Pada hari ini, saya menyaksikan film dokumenter Jepang berjudul "What Can You Do About It". Saya menyaksikan film ini atas rekomendasi yang saya temukan dari cuitan Twitter berikut:
Bagaimana seseorang yg punya mental disorder & spektrum autisme menjalani kesehariannya?
— Cinetariz (@TarizSolis) April 26, 2023
Dalam film dokumenter yg intim, jenaka & heartwarming ini, seorang pembuat film yg baru didiagnosis mengidap ADHD mencoba temukan jawabannya dgn merekam kehidupan sepupunya yg autis. Bagus! pic.twitter.com/HxWZ0XIZgT
Saya menyaksikan film ini sambil membawa pertanyaan mendasar: bagaimana orang dengan Pervasive Developmental Disorder hidup di Jepang?
| Kamu bisa saksikan filmnya di https://jff.jpf.go.jp/watch/independent-cinema/film-lineup/what-can-you-do-about-it/ |
Sebuah film dokumenter menyentuh tentang interaksi antara sutradara film dan pamannya yang hidup dengan autisme ringan (diambil dari web JFF).
Sinopsis
Ketika pembuat film Yoshifumi Tsubota mengetahui tentang pamannya yang hidup dengan autis ringan yang tinggal sendirian, dia memutuskan untuk mengunjunginya. Tertarik pada kepribadian unik pamannya, dia mulai memutar kameranya saat dia mengunjunginya selama bertahun-tahun. Tsubota sendiri telah didiagnosis dengan disabilitas perkembangan sehingga memahami pamannya juga merupakan tindakan memahami dirinya sendiri.
Melalui cuplikan-cuplikan yang intim dan personal, film memesona ini menjadi permata dokumenter yang juga menyoroti isu-isu sosial kontemporer seputar penuaan dan kepedulian sosial terhadap penyandang disabilitas.
Profil Sutradara
TSUBOTA Yoshifumi lahir di Prefektur Kanagawa pada tahun 1975. Setelah menyutradarai film pendek Big Spectacle (2000) di perguruan tinggi, film teatrikal pertama Yoshifumi Tsubota adalah Miyoko (2009), pemenang banyak penghargaan termasuk Tiger Award di International Film Festival Rotterdam. Karya sutradara lainnya termasuk The Shell Collector (2016). What Can You Do About It adalah film dokumenter panjang pertama Tsubota.
Yang saya dapatkan dari film What Can You Do About It
Saya peduli pada hal tersebut dikarenakan saya sendiri hidup dengan autisme. Meskipun UU Disabilitas sudah disahkan, tetapi belum ada layanan khusus dari dinas pemerintah untuk orang dewasa dengan Autisme dan ADHD seperti saya. Yang baru tersedia hanyalah bantuan tunai untuk penyandang disabilitas.
Saya mencatat beberapa layanan pemerintah untuk disabilitas PDD yang hadir di film:
- Dana pensiun disabilitas
- Wali/pendamping disabilitas
- Relawan bicara
- Pembantu pembersih rumah
- Pembantu belanja
- Pegawai konselor dan pendukung
- Dukungan perumahan dan pekerjaan
Saya takjub melihat ketekunan petugas dinas yang ada di film. Mereka merangkul orang dengan disabilitas dan memberikan dukungan yang layak. Berbeda dengan di Indonesia di mana banyak dari orang dengan disabilitas (termasuk saya) dipaksa untuk mandiri tanpa dukungan siapapun. Dari film tersebut saya belajar bahwa normal untuk hidup dengan dukungan. Kami bisa hidup dengan bermakna serta aman dan nyaman hingga akhir masa hidup.
Sepertinya memang PR banget jika ingin mendorong layanan dan dukungan negara dan masyarakat seperti di Jepang. Namun itu bukan berarti hal yang tidak mungkin, kita bisa mengupayakan itu dengan terus mengedukasi diri dan orang sekitar.
Sepanjang menonton film, saya memikirkan soal perencanaan masa tua saya. Saya gak tahu bagaimana hidup saya ke depannya, tetapi menarik dan perlu juga untuk memperhatikan bagaimana hidup saya di masa tua. Yang bisa saya upayakan saat ini adalah meluangkan waktu beberapa jam dalam sepekan untuk melakukan advokasi.
Saya berterima kasih pada pencipta film dan menuliskan komentar di laman filmnya:
This film gives me hope and enjoyment for me (who also lives with PDD) about living as adult people with Pervasive Developmental Disorder. Even though the support provided here in Indonesia is dreadful, often we forced to be independent without support. I took notes on how the services are there to support with comfort and security. This motivated me to be grounded and persistence in advocating rights of adult with Pervasive Development Disorder in Indonesia.
Film ini memberikan harapan dan kenikmatan bagi saya (yang juga tinggal bersama PDD) tentang hidup sebagai orang dewasa dengan Pervasive Developmental Disorder. Meskipun dukungan yang diberikan di Indonesia sangat buruk, seringkali kita terpaksa harus mandiri tanpa dukungan. Saya mencatat bagaimana pelayanan yang ada untuk menunjang dengan kenyamanan dan keamanan. Hal ini memotivasi saya untuk membumi dan gigih dalam memperjuangkan hak-hak orang dewasa dengan Pervasive Development Disorder di Indonesia.
Ini adalah postingan Kalaupadi bertema Seni dan Sastra. Dukung Kalaupadi dengan beri jajan di nihbuatjajan.com/kalaupadi


Posting Komentar