tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Dari Kegagalan, Bagaimana Membangun Komunitas dengan Welas Asih

Di saat pekerjaan kelompok tidak berjalan sesuai dengan harapan. Yang muncul pertama adalah menyalahkan seseorang yang  membuat kegagalan terjadi. “Seranglah si biang kerok,” begitulah istilah yang biasanya muncul di pikiran ku. Aku belajar itu dari sekolah, di waktu kita gak punya kesempatan untuk memahami bagaimana kegagalan terjadi. Ini semakin buruk dengan adanya penguatan orang tua di rumah bahwa kegagalan akademik adalah salah si anak sendiri. Karenanya, orang memilih menghukum orang yang dia anggap bersalah tanpa tahu kenapa dan bagaimana kegagalan bisa terjadi. 

Image by Freepik

Bagaimana Budaya Kita Melihat Kegagalan

Saat menulis ini, saya sadar betul konstruksi budaya membuat kita membiasakan menyalahkan dan menghukum orang yang dianggap bersalah tanpa memahami sebab kenapa dan bagaimana itu terjadi. Keadilan yang diilhami hanya bersifat retribusi dan pemberian hukuman. Ini lebih mudah “diterima” karena ini merupakan proses nalar perkembangan awal. Di perkembangan lanjutan, seseorang akan punya keterampilan untuk berempati, ikut membayangkan kenapa dan bagaimana pengalaman orang lain, kemudian belajar dari pengalaman kegagalan. Sebaiknya tidak usah menghukum diri sendiri dan orang lain. Melainkan, katakan “hore!” dan rayakan. Kita sudah diberi hadiah kesempatan belajar. 

Saya telah beberapa kali mengalami kegagalan dalam mengelola komunitas dan organisasi. Saya sudah selesai menyalahkan diri saya dan orang lain atas kegagalan yang dirasakan. Melalui pengaliran emosi dan penyembuhan trauma, aku melepaskan pola-pola kaku yang sudah terbangun sejak lama. Kemudian saya tiba di pengampunan dan mulai merayakan kesempatan belajar. Saya berlatih berpijak dan berempati pada semua orang yang terlibat dalam komunitas. Terlepas kondisi  disabilitas yang saya alami, saya punya pengalaman dan cara sendiri untuk berpijak dan berempati. 

Peluang-peluang dalam menanggapi kegagalan

Dalam kerja komunitas saya baru-baru ini, saya menjumpai peluang-peluang dalam hidup. Di saat orang-orang akan dengan instan menghukum dan menyalahkan orang yang dianggap bersalah, saya temukan peluang untuk belajar bersama. Saya mengajak orang itu duduk dan berbincang bersama. Saya berkata “itu bukan sebuah kesalahan. Mari kita perhatikan jadwal harian mu dan pekerjaan yang kami mintakan untuk mu. “ Kemudian dia mulai menghitung beban harian dan waktu yang  bisa ia luangkan untuk kerja komunitas. Ternyata dia butuh waktu tertentu untuk bisa menyelesaikan  sebuah tugas. Dengan wawasan baru tersebut, saya menawarkan “tolong beritahu saya dan teman-teman jika beban kerja mu berlebih. Saat tenggat waktu singkat dan beban berlebih, kita perlu bekerja bersama-sama. “

Saya teringat, komunikasi itu penting. Ada pola kaku trauma yang membuat orang tidak bisa bicara (mute). Bahkan di saat diri sendiri sudah menawarkan bantuan dan dukungan. Seseorang bisa hanyut dalam respons trauma. Yang bisa saya lakukan pada waktu itu adalah menunggu. Perasaan sedih dan marah muncul, saatnya rawat emosi itu dengan mengalirkan  dan mempersiapkan pesan saya. Pesan saya akan dikirim saat orangnya sudah kembali berpijak dan terhubung. 

Perawatan emosi saat dilanda ketidakpastian

Di saat kembali terhubung, meluapkan emosi adalah pertanda perkembangan awal. Di perkembangan lanjutan, di saat diri sudah merawat emosi sebelum kontak terjadi, diri bisa berhenti dan memeriksa teman. “Bagaimana kondisi mu? Apa ada yang bisa ku bantu?” Itulah yang saya sampaikan pada teman. Dari situ lah percakapan bisa dimulai dan diri menjadi pendamping yang baik.
Setelah memeriksa teman, saya hadir membantu uraikan pengalaman dan emosi seseorang di saat sedang bisu. Sudah saya ceritakan sebelumnya tentang tanyakan bagaimana dan mengapa itu terjadi. Kemudian temukan solusi bersama dan bantuan apa saja yang bisa diminta. “Silakan beritahu kami di saat pekerjaan  itu tidak bisa kamu atasi sendiri. “

Membangun komunitas dengan welas asih

Membangun komunitas dengan welas asih membantu saya berempati. Saya bisa membayangkan diri saya berada di sepatu orang lain, bagaimana diri mereka melihat dan merespon dunia tempat kita tinggal. Di lingkungan pekerjaan yang dianggap lumrah di Indonesia, seseorang bisa dengan mudah mengeluarkan seseorang dari komunitas dengan mudah. Saya ingat pengalaman saya di lingkungan Mennonite dan percakapan saya dengan teman-teman di jaringan. Bahwa praktik dan nilai-nilai baik itu dapat dibudayakan dalam sebuah komunitas, bahkan diinstitusionalisasi. Misalkan saya mau membangun sistem yang mengenali pengampunan, maka akan terbangun SOP yang berdasarkan pengampunan termasuk bagaimana proses reintegrasi dapat didukung oleh komunitas.

Saya saat ini tergabung dalam beberapa gerakan, komunitas, dan organisasi. Tidak semua siap dan mampu menerima dan menerapkan wawasan yang saya miliki. Butuh pendidikan secara bertahap, serta memperhatikan akan ada di tahap apa satu kelompok bisa mempelajari dan menerapkan itu di masa mendatang. Saya sadar bahwa perubahan revolusioner bisa menjadi menyakitkan buat beberapa orang, serta akan mudah ditinggalkan begitu saja jika dirasa tidak cocok. Inilah yang saya perhatikan dalam dinamika di komunitas. 

Saya bercita-cita untuk menerapkan komunitas sekitar yang berwelas asih dan terinformasi. Terinformasi yang saya maksud adalah budaya yang melek dan menerapkan praktik-praktik dan nilai baik dalam interaksi dan budaya. Sehingga komunitas yang terbangun bisa bersifat mendukung dan akomodatif. Selewat rasanya ingin sekali untuk ambil kepemimpinan dikomunitas lokal seperti jadi ketua RT atau sampai RW. Namun, itu asyik hanya untuk dibayangkan saja untuk saat ini. Saya yakin dengan pendekatan dan cara hidup sehari-hari, orang bisa terinspirasi dan Sama-sama membangun budaya adil dan  damai. 

Jika kamu suka tulisan ini, kamu bisa beri Kalaupadi jajan di nihbuatjajan.com/kalaupadi. Jajan yang kamu beri bisa bikin Kalaupadi semakin semangat menulis. Kamu boleh kirim permintaan topik tertentu dengan isi buku tamu yang ada di halaman blog ini. 

2 komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer