tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Pola Manipulasi itu Diwariskan

Halo. Ini adalah postingan pertama Kalaupadi di Blogger, setelah memutuskan untuk kembali ke Blogger untuk mengaktivasi monetisasi. Saya memulai lagi blog ini dari awal.

Di postingan perdana ini, saya akan bahas mengenai pola manipulasi yang diwariskan. Saya menemukan pola manipulasi dari interaksi ku dengan beberapa teman. Ada pola seperti, "kamu harus berpikir sama juga seperti saya." Sementara saya sadar bahwa setiap orang punya nilai dan pikiran yang berbeda. Ada sesuatu dari dalam diri saya yang menuntut orang lain untuk punya pikiran sama dengan saya.

Saya luangkan waktu untuk mengevaluasi tentang apa yang sebenarnya pada diri saya sendiri. Saya ingat ada trauma yang berasal dari perlakuan pengasuh saya kepada saya. Saya dibuat percaya bahwa saya kehilangan perasaan harga diri saya ketika tidak ada pikiran bahwa orang tidak berpikir sama seperti saya. Dampaknya saya menjadi kehilangan percaya diri dan perasaan aman juga. Salah satu peristiwa trauma yang membuat diriku tidak nyaman adalah ketika ibu membeli seorang teman untuk aku. Entah bagaimana hubungannya dengan pola manipulasi ini, aku dibuat percaya bahwa persahabatan yang ku bangun dengan teman ku adalah otentik. Namun ternyata tidak. Mantan teman ku itu berusaha untuk aku karena dia dibayar oleh ibuku. Setelahnya aku menderita kesepian karena berpikir bahwa tidak ada orang yang mau berteman dengan ku. Pada waktu itu, aku gak punya keterampilan komunikasi yang baik. Ibu ku berharap aku menjadi anak normal seperti anak orang lain. Sementara diriku memerlukan pendidikan keterampilan komunikasi dengan layak, termasuk sekolah di tempat yang layak pula. Tidak lagi sekolah agama di tempat yang seperti neraka ataupun sekolah yang membiarkan perundungan terjadi pada siswa-siswanya.

Menanggapi ini, daripada terus menyalahkan pengasuh ku, aku mulai fokus pada apa yang dibutuhkan oleh ku. Itu adalah berlatih komunikasi, keterampilan hidup dasar, serta membangun relasi persahabatan yang otentik. Sudah beberapa kali dalam hidup ku, pengasuh aku berusaha memanipulasi dan menyeleksi teman-teman yang aku punya. Aku sudah muak soal itu sehingga aku memberikan batasan dan tidak mengenalkan teman kepada pengasuh. Menyadari bahwa pola-pola manipulasi ini disfungsional dan berbahaya bagi kesehatan jiwa ku. Dan secara gak sadar pula, pola ini diwariskan kepada ku untuk aku atasi sendiri. Kadang-kadang pola yang menetap itu mengundang orang-orang yang kurang tepat bagiku sehingga dalam prosesnya aku memerlukan kesadaran untuk mengevaluasi relasi pertemanan ku dan menentukan tindakan tentangnya.

Menemukan sumber trauma yang menjadi pola kaku yang manipulatif memerlukan kesadaran dan ketekunan. Memahami peristiwa demi peristiwa sehingga terpanggil peristiwa kunci traumanya.

Jika menurut mu, postingan ini bagus maka berikan tanda suka. Jika kamu ada komentar, silakan tuliskan di bawah. Dan jika kamu ingin orang lain tahu juga, silakan bagikan postingan ini.

TerlamaLebih baru

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer