Pada beberapa hari ini saya tidak menulis di blog. Itu karena saya merasa tertekan. Pengalaman akumulatif dari diskriminasi dan penindasan ableism, ekspresi gender, juga agama muncul berulangkali. Gejala ini mengingatkan aku untuk berhenti, ambil istirahat, dan menyeimbangkan perasaan.
Saya merasa kesulitan di saat pasangan saya
meninggalkan saya tanpa pemberitahuan. Saya ingat beberapa percakapan sebelumnya
dengan dia tentang penghapusan identitas yang terjadi pada dirinya. Orang-orang
yang berada di sekitarnya telah berusaha menghapus identitas pasangan saya.
Saya tidak dapat menghindari kenyataan bahwa penindasan telah terjadi pada
pasangan saya dan saya tidak bisa mengupayakan apa-apa untuk dirinya. Ini
menghasilkan keputusan sepihak. Saya sangat berduka karenanya.
Serangkaian upacara untuk melepaskan pasangan,
sudah saya lakukan. Dari melakukan perjalanan panjang untuk memeriksakan status
kesehatan saya, lalu berjalan ke tempat donasi untuk menyumbangkan seluruh
barang pemberian dirinya, dan diakhiri dengan memotong rambut untuk memotong
semua duka. Namun ternyata prosesnya masih berlangsung setelah ritual pribadi
tersebut.
Saya menyaksikan pola-pola peristiwa yang berulang
dalam hidup saya. Mengenai luka dan pengalaman yang berakumulasi. Diriku
berusaha untuk memberitahukan aku sesuatu wawasan baru. Aku meluangkan waktu
untuk menulis jurnal pribadi dan mendengarkan ke dalam. Saya mengetahui bahwa yang
saya butuhkan pertama adalah mengenali dan mengakui apa yang terjadi di dalam
diri saya sendiri.
![]() |
| diambil dari pexels |
... bahwa saya masih terluka dan melalui penyembuhan alami
Dr. Primatia dalam sebuah wawancara yang dilakukan
oleh UNAIR News
Yang saya rasakan adalah ketidaknyamanan. Saya
merasa penghargaan diri saya rendah hingga saya merasa tidak layak untuk
mendapatkan kehidupan yang baik. Hal yang saya perhatikan adalah mengenai
kebutuhan afeksi dan seksual saya, juga tentang karir saya. Saya berhenti
bekerja karena mengalami diskriminasi ableism pada bulan lalu, kemudian
pasangan saya meninggalkan saya di awal bulan ini, kemudian saya sedang
mempersiapkan diri untuk operasi septum di saat saya menulis postingan ini.
Beban emosional yang saya tanggung rasanya
menumpuk. Saya kewalahan dalam mengatasinya. Saya sudah mendapatkan dukungan
dari teman-teman saya. Yang membuat saya kesulitan adalah karena saya mengatasi
semua isu tersebut sekaligus, dan saya tidak sadar bahwa saya sedang berjuang
mengatasinya. Ketidaksadaran ini yang menimbulkan ketidaknyamanan dan
frustrasi. Frustrasi karena tidak mampu mencapai target yang diharapkan.
Saya lupa tentang apa yang saya butuhkan. Saya
terlalu fokus dengan mengalihkan perhatian saya kepada menutup lubang kesakitan
dengan memenuhi harapan yang tidak realistis. Nah, lingkaran setannya adalah
kita berusaha memenuhi kebutuhan dengan sesuatu yang kita inginkan. Dan itu
tidak memenuhi kebutuhan diri yang sebenarnya adalah hal yang mendasar.
Saya kemudian berhenti, menuliskan apa yang
saya alami, lalu mulai menerima bahwa diri saya masih terluka dan perlu
perawatan diri. Peristiwa hidup yang mendadak dan berat-berat itu memang gak
nyaman, tetapi itu mungkin untuk diselesaikan satu per satu secara sadar.
Mengakui kondisi bawa diri terluka merupakan hembusan nafas yang meringankan
beban berat yang kini ditanggung.
Kadang-kadang, saya memperhatikan orang terus
menanggung beban tanpa benar-benar mengerjakan beban tersebut.
... bahwa penyembuhan terjadi secara alamiah
Masih dari artikel yang sama
Di sepanjang tulisan ini, saya menunjukkan
kepada kamu bagaimana proses renungan terjadi dalam penafsiran peristiwa yang
sudah terjadi dalam hidup saya. Wawasan baru yang saya dapatkan adalah beban
emosional yang saya tanggung bisa dikerjakan secara satu per satu tidak
semuanya dalam satu waktu. Yang membuat beban terasa berat dan kesusahan
karena diri menanggung semuanya sekaligus. Saya memutuskan untuk ambil dan
kerjakan satu beban dalam satu waktu. Saya mulai memahami bahwa beban yang
dikerjakan tidak harus selesai dalam satu waktu. Artinya, beban itu dikerjakan
dalam satu waktu kemudian dilanjutkan lagi di kesempatan berikutnya.
Saya mengingatkan pada diri sendiri bahwa saya
masih punya tanggung jawab untuk merawat dan menjaga diri saya. Termasuk
menulis postingan blog ini kepada pembaca yang budiman. Tidak masalah jika
diri kewalahan hingga tidak mampu bekerja atau berfungsi secara baik,
karena diri perlu menghargai proses mengalami dan menyembuhkan secara alami.
Juga tidak ada paksaan dalam mengerjakan sebuah beban. Seseorang boleh
menunda sebuah beban hingga dia siap.
Saya jadi ingat tugas pelatihan “mendengarkan
secara welas asih” bersama Susan Partnow yang saya ikuti sejak awal bulan ini. Tugasnya
adalah mengerjakan beban hidup yang selama ini tidak disadari. Langkah-langkah
yang saya lakukan ternyata mendukung saya menemukan wawasan-wawasan baru.
... bahwa seseorang bisa sembuh dan terlepas dari bebannya
Dr. Mima
Yang muncul di pikiran ku adalah no rush.
Tidak usah terburu-buru untuk kembali terlihat baik-baik saja. Kita perlu untuk
tetap mengakui tentang kondisi diri sendiri, mengkomunikasikan kebutuhan diri
dengan jelas, dan melakukan kegiatan sehari-hari secara penuh. Pengalaman buruk
itu tidak hilang, itu menjadi bagian dari hidup. Kita berdamai dengan diri kita
sendiri dalam artian bahwa kita menerima peristiwa yang sudah terjadi. Jadi,
saat kita teringat kembali, diri tidak merasa buruk lagi soal itu. Karena beban
itu sudah selesai dikerjakan.
Mengakui bahwa diri terluka, juga beban yang
bertumpuk ini... adalah sebuah kelegaan. Saya bisa memulai kembali kegiatan
saya sehari-hari dan mengalami secara penuh. Kita perlu berhenti di saat kita merasa
kesulitan atau bergulat untuk benar-benar bisa melihat apa yang sebenarnya
terjadi pada diri sendiri.
Referensi
UNAIR News. (2021, July 12). Tips for self-healing to overcome inner wounds - Unair News. https://news.unair.ac.id/2021/07/12/tips-for-self-healing-to-overcome-inner-wounds/?lang=en



Posting Komentar