Pernahkah Anda merasa tubuh Anda ingin "berbicara", tetapi kata-kata tidak cukup untuk mewakilinya? Atau mungkin, pernahkah Anda merasa asing dengan tubuh sendiri, seolah-olah tubuh hanyalah kendaraan untuk membawa kepala Anda pergi bekerja dan berpikir?
Di Indonesia, ketika kita mendengar kata "tari", imajinasi kolektif kita sering kali melayang pada sebuah panggung, kostum yang gemerlap, riasan tebal, dan gerakan yang sudah ditentukan. Kita teringat pada tari tradisi dengan pakem yang ketat—jari harus melentik sekian derajat, dagu harus diangkat, dan mata harus nyeledet dengan presisi. Atau mungkin, kita berpikir tentang tari modern dengan koreografi yang harus dihafal mati.
Di tengah pemahaman umum tersebut, saya sering merasa diasingkan. Saya menari, tetapi tidak menghafal gerakan. Saya bergerak, tetapi tidak untuk dipertontonkan demi keindahan visual semata. Apa yang saya lakukan adalah sebuah latihan harian somatik.
Ini adalah praktik harian di mana saya memutar musik, menutup mata, dan mengizinkan tubuh saya bergerak sesuka hatinya. Tanpa pakem. Tanpa koreografi. Tanpa penghakiman.
Bagi saya, ini bukan sekadar goyang badan. Ini adalah praktik keadilan tubuh harian. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda menyelami dunia ini—sebuah dunia di mana tubuh Anda diizinkan untuk jujur, liar, dan pulih.
Apa Itu Tari Somatik? Sebuah Pengantar untuk Orang Awam
Mungkin istilah "somatik" terdengar asing atau terlalu akademis di telinga sebagian besar dari kita. Mari kita sederhanakan. Kata somatic berasal dari bahasa Yunani soma, yang berarti "tubuh yang hidup" atau "tubuh dalam keutuhannya".
Jika tari tradisional atau koreografi berfokus pada bagaimana gerakan itu terlihat dari luar (apakah kakinya lurus? apakah tangannya indah?), tari somatik berfokus pada bagaimana gerakan itu terasa dari dalam.
Bayangkan perbedaannya seperti ini:
Tari Umum/Tradisi: Seperti Anda sedang melukis sebuah gambar agar orang lain bisa memujinya. Ada aturan komposisi yang harus diikuti agar lukisan itu dianggap "benar" atau "indah".
Tari Somatik: Seperti Anda sedang menulis buku harian. Tidak ada yang peduli tulisan Anda bagus atau jelek, atau apakah tata bahasanya benar. Yang penting adalah Anda mengeluarkan apa yang ada di hati Anda ke atas kertas.
Dalam praktik somatik, kita tidak menari untuk dilihat orang. Kita menari untuk merasakan diri kita sendiri. Kita bergerak berdasarkan insting.
Praktik Tari Somatik Itu "Ngapain" Aja?
Bagi Anda yang baru pertama kali mendengar ini, mungkin sulit membayangkan prosesnya. Apakah seperti orang kesurupan? Apakah seperti senam aerobik? Jawabannya: bukan keduanya, namun bisa terasa spiritual seperti doa dan melelahkan (dalam arti baik) seperti olahraga.
Berikut adalah gambaran konkret proses yang biasa terjadi dalam praktik harian saya:
Penciptaan Ruang Aman: Saya mulai dengan memutar musik. Musiknya bisa apa saja, tergantung suasana hati—bisa instrumental yang tenang, drum yang ritmis, atau bahkan hening.
Mendengarkan ke Dalam (Check-in): Sebelum mulai bergerak heboh, saya diam sejenak. Saya "bertanya" pada tubuh: Apa kabar pinggang saya hari ini? Mengapa dada terasa sesak? Apakah ada rasa berat di bahu?
Mengizinkan Gerak Insting: Di sinilah keajaiban dimulai. Jika bahu saya terasa berat, saya tidak memaksanya tegak. Justru, saya ikuti rasa berat itu. Mungkin tubuh saya ingin membungkuk, mungkin ingin berguling di lantai, atau mungkin ingin menghentakkan kaki. Saya tidak merencanakannya. Gerakan itu muncul begitu saja.
Menjadi Saksi (Witnessing): Sepanjang bergerak, saya tidak melamun. Saya sadar penuh. Saya memperhatikan ingatan apa yang melintas, perasaan apa yang muncul, dan emosi apa yang meledak.
Mungkin saat saya merentangkan tangan, tiba-tiba muncul rasa sedih dan ingin menangis.
Mungkin saat saya menghentak kaki, muncul memori kemarahan yang sudah lama saya pendam.
Artikulasi dan Penamaan: Seringkali, setelah sesi selesai, saya baru bisa menamai pengalaman tersebut. "Oh, ternyata rasa pegal di leher ini adalah sisa ketakutan saya saat presentasi minggu lalu." Dengan gerak secara penuh, kita bisa mengartikulasikan apa yang selama ini terpendam.
Mengapa Disebut Praktik Keadilan Tubuh?
Saya menyebut ini sebagai praktik keadilan tubuh harian. Mengapa "keadilan"?
Sehari-hari, tubuh kita sering kali diperlakukan tidak adil. Kita memaksanya duduk berjam-jam di depan laptop meskipun punggung menjerit minta istirahat. Kita menahan tangis karena malu dilihat orang. Kita menahan amarah karena harus sopan. Kita memaksakan senyum saat hati hancur. Kita terus-menerus mensensor impuls alami tubuh demi norma sosial.
Tubuh menyimpan semua itu. Dalam buku terkenal The Body Keeps the Score karya Bessel van der Kolk, dijelaskan bahwa trauma dan stres tersimpan secara fisik di dalam jaringan tubuh kita.
Dengan melakukan tari somatik, saya memberikan keadilan bagi tubuh saya.
Saya memberinya waktu untuk "berbicara".
Saya tidak memaksanya menjadi "indah" atau "sopan".
Saya membiarkan impuls-impuls yang selama ini ditahan untuk keluar.
Jika selama 23 jam sehari saya harus mengatur tubuh saya demi dunia luar, maka saya berhutang setidaknya 30 menit hingga satu jam untuk membiarkan tubuh saya menjadi dirinya sendiri. Itu adalah keadilan.
Jejak Joged Amerta dan Mbah Prapto Suryodarmo
Sebagai orang Indonesia yang mendalami praktik ini, saya tidak bisa lepas dari bayang-bayang seorang maestro gerak yang luar biasa, Almarhum Suprapto Suryodarmo, atau yang akrab disapa Mbah Prapto.
Beliau adalah pencetus Joged Amerta (Amerta Movement). Di dunia internasional, nama beliau sangat harum. Praktisi somatik dari Eropa, Amerika, dan Australia datang jauh-jauh ke Solo untuk belajar dari beliau. Namun, ironisnya, di negeri sendiri, pemahaman tentang praktik beliau sering kali masih samar di kalangan awam.
Apa Itu Joged Amerta?
Secara sederhana dan mudah dimengerti, Joged Amerta adalah praktik gerak bebas yang tidak berdasarkan koreografi, melainkan berdasarkan kesadaran akan hubungan kita dengan lingkungan.
Jika tari somatik barat sering berfokus pada "apa yang dirasakan di dalam kulit" (interoepsi), Joged Amerta mengajak kita melebar. Mbah Prapto mengajarkan bahwa kita tidak bergerak sendirian. Kita bergerak bersama udara, bersama tanah yang kita pijak, bersama pohon, bahkan bersama benda-benda di sekitar kita.
Contoh sederhananya: Jika Anda melakukan Joged Amerta di taman, Anda tidak hanya menari di taman. Anda menari bersama taman.
Bagaimana tekstur rumput memengaruhi cara kaki Anda melangkah?
Bagaimana hembusan angin mengubah arah tangan Anda?
Bagaimana jatuhnya selembar daun menjadi inspirasi bagi tubuh Anda untuk ikut "jatuh"?
Mbah Prapto menyebut ini sebagai proses "menanam benih" dan "tumbuh". Gerakan bukan dihafalkan, tapi ditumbuhkan dari interaksi yang jujur antara diri dan semesta saat itu juga.
Sebuah Penyesalan Akademis dan Penerimaan Spiritual
Ada cerita personal yang cukup membekas bagi saya terkait Mbah Prapto. Saat saya menempuh pendidikan Sarjana (S1), saya pernah mengajukan proposal untuk meneliti Joged Amerta. Dengan semangat menggebu, saya ingin mengangkat kearifan lokal ini ke ranah akademis.
Namun, proposal itu ditolak. Alasannya menyakitkan: riset tentang Joged Amerta dianggap tidak ilmiah.
Pada masa itu, dunia akademis—dan mungkin sebagian besar masyarakat kita—hanya mengakui apa yang bisa diukur dengan angka, apa yang baku, dan apa yang logis secara linear. Sesuatu yang intuitif, berbasis rasa, dan tidak terstruktur seperti Joged Amerta dianggap "kurang". Ada rasa penyesalan yang mendalam karena saya tidak bisa memperjuangkan beliau dalam skripsi saya saat itu. Saya merasa sistem pendidikan kita kadang gagal melihat kekayaan pengetahuan yang ada di halaman rumahnya sendiri.
Waktu berlalu. Suatu hari, seseorang memberikan umpan balik kepada saya setelah melihat saya berlatih. Orang tersebut berkata bahwa saya adalah "penerus spiritual Mbah Prapto Suryodarmo".
Saya tertegun. Saya tidak pernah bertemu langsung dengan beliau semasa hidupnya. Saya tidak pernah "berguru" secara formal di Padepokan Lemah Putih. Namun, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan rendah hati.
Meskipun takdir tidak mempertemukan saya langsung dengan Mbah Prapto, saya "bertemu" dengan beliau melalui murid-muridnya. Jejak pengajaran Mbah Prapto mengalir melalui mereka yang kemudian mewarnai praktik harian saya. Saya belajar bahwa validasi tidak selalu harus datang dari gelar akademis atau penelitian ilmiah yang kaku. Validasi hadir ketika tubuh merasa pulang.
Penolakan akademis di masa lalu itu kini saya lihat sebagai pengingat: bahwa ada pengetahuan yang melampaui logika, dan tugas kita adalah tetap membagikannya, meskipun mungkin dianggap "aneh" atau "tidak ilmiah" oleh standar umum.
Mengatasi Rasa Terasing di Rumah Sendiri
Menjalani praktik ini di Indonesia memang membawa tantangan tersendiri. Ada rasa terasing. Orang mungkin bertanya, "Kamu lagi ngapain? Kok gerakannya aneh? Itu tari apa?"
Budaya kita sangat menghargai bentuk (form). Tari Jawa punya bentuk, Tari Bali punya bentuk, Tari Minang punya bentuk. Ketika kita menawarkan sesuatu yang "tanpa bentuk" (formless), wajar jika timbul kebingungan.
Namun, saya percaya bahwa pengetahuan ini harus dibagikan. Justru karena saya tinggal di Indonesia, saya punya tanggung jawab untuk memperkenalkan kembali bahwa nenek moyang kita pun sebenarnya bergerak secara intuitif sebelum ada kodifikasi tari istana. Mbah Prapto adalah bukti bahwa Indonesia punya akar kuat dalam praktik kesadaran tubuh (body mindfulness) ini.
Saya membagikan perjalanan ini di media sosial bukan untuk pamer kemampuan menari. Sama sekali bukan. Saya membagikannya sebagai dokumentasi:
Bahwa ada cara lain untuk memproses emosi.
Bahwa tubuh kita bijaksana.
Bahwa bergerak semrawut itu menyembuhkan.
Anda bisa melihat bagaimana proses ini berlangsung, kadang hening, kadang ledakan energi, di kanal Instagram saya: Silas Pangestu. Saya juga mengunggahnya di TikTok dan YouTube dengan harapan algoritma bisa membawa pesan keadilan tubuh ini kepada mereka yang membutuhkannya, mungkin kepada Anda yang sedang membaca ini.
Memulai Perjalanan Gerak Anda
Jika Anda merasa terpanggil untuk mencoba, Anda tidak perlu mendaftar kelas mahal atau membeli baju senam khusus.
Mulailah di kamar Anda. Kunci pintu. Matikan lampu jika perlu. Putar lagu kesukaan Anda. Berdirilah diam. Dan tanyakan: "Hai tubuh, kamu mau bergerak seperti apa hari ini?"
Mungkin awalnya kaku. Mungkin Anda merasa bodoh. Itu wajar. Teruskan saja. Hakimi pikiran yang menghakimi itu, lalu kembali ke tubuh.
Ingat, ini bukan pertunjukan. Ini adalah percakapan jujur antara Anda dan diri Anda sendiri.
Disclaimer: Informasi yang dibagikan dalam tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman, praktik, dan refleksi harian pribadi saya. Tulisan ini bertujuan untuk edukasi dan berbagi perspektif, bukan sebagai pengganti saran medis atau psikologis profesional. Jika Anda mengalami gangguan kesehatan mental yang berat atau trauma mendalam, sangat disarankan untuk mencari pendampingan dari psikolog, psikiater, atau terapis bersertifikat. Praktik somatik bisa menjadi pendamping yang baik, namun kenali batas kemampuan diri Anda.
Posting Komentar