tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Cara Menghapus Stigma dan Diskriminasi untuk Merayakan Bhinneka Tunggal Ika


​Bhinneka Tunggal Ika adalah fondasi bangsa Indonesia yang sering kita bicarakan namun jarang kita maknai secara mendalam. Secara harfiah, semboyan ini berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Namun, dalam realitas sosial kita, persatuan sering kali dipaksakan melalui penyeragaman, bukan melalui perayaan atas perbedaan yang ada. Untuk benar-benar menghidupi semangat ini, kita harus berani menghadapi kenyataan pahit mengenai stigma dan diskriminasi yang masih mengakar kuat dalam masyarakat kita.

​Memahami Akar Stigma dan Diskriminasi di Indonesia

​Stigma adalah sebuah tanda cela yang dilekatkan pada seseorang atau kelompok karena identitas mereka dianggap menyimpang dari norma sosial yang dominan. Ketika stigma ini diwujudkan dalam tindakan yang membatasi hak orang lain, muncullah diskriminasi. Di Indonesia, narasi keberagaman sering kali hanya berhenti pada perbedaan suku dan agama yang diakui secara resmi. Padahal, spektrum identitas manusia jauh lebih luas daripada itu.

​Keberagaman yang sesungguhnya mencakup perbedaan latar belakang ekonomi, identitas gender, seksualitas, status kesehatan (seperti disabilitas atau orang dengan penyakit kronis), hingga sejarah keluarga. Sayangnya, keterbatasan perspektif kita dalam memandang keberagaman ini sering kali menjadi celah bagi tumbuhnya kebencian. Kita cenderung merasa takut pada apa yang tidak kita mengerti, dan ketakutan itu sering kali dimanifestasikan dalam bentuk pengucilan.

​Kegagalan Institusi Pendidikan dalam Menanamkan Nilai Inklusi

​Satu hal yang sangat saya sesalkan adalah betapa jarangnya pendidikan mengenai keberagaman yang inklusif ini ditemukan dalam interaksi sehari-hari. Sejak kecil, banyak dari kita tidak terlatih untuk berinteraksi dengan orang yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Institusi pendidikan, yang seharusnya menjadi ruang perjumpaan antarwarga, sering kali justru menjadi tempat penguatan stigma.

​Sekolah sering kali gagal menyediakan ruang interaksi yang memungkinkan siswa untuk saling mengenal secara personal di luar label identitas mereka. Alih-alih merayakan perbedaan, sistem pendidikan kita terkadang justru memperkuat batas-batas tersebut. Hal ini terlihat jelas dalam kegiatan atau upacara yang secara konsisten mengutamakan satu identitas tertentu, sehingga menciptakan kesan bahwa ada identitas yang lebih utama atau lebih Indonesia dibandingkan identitas lainnya. Lingkungan yang homogen dan tidak inklusif ini menjadi lahan subur bagi prasangka untuk tumbuh menjadi kebencian yang nyata.

​Tantangan Merayakan Keberagaman Identitas yang Kompleks

​Merayakan keberagaman bukan hanya soal mentoleransi perbedaan yang terlihat, tetapi juga merangkul identitas yang sering kali dipinggirkan. Kita perlu membicarakan tentang ketimpangan ekonomi yang menciptakan jarak sosial. Kita perlu mengakui bahwa individu dengan identitas gender dan seksualitas yang berbeda adalah bagian sah dari masyarakat kita yang layak mendapatkan martabat yang sama.

​Selain itu, status kesehatan juga merupakan bagian penting dari identitas yang sering kali terstigma. Orang dengan disabilitas atau tantangan kesehatan mental sering kali dianggap sebagai beban, bukan sebagai warga negara dengan potensi yang setara. Ketidakmampuan kita untuk melihat manusia di balik status kesehatan mereka adalah bukti bahwa literasi sosial kita masih sangat rendah. Untuk mengubah ini, kita harus memiliki keberanian untuk mengakui keberadaan mereka dan melibatkan mereka secara penuh dalam semua aspek kehidupan.

​Proses Unlearn: Membongkar Prasangka dalam Pikiran

​Melatih toleransi dan penerimaan dalam kehidupan sehari-hari adalah tugas yang sangat berat. Sepanjang interaksi kita dengan dunia luar, benturan keyakinan dan nilai-nilai pribadi pasti akan terjadi. Kondisi ini sering kali memicu rasa tidak nyaman. Namun, rasa tidak nyaman tersebut sebenarnya adalah peluang untuk bertumbuh.

​Saya menyadari bahwa saya perlu berlapang dada untuk melakukan proses unlearn terhadap stigma yang sudah tertanam dalam pikiran sejak kecil. Unlearn berarti secara sadar mempertanyakan kembali kebenaran dari prasangka yang kita miliki. Kita harus bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya membenci kelompok ini karena pengalaman nyata, atau hanya karena narasi yang dijejalkan oleh lingkungan saya?" Proses ini memerlukan kejujuran intelektual dan kematangan emosional yang tinggi.

​Ketika Perbedaan Masuk ke Ruang Privat: Pasangan Hidup

​Level tantangan dalam merayakan keberagaman ini mencapai puncaknya ketika perbedaan tersebut masuk ke dalam kehidupan pribadi yang paling intim, seperti dalam hubungan asmara atau saat memilih pasangan hidup. Di titik ini, nilai-nilai inklusivitas kita benar-benar diuji. Apakah kita mampu membawa hubungan ke tahap yang lebih lanjut meskipun ada perbedaan latar belakang ekonomi, pandangan dunia, atau identitas lainnya?

​Banyak hubungan yang kandas bukan karena ketiadaan cinta, melainkan karena beratnya beban stigma sosial yang harus dipikul oleh pasangan tersebut. Namun, jika kita berhasil melampaui stigma itu, hubungan tersebut justru bisa menjadi model bagi masyarakat tentang bagaimana dua manusia yang berbeda bisa membangun visi bersama. Ini adalah bentuk nyata dari mempraktikkan Bhinneka Tunggal Ika dalam unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga.

​Prinsip Sekolah Damai Indonesia: Toleransi Saja Tidak Cukup

​Dalam perjalanan belajar saya, saya selalu teringat pada prinsip penting yang diajarkan oleh Sekolah Damai Indonesia (Sekodi). Sekodi menekankan bahwa dalam membangun harmoni sosial, ada tiga tingkatan yang harus kita lalui: toleransi, penerimaan, dan keterlibatan.

​Banyak orang merasa sudah cukup dengan hanya menjadi toleran. Namun, toleransi dalam arti sempit sering kali hanya berarti membiarkan orang lain ada tanpa benar-benar peduli. Toleransi pasif ini sangat rapuh dan mudah hancur saat ada konflik kepentingan. Tingkatan selanjutnya adalah penerimaan, di mana kita mulai menghargai keberadaan orang lain sebagai bagian dari realitas kita.

​Namun, tingkat yang paling esensial adalah keterlibatan. Toleransi saja tidak cukup, kita harus terlibat bersama dalam mengerjakan sesuatu. Keterlibatan aktif berarti kita berkolaborasi dengan orang yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama, baik itu dalam proyek lingkungan, pekerjaan, maupun kegiatan sosial. Saat kita bekerja bersama (working together), identitas-identitas yang sebelumnya menjadi sekat akan mulai melebur. Kita akan menyadari bahwa kita memiliki lebih banyak kesamaan sebagai manusia daripada perbedaan identitas yang selama ini kita perdebatkan.

​Kesimpulan: Komitmen Menuju Indonesia yang Inklusif

​Menghapus stigma dan diskriminasi adalah kerja seumur hidup. Ini bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang komitmen untuk terus belajar dan terbuka terhadap perspektif baru. Kita harus menuntut institusi pendidikan kita untuk lebih inklusif dan memberikan ruang bagi dialog yang jujur.

​Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar warisan sejarah, melainkan tugas masa depan yang harus kita selesaikan. Dengan berani melibatkan diri bersama mereka yang berbeda, kita sedang merajut kembali tenun kebangsaan yang mungkin sempat terkoyak oleh kebencian. Mari kita mulai dari diri sendiri, dengan berlapang dada, melakukan unlearn pada stigma, dan berani untuk terlibat secara nyata bagi kemanusiaan.

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer