tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Wawasan-wawasan tentang penyembuhan diri

Pada beberapa hari ini saya tidak menulis di blog. Itu karena saya merasa tertekan. Pengalaman akumulatif dari diskriminasi dan penindasan ableism, ekspresi gender, juga agama muncul berulangkali. Gejala ini mengingatkan aku untuk berhenti, ambil istirahat, dan menyeimbangkan perasaan.

Saya merasa kesulitan di saat pasangan saya meninggalkan saya tanpa pemberitahuan. Saya ingat beberapa percakapan sebelumnya dengan dia tentang penghapusan identitas yang terjadi pada dirinya. Orang-orang yang berada di sekitarnya telah berusaha menghapus identitas pasangan saya. Saya tidak dapat menghindari kenyataan bahwa penindasan telah terjadi pada pasangan saya dan saya tidak bisa mengupayakan apa-apa untuk dirinya. Ini menghasilkan keputusan sepihak. Saya sangat berduka karenanya.

Serangkaian upacara untuk melepaskan pasangan, sudah saya lakukan. Dari melakukan perjalanan panjang untuk memeriksakan status kesehatan saya, lalu berjalan ke tempat donasi untuk menyumbangkan seluruh barang pemberian dirinya, dan diakhiri dengan memotong rambut untuk memotong semua duka. Namun ternyata prosesnya masih berlangsung setelah ritual pribadi tersebut.

Saya menyaksikan pola-pola peristiwa yang berulang dalam hidup saya. Mengenai luka dan pengalaman yang berakumulasi. Diriku berusaha untuk memberitahukan aku sesuatu wawasan baru. Aku meluangkan waktu untuk menulis jurnal pribadi dan mendengarkan ke dalam. Saya mengetahui bahwa yang saya butuhkan pertama adalah mengenali dan mengakui apa yang terjadi di dalam diri saya sendiri.

diambil dari pexels

... bahwa saya masih terluka dan melalui penyembuhan alami

Dr. Primatia dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh UNAIR News (2021) menjelaskan bahwa seseorang memerlukan penyembuhan di saat diri merasa bosan, kehilangan konsentrasi, serta kecemasan yang muncul tanpa sebab yang jelas. Bentuk gejala fisiknya bisa berupa ketidaknyamanan di tubuh tanpa sebab yang jelas atau kesulitan tidur.

Yang saya rasakan adalah ketidaknyamanan. Saya merasa penghargaan diri saya rendah hingga saya merasa tidak layak untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Hal yang saya perhatikan adalah mengenai kebutuhan afeksi dan seksual saya, juga tentang karir saya. Saya berhenti bekerja karena mengalami diskriminasi ableism pada bulan lalu, kemudian pasangan saya meninggalkan saya di awal bulan ini, kemudian saya sedang mempersiapkan diri untuk operasi septum di saat saya menulis postingan ini.

Beban emosional yang saya tanggung rasanya menumpuk. Saya kewalahan dalam mengatasinya. Saya sudah mendapatkan dukungan dari teman-teman saya. Yang membuat saya kesulitan adalah karena saya mengatasi semua isu tersebut sekaligus, dan saya tidak sadar bahwa saya sedang berjuang mengatasinya. Ketidaksadaran ini yang menimbulkan ketidaknyamanan dan frustrasi. Frustrasi karena tidak mampu mencapai target yang diharapkan.

Saya lupa tentang apa yang saya butuhkan. Saya terlalu fokus dengan mengalihkan perhatian saya kepada menutup lubang kesakitan dengan memenuhi harapan yang tidak realistis. Nah, lingkaran setannya adalah kita berusaha memenuhi kebutuhan dengan sesuatu yang kita inginkan. Dan itu tidak memenuhi kebutuhan diri yang sebenarnya adalah hal yang mendasar.

Saya kemudian berhenti, menuliskan apa yang saya alami, lalu mulai menerima bahwa diri saya masih terluka dan perlu perawatan diri. Peristiwa hidup yang mendadak dan berat-berat itu memang gak nyaman, tetapi itu mungkin untuk diselesaikan satu per satu secara sadar. Mengakui kondisi bawa diri terluka merupakan hembusan nafas yang meringankan beban berat yang kini ditanggung.

Kadang-kadang, saya memperhatikan orang terus menanggung beban tanpa benar-benar mengerjakan beban tersebut.

... bahwa penyembuhan terjadi secara alamiah

Masih dari artikel yang sama (UNAIR News, 2021), Dr. Mima menjelaskan bahwa manusia memiliki keterampilan untuk menjalankan proses penyembuhan secara alamiah. Merenung adalah hal penting yang perlu dilakukan sepanjang penyembuhan diri. Itu adalah proses menafsirkan pengalaman. Melalui proses renungan, seseorang bisa mengenali pemikiran dan perasaan. Kemudian menerima hal-hal ini sebagai sesuatu yang benar-benar ada tanpa mencoba untuk menolak atau menghindari mereka.

Di sepanjang tulisan ini, saya menunjukkan kepada kamu bagaimana proses renungan terjadi dalam penafsiran peristiwa yang sudah terjadi dalam hidup saya. Wawasan baru yang saya dapatkan adalah beban emosional yang saya tanggung bisa dikerjakan secara satu per satu tidak semuanya dalam satu waktu. Yang membuat beban terasa berat dan kesusahan karena diri menanggung semuanya sekaligus. Saya memutuskan untuk ambil dan kerjakan satu beban dalam satu waktu. Saya mulai memahami bahwa beban yang dikerjakan tidak harus selesai dalam satu waktu. Artinya, beban itu dikerjakan dalam satu waktu kemudian dilanjutkan lagi di kesempatan berikutnya.

Saya mengingatkan pada diri sendiri bahwa saya masih punya tanggung jawab untuk merawat dan menjaga diri saya. Termasuk menulis postingan blog ini kepada pembaca yang budiman. Tidak masalah jika diri kewalahan hingga tidak mampu bekerja atau berfungsi secara baik, karena diri perlu menghargai proses mengalami dan menyembuhkan secara alami. Juga tidak ada paksaan dalam mengerjakan sebuah beban. Seseorang boleh menunda sebuah beban hingga dia siap.

Saya jadi ingat tugas pelatihan “mendengarkan secara welas asih” bersama Susan Partnow yang saya ikuti sejak awal bulan ini. Tugasnya adalah mengerjakan beban hidup yang selama ini tidak disadari. Langkah-langkah yang saya lakukan ternyata mendukung saya menemukan wawasan-wawasan baru.

... bahwa seseorang bisa sembuh dan terlepas dari bebannya

Dr. Mima (UNAIR News, 2021) menjelaskan bahwa pertanda kesembuhan seseorang adalah diri memahami, menerima pemikiran dan perasaan yang mengganggu, dan mereka merasa nyaman untuk melakukan fungsi dan kegiatan sehari-hari. Meskipun mungkin ada perubahan dalam beberapa aspek sebagai konsekuensi proses adaptasi dari kondisi-kondisi sebelumnya.

Yang muncul di pikiran ku adalah no rush. Tidak usah terburu-buru untuk kembali terlihat baik-baik saja. Kita perlu untuk tetap mengakui tentang kondisi diri sendiri, mengkomunikasikan kebutuhan diri dengan jelas, dan melakukan kegiatan sehari-hari secara penuh. Pengalaman buruk itu tidak hilang, itu menjadi bagian dari hidup. Kita berdamai dengan diri kita sendiri dalam artian bahwa kita menerima peristiwa yang sudah terjadi. Jadi, saat kita teringat kembali, diri tidak merasa buruk lagi soal itu. Karena beban itu sudah selesai dikerjakan.

Mengakui bahwa diri terluka, juga beban yang bertumpuk ini... adalah sebuah kelegaan. Saya bisa memulai kembali kegiatan saya sehari-hari dan mengalami secara penuh. Kita perlu berhenti di saat kita merasa kesulitan atau bergulat untuk benar-benar bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada diri sendiri.

Referensi

UNAIR News. (2021, July 12). Tips for self-healing to overcome inner wounds - Unair News. https://news.unair.ac.id/2021/07/12/tips-for-self-healing-to-overcome-inner-wounds/?lang=en

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer