Halo pembaca Kalaupadi, apa kabarnya? Sudah cukup lama aku tidak menulis di blog karena kesibukan belakangan ini. Ditambah proses kedirian yang ku lalui cukup berat. Kabar baiknya adalah, aku baru sadar telah melalui ritus peralihan (rites of passage) setelah berbagi refleksi dengan teman. Dia bilang bahwa aku hebat telah melalui proses itu sendirian. Aku menceritakan kepada teman ku mengenai proses ku mengenali sosok diri ideal yang ternyata adalah bapak batin ku. Ternyata untuk bisa mengatasi peristiwa hidup yang menurut alam bawah sadar itu berat, aku menciptakan bapak batin yang berfungsi untuk menggantikan peran bapak yang absen dalam hidup. Sosok ini memiliki fitur fungsi yang terlihat baik tetapi menyusahkan, ia melindungi aku dari semua kenangan dan peristiwa yang traumatik dan tidak menyenangkan.
Sebuah pesan masuk lagi di media sosial ku. Ternyata aku menulis ini ketika malam natal. Saya ucapkan selamat natal pada teman-teman yang merayakannya. Semoga kegiatan dan perayaannya penuh berkat dan makna.
Proses dengan bapak batin yang ku lalui termasuk mengurai sosok diri ideal dan mengenali fungsi-fungsinya. Kemudian menempatkan sosok batin sebagai sosok pemandu, tidak lagi sebagai pemenuh hasrat kesepian. Hasrat kesepian ini bikin aku merasakan lubang kecil sebesar Tuhan di diriku dan menuntut sosok ini mewujud menjadi sosok nyata yang merupakan permintaan tidak realistis. Dengan menjadikan sosok bapak batin ini menjadi pemandu, saya menemukan arahan dan tujuan dalam pendewasaan diri.
Kenangan yang selama ini dilindungi bapak batin kemudian terbebas dan muncul. Itu semacam peti yang dikunci. Isi peti itu adalah kenangan dan perasaan. Aku tiba-tiba menghadapi perasaan yang sangat besar. Butuh waktu beberapa minggu hingga emosi itu terurai dan aku bisa mengevaluasi kenangan yang dikunci. Ini memberikan pemahaman baru dan gambaran yang lebih detil tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Awalnya aku menyalahkan diriku sendiri atas peristiwa buruk di masa lalu. Aku menjadi begitu takut gagal dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Ketakutan itu semakin dapat dikelola dan kecemasan-kecemasan yang bikin aku terpaku menjadi bisa ditanggapi dengan baik. Aku mendapatkan dorongan kehidupan yang memotivasi dalam menjalankan hidup. Awalnya terasa kecil, kemudian semakin besar membuahkan tindakan keseharian yang berbeda dari kebiasaan pemurung sebelumnya.
Aku juga mengurai sakit radang tenggorokan yang rasanya menjadi sebuah siklus yang menyusahkan buat ku. Ketika dalam perjalanan liburan tinggal (staycation) di Yogyakarta, aku demam panas dan seorang teman mengantarkan aku ke Rumah Sakit. Keesokan harinya, teman yang lain menjenguk ku dan bicara tentang trauma yang mungkin mendorong aku untuk kerja hingga hancur. Malamnya aku kepikiran dan melakukan refleksi. Ternyata ada pola kebiasaan kaku yang berasal dari trauma. Aku memakan semua kesedihan dan amarah ku ketika aku kecil, maksudnya aku makan berlebihan. Lupa minum, tenggorokan radang. Kemudian terjebak dalam siklus tertekan-makan-sakit. Itu berlangsung dari aku SD hingga usia 25an.
Cukup lega rasanya bisa memproses luka, kenangan, dan perasaan yang banyak dan besar. Ruang dan waktu sudah didedikasikan untuk penyembuhan diri dan aku rasakan sendiri. Kadang, sulit untuk menjelaskan pada teman yang belum mengenal apa yang ku lakukan. Aku merasa kewalahan soal itu dan biasanya akan bilang dengan kata yang sederhana juga mengarahkan untuk mencari referensinya sendiri. Ketika teman berbicara hal yang ku rasa kurang nyambung, biasanya aku hentikan di situ dan memberhentikan wacana. “Kita bahas yang lain saja ya,” respon ku.
Pada pekan lalu, aku mengalami serangan perundungan siber. Ketika seseorang memberikan komentar kebencian pada konten menari ku. Aku jadi ingat kenangan ketika aku dirundung dulu ketika kecil. Aku belajar untuk mengubah respon ku pada peristiwa serupa. Itu berjalan. Aku sadar kapasitas mentalku, dan aku memutuskan untuk menegur pelaku dan kemudian memblokirnya. Beberapa hari kemudian ada orang yang berperan sebagai perantara si pelaku menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa merespon dengan tenang bahwa aku menerima serangan siber dari si pelaku dan karenanya aku memutuskan kontak dan komunikasi dengan si pelaku. Aku juga sadar kalau hubungan ku dengan si pelaku cuma sekedar kenal. Jadi tampaknya lebih baik kalau gak punya kontaknya lagi dan memutuskan saluran komunikasi dengan si pelaku. Hal seperti itu yang tidak bisa ku lakukan ketika aku dirundung ketika kecil.
Hal baru yang aku pelajari lainnya dari peristiwa perundungan ini adalah cara untuk mengalirkan emosi besar. Karena pola trauma, aku kesulitan untuk mengelola dan menyalurkan emosi. Bapak ku biasanya akan menyiksa aku dan mematikan perasaan ku ketika menghadapi aku yang sedang tantrum. Pesan ku waktu kecil saat tantrum adalah “tolong ajari aku cara untuk mengelola dan menyalurkan emosi besar ini.” Tampaknya pengasuhku (orang tua) gagal untuk mengenali fenomena itu dan berakhir melakukan kekerasan padaku. Sebuah konten dari instagram Destiny Bennett (@theycallmemamabennett) • Foto dan video Instagram, mengingatkan aku cara untuk mengenali dan mengalirkan emosi besar itu. Video ini Destiny Bennett (@theycallmemamabennett) • Foto dan video Instagram, menunjukan cara untuk melakukannya dengan baik. Aku akhirnya bisa menangisi keluar emosi besar itu keluar dari tubuh ku. Kepala yang berat dan pusing jadi terasa ringan setelahnya. Aku bisa kembali berpijak dan kembali fokus pada masalah perundungan yang sudah ku atasi.
Beberapa jam setelah aku merespon pesan teman perantara, aku mendapatkan respon yang baik dari teman perantara. Aku sudah mengirimkan pesan saya yang isinya adalah perasaan akibat kekerasan si pelaku dan menyampaikan dengan jelas yang ku butuhkan. Aku meminta si pelaku untuk meminta maaf dan ke depannya kontak dan komunikasi diputus. Ini berguna untuk menjaga kesehatan mental diriku. Aku tidak bisa berteman dengan seseorang yang jelas pernah berintensi dan melakukan kekerasan padaku. Saluran ini mungkin aku buka kembali hanya jika ada urusan darurat yang hanya bisa diselesaikan dari tindakan aku. Aku tahu bahwa itu mempersempit kesempatan ku untuk bertemu dan berkomunikasi kembali dengan si pelaku. Aku pikir itu bagus untuk ku dan si pelaku.
Belakangan ini, aku mulai tertarik kembali untuk bikin konten terkait pemulihan pribadi. Aku baru aja bikin konten tentang refleksi Menciptakan Budaya Damai di rex (@kalaupadi) • Foto dan video Instagram. Aku ingat pesan dari seorang teman bahwa proses pemulihan pribadiku perlu dibagikan kepada banyak orang. Aku memulai kembali langkah kecil untuk itu, salah satunya dengan blog ini.
Konten yang ku bagikan memang jarang banget dapat respon suka ataupun komentar. Postingan baru pastinya akan meluncur ke daftar postingan 1minggu1cerita.id, profil Facebook & Twitter, dan status WhatsApp. Aku fokus dulu ke kebiasaan menulisnya dulu supaya aku bisa mengalir dalam menulis. Sambil berharap semoga tulisan ku tiba di pembaca yang tepat.



Posting Komentar