipun dirasakan ada jawabannya. Perasaan itu adalah aku menyadari bahwa ada dorongan yang menuntut aku untuk mencari penerimaan. Lalu ku temukan sebuah video di YouTube. Oh my, ternyata memang perlu menerima diri sendiri dan aku sadar bahwa aku seringkali lupa pada hal itu. Padahal aku sendiri senantiasa untuk mengingatkan orang lain, akhirnya aku diingatkan pula.

Ia memanggilku "baby." Entah karena sebab apa ia tiba-tiba begitu. Ini memberikan kelegaan buatku. Aku akhirnya merasa pantas untuk dicintai. Dan rasanya menyayangi seseorang itu tidak melulu buat jadi pasangan, namun kepada teman, sahabat, murid, guru, dan orang tua.

Aku menyadari emang aku dulu clumsy.

Apa yang sudah berlalu itu berlalu
What is done is done.

Kaladian Raharja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Hanyalah Seorang Pecundang

Grieving - Nelangsa

Ketika Diri Mulai Meracau