tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Refleksi Awal Tentang Layanan Kesehatan Jiwa Masyarakat

Belakangan ini, kami sudah selesai menguruskan legalitas organisasi kami. Merintis perkumpulan dukungan kesehatan jiwa terasa seperti memasuki sebuah wilayah perjalanan yang baru. Awalnya aku bersemangat karena ingin melakukan seperti apa yang sudah diwujudkan sebelumnya di Bandung. Namun ternyata bakal kelemahan yang terjadi dari buruknya manajemen hingga korupsi.

Aku mempertimbangkan tentang tujuan apa yang paling sesuai dilakukan bersama-sama dan langkah-langkahnya apa untuk mencapai itu. Aku perlu kembali berpijak dan memahami apa yang terjadi di sekitar. Membangun kearifan bersama adalah apa yang ku rasa diperlukan untuk saat ini. Sejujurnya, memang bingung mau bangun apa di sini. Jadi, aku menjangkau teman-teman untuk membahas ini.

Aku mulai membaca jurnalnya Thornicroft dkk. (2008) yang berjudul Steps, challenges and lessons in developing community mental health care. Dalam jurnal tersebut dijelaskan tentang hal yang perlu diperhatikan tentang mengembangkan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat. Ternyata penting bagiku untuk terus belajar dan memahami soal ini lebih baik. Mengenali sistem mungkin akan sangat membantu dalam merencanakan langkah perkumpulan kesehatan jiwa yang tepat. Aku mengutip dan mencatat hal-hal penting yang saya dapatkan dari jurnal tersebut.

Thornicroft dkk. (2008) menjelaskan bahwa terdapat lima kategori utama layanan, yang semuanya diperlukan untuk menyediakan rangkaian layanan lokal yang komprehensif. Itu adalah

  1. klinik rawat jalan/rawat jalan; 
  2. tim kesehatan masyarakat; 
  3. rawat inap akut; 
  4. perawatan residensial jangka panjang di masyarakat; 
  5. rehabilitasi, pekerjaan, dan okupasi 

Pelayanan kesehatan jiwa direncanakan sebaik-baiknya dengan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan aktif dalam peningkatan pelayanan kesehatan jiwa (Thornicroft et al., 2008), meliputi: 

  1. pengguna jasa; 
  2. anggota keluarga/pengasuh;
  3. profesional (kesehatan mental dan perawatan dasar); 
  4. kelompok penyedia layanan lainnya (misalnya, organisasi non-pemerintah); 
  5. pembuat kebijakan; 
  6. kelompok advokasi; 
  7. perencana.

Ada yang menarik dari bahasan di jurnal itu. Ada juga kebutuhan untuk memastikan bahwa kelompok yang bukan merupakan pendukung kuat untuk kepentingan mereka sendiri juga diberikan pertimbangan yang adil dalam perencanaan layanan, seperti kelompok pengguna layanan yang baru dibentuk (Thornicroft et al., 2008). Saat aku dan teman-teman pertama melakukan audiensi ke DPRD Kabupaten, kami akhirnya mendapatkan dukungan dan diberikan informasi mendasar tentang pemangku kepentingan yang berperan dalam isu kesehatan jiwa di daerah.

Terdapat 10 tantangan utama dalam mengembangkan layanan kesehatan jiwa.

  1. Kecemasan dan ketidakpastian
  2. Kurangnya struktur dalam pelayanan masyarakat
  3. Bagaimana untuk memulai perkembangan-perkembangan baru
  4. Bagaimana mengelola oposisi dalam sistem kesehatan mental
  5. Penentangan dari tetangga
  6. Kendala keuangan
  7. Kekakuan sistem
  8. Batasan dan hambatan
  9. Menjaga moral
  10. Apa jawaban terbaik?

Aku masih menerka-nerka, belum dapat referensi banyak soal sistem pelayanan kesehatan jiwa. Karena pengenalan dan pemahaman itu penting. Diperlukan juga pendekatan sistem layanan kesehatan jiwa yang sesuai untuk konteks daerah di sini. Dalam refleksi-refleksi terakhir, aku berpikir pendekatan welas asih (compassion) dan pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas mungkin sesuai. Namun aku kesulitan dalam menentukan langkah-langkah awal. Pengawas kami beberapa kali menyebutkan tentang pendanaan dan bagaimana mendapatkan dana untuk berjalannya kegiatan perkumpulan. Itu juga jadi pertanyaan ku. Langkah awal yang muncul adalah untuk berkumpul pengurus perkumpulan. Hal yang dibahas sebenarnya belum ditentukan. Yang ada di pikiran adalah bagaimana perkumpulan ini ke depannya. Apa yang akan dilakukan oleh kita bersama-sama. 

Di kondisi ini, kadang merasa kayak apa yang sudah direncanakan seperti sia-sia. Dari situ saya merasakan kepasrahan dan mau lepaskan untuk jadi keputusan bersama. Saya ingin tahu apa yang dipikirkan oleh teman-teman dalam tim dan apa yang bisa dilakukan bersama. Ditanya soal pendanaan dan pernyataan ku sebelumnya seperti yang telah terjadi, terasa seperti kekerasan. Namun, memang itulah kenyataan nya. Kondisi seperti itu mungkin trauma buat ku karena aku merasakan kekakuan dalam tubuh ku. Semakin panjang aku menulis soal ini, aku sadar aku perlu untuk berpijak pada diri sendiri dan mengenali kenapa aku berusaha untuk belajar sambil menuliskan refleksi ini. Terlepas dari kondisi itu, ada pergumulan yang lebih baik untuk diperhatikan. Itu adalah memberdayakan diri dengan referensi tentang layanan kesehatan jiwa masyarakat.

Kembali soal jurnal yang lagi dibaca. Di bagian berikutnya, ada soal pelajaran yang didapat oleh Thornicroft dkk. (2008) sebagai berikut:

Pertama, perubahan layanan yang kuat, peningkatan yang akan bertahan lama, membutuhkan waktu. Sebagian alasan untuk ini adalah bahwa staf perlu diyakinkan bahwa perubahan kemungkinan akan membawa perbaikan bagi pasien, dan memang skeptisisme mereka adalah aset positif, untuk bertindak sebagai penyangga terhadap perubahan yang terlalu cepat atau terlalu sering. Alasan lain untuk tidak terburu-buru melakukan perubahan adalah bahwa agar berhasil, seseorang mungkin memerlukan dukungan dari banyak organisasi dan lembaga, dan mereka perlu diidentifikasi dan dimasukkan secara bertahap, pada awal setiap siklus perubahan layanan. Mereka yang, atau yang merasa, dikecualikan cenderung menentang perubahan, terkadang berhasil. Selanjutnya, dalam situasi di mana perubahan layanan kesehatan dapat menjadi topik perdebatan politik, maka biasanya perlu membangun konsensus lintas partai tentang strategi kesehatan mental, sehingga akan terus utuh jika pemerintah berubah. Sekali lagi ini akan sering membutuhkan waktu untuk mencapainya.

Aku sebelumnya cerita kalau aku mendapatkan pertanyaan, yang ternyata adalah skeptisisme soal kegiatan di perkumpulan. Menanggapinya sebagai aset itu terasa benar bagi ku. Dikarenakan itu membantu aku untuk benar-benar berpijak dan mengenali lingkungan yang sebenarnya. Agak riskan memang saat langsung menentukan kegiatan tanpa pemeriksaan yang menyeluruh. 

Penjelasan berikutnya:

Waktu juga diperlukan untuk kemajuan dari tahap inisiasi perubahan ke tahap konsolidasi. Biasanya pada tahap awal reformasi layanan, individu atau kelompok kecil yang karismatik akan memperjuangkan proposal utama, dan merekrut dukungan dari kelompok pemangku kepentingan dan dari orang lain yang berpengaruh dalam sistem perawatan kesehatan... Namun, setelah serangkaian inisiatif, seperti mendirikan pusat hari kesehatan mental di kota-kota besar di suatu negara, sistem kesehatan mental perlu mensistematisasikan perubahan ini agar dapat berlanjut selama bertahun-tahun. Dalam fase berikutnya, seringkali benar bahwa para pemimpin karismatik menghadapi tantangan baru, dan orang-orang yang paling berguna adalah mereka yang mampu dengan sabar mengkonsolidasikan organisasi baru, dan membangun konsorsium yang dapat bertahan dalam jangka panjang.  (Thornicroft et al., 2008)

Lanjut baca...

Meskipun aktivitas pemeliharaan sistem yang baru dibuat mungkin kurang menarik bagi para inovator, namun pada kenyataannya konsolidasi ini sangat penting untuk membuat layanan kuat dan mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Ini biasanya tidak membutuhkan seorang pemimpin berprofil tinggi, melainkan sebuah konsorsium yang terdiri dari kelompok pemangku kepentingan yang lebih luas yang perlu bekerja sama dalam menyediakan semua komponen layanan dalam sistem perawatan yang lebih luas. Keberhasilan penyelesaian keputusan kebijakan ini, dan implementasinya di lapangan, seringkali juga memerlukan lobi yang terorganisir dan berulang-ulang oleh koalisi kelompok pemangku kepentingan, untuk membangun tekanan politik yang memadai.

Pelajaran kedua secara keseluruhan adalah penting untuk mendengarkan pengalaman dan perspektif pengguna dan keluarga. Setiap orang yang terlibat perlu menjaga fokus yang jelas pada fakta bahwa tujuan utama dari layanan kesehatan mental adalah untuk meningkatkan hasil bagi orang-orang dengan penyakit mental. Oleh karena itu, penerima manfaat perawatan yang dimaksud harus, dalam beberapa hal, berada di kursi pengemudi ketika merencanakan dan memberikan perawatan dan perawatan. Ini adalah transformasi mendalam, berubah dari perspektif tradisional dan paternalistik, di mana staf diharapkan untuk mengambil semua keputusan penting demi "kepentingan terbaik" pasien, ke pendekatan di mana orang dengan penyakit mental bekerja, ke tingkat yang jauh lebih besar, dalam kemitraan dengan penyedia perawatan. Ini membutuhkan orientasi ulang mendasar bagi staf, misalnya untuk menjadi dan merasa kurang bertanggung jawab untuk memutuskan semua aspek kehidupan pasien. Ini juga mengharuskan orang dengan penyakit mental untuk dapat mengekspresikan pandangan dan harapan mereka akan perawatan. Pada awalnya ini mungkin sangat sulit, misalnya bagi orang yang telah tinggal selama bertahun-tahun di lembaga psikiatri, di mana pandangan dan preferensi mereka jarang dicari atau dihargai. Hal ini seringkali membutuhkan suatu tahapan dukungan, misalnya dari pekerja advokasi, sehingga individu-individu tersebut dalam arti tertentu dapat diaktifkan kembali untuk mengenali dan mengekspresikan sudut pandang mereka sendiri. Salah satu konsekuensinya adalah bahwa sementara kualitas layanan dapat meningkat selama periode pengembangan layanan kesehatan mental masyarakat, umumnya harapan orang yang dirawat meningkat lebih cepat, yang mengarah pada penurunan kepuasan yang paradoks. Sementara staf dapat menafsirkan ini sebagai kritik terhadap perawatan yang mereka berikan, cara lain untuk melihat ini adalah bahwa ketidakpuasan atau keluhan tersebut sebenarnya merupakan sinyal yang sangat jelas tentang bagian mana dari layanan yang perlu ditingkatkan selanjutnya. Dengan kata lain pengguna jasa adalah ahli terbaik.

Pelajaran ketiga yang muncul dari tinjauan umum ini adalah bahwa tim yang mengelola proses semacam itu membutuhkan keahlian yang jelas untuk mengelola seluruh anggaran dan bahwa risikonya tinggi bahwa perubahan layanan akan digunakan sebagai kesempatan untuk pemotongan anggaran. Memiliki anggaran yang dilindungi diperlukan tetapi tidak cukup, karena juga penting untuk dapat menerapkan fleksibilitas dalam anggaran keseluruhan, biasanya untuk menggunakan kembali uang yang dihemat dengan mengurangi penggunaan tempat tidur rawat inap untuk tim kesehatan mental komunitas, atau pekerjaan atau jasa perumahan. Ketika batas keuangan semacam itu (kadang-kadang disebut "pagar cincin") untuk dana kesehatan mental tidak ditetapkan dan dipertahankan dengan ketat, maka uang dapat dengan mudah dialihkan ke bidang perawatan kesehatan lainnya. Dengan kata lain, mekanisme keuangan perlu dibuat yang memastikan bahwa uang mengikuti pengguna jasa ke dalam masyarakat.

Refleksi:

Saat baca bagian itu, aku ingat bagaimana organisasi kesehatan jiwa yang pernah ku dukung terjebak dalam korupsi berupa penyalahgunaan kuasa. Konsep yang ditawarkan oleh organisasi itu tampak bagus, menarik, dan menyeluruh. Namun, saat penerapannya di lapangan, dikarenakan isu pribadi pengelola yang kesulitan untuk memberikan kepercayaan pada tim, menjadi berjalan tidak seperti yang diharapkan. Ada peristiwa yang tidak terduga seperti semua pengurus tiba-tiba diganti tanpa persetujuan bersama. Pengasuh penyintas gangguan jiwa yang fokal dikeluarkan karena dirasakan oleh ketua sebagai tidak punya tujuan yang sama. Konflik terjadi dan tidak mampu dikelola dengan baik. Program-program yang sudah berjalan lama kini berhenti, hingga keterlibatan pengasuh dan penyintas menjadi tidak bermakna. Kekacauan yang pernah aku alami sebagai anggota komunitas ini menyebabkan trauma dalam diriku. Ini membentuk pola kaku pada diriku bahwa pengelolaan organisasi harus aman dan penerapan nya keras. Dampak pola kaku itu yang ingin aku lepaskan dari diriku.

Proses pengelolaan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat dimulai dari perencanaan, pengembangan, dan pembentukan sistem yang berkelanjutan. Kita perlu untuk mendengarkan dari berbagai pihak soal pelayanan kesehatan jiwa masyarakat seperti apakah yang diperlukan di Kabupaten Pati. Itu tidak sekedar konsep yang dikembangkan oleh diri sendiri. Kita perlu mencocokan model yang sudah ada dengan gagasan cita-cita bersama tentang pelayanan kesehatan jiwa masyarakat di daerah. Setiap daerah punya pengalaman dan kebutuhan yang berbeda, artinya model yang sesuai akan bervariasi sesuai dengan konteks daerahnya.

Membaca jurnal ini memberikan aku pencerahan tentang apa yang bisa aku lakukan bersama di Perkumpulan Kesehatan Jiwa yang aku rintis bersama teman-teman.

Daftar Pustaka

Thornicroft, G., Tansella, M., & Law, A. (2008). Steps, challenges and lessons in developing community mental health care. World Psychiatry, 7, 87–92.

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer