Dalam perjalanan hidup, kita sering kali dihadapkan pada realitas yang menyakitkan di dalam lingkaran yang seharusnya menjadi tempat kita bertumbuh. Bagi banyak aktivis dan penggerak komunitas, penderitaan tidak hanya datang dari luar, tetapi sering kali muncul dari dalam struktur organisasi itu sendiri. Penderitaan ini manifestasi dari ketidakteraturan, ketidakadilan, dan hilangnya integritas. Dalam filsafat Buddhis, kita mengenal konsep Dukkha atau penderitaan. Namun, dalam konteks modern, saya melihat bahwa salah satu sumber penderitaan kolektif terbesar saat ini adalah kegagalan tata kelola atau governance yang adil dan tepat.
Refleksi ini lahir dari sekumpulan ingatan pahit tentang korupsi, benturan kepentingan, dan ruang aman yang dikhianati. Ini adalah sebuah upaya untuk memahami mengapa struktur yang ajeg dan transparan adalah kunci untuk membangun komunitas yang tidak hanya produktif, tetapi juga menyembuhkan.
Bayang-Bayang Korupsi dan Benturan Kepentingan
Mengingat kembali perjalanan saya di berbagai organisasi sosial dan kolektif seni, ada pola yang terus berulang yang menyisakan luka mendalam. Saya pernah berada di dalam sebuah lingkaran yang dikelola dengan cara-cara yang korup. Bukan sekadar korupsi dalam arti sempit soal uang, melainkan korupsi terhadap nilai dan filosofi dasar organisasi.
Saya menyaksikan bagaimana seorang aktor kunci dalam sebuah komunitas mencoba mengganti fundamen cara kerja demi kepentingan pribadi. Benturan kepentingan ini merusak tatanan yang sudah dibangun dengan susah payah. Ketika ambisi pribadi lebih besar daripada komitmen terhadap tujuan bersama, kejujuran pun dikorbankan. Pengalaman saya berakhir dengan keputusan berat untuk memutus hubungan secara sepihak dan menarik diri. Keputusan itu diambil karena saya menyadari bahwa bertahan dalam sistem yang korup hanya akan membuat saya menjadi bagian dari penderitaan tersebut.
Kegagalan ini tidak berhenti di satu tempat. Pola yang sama terulang kembali saat saya terlibat dalam manajemen festival seni internasional. Di sana, saya harus "pasang badan" menghadapi kekacauan administratif di mana perizinan belum tuntas bahkan hingga hari pelaksanaan kegiatan. Ketidaksiapan ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan cerminan dari kurangnya tanggung jawab terhadap keamanan dan kenyamanan orang banyak yang terlibat.
Penderitaan Akibat Absennya Ruang Aman
Salah satu penderitaan yang paling menyayat hati adalah ketika organisasi yang mengeklaim memperjuangkan hak-hak kelompok marginal justru gagal menjaga anggotanya sendiri. Saya pernah meninggalkan komunitas yang berfokus pada inklusivitas karena mereka gagal menciptakan ruang aman. Ketika sebuah organisasi tidak memiliki kebijakan yang jelas mengenai perilaku dan perlindungan anggota, ruang tersebut menjadi rentan terhadap pelecehan, intimidasi, dan pengabaian.
Dalam pandangan saya, kegagalan menjaga ruang aman adalah bentuk pelanggaran etika yang serius. Tanpa tata kelola yang ajeg, niat baik untuk membantu sesama sering kali berubah menjadi racun. Kita melihat bagaimana nepotisme dan kurangnya transparansi merusak kepercayaan. Inilah penderitaan zaman kita: ketika organisasi yang seharusnya menjadi perlindungan justru menjadi sumber trauma baru.
Perspektif Buddhis: Tata Kelola sebagai Praktik Sila
Dalam ajaran Buddha, terdapat penekanan kuat pada Sila atau kemoralan. Kemoralan bukan hanya soal aturan individu, tetapi bagaimana kita berinteraksi dengan komunitas (Sangha). Tata kelola organisasi yang baik sebenarnya adalah bentuk nyata dari Sila dalam konteks modern.
Ketika sebuah organisasi menetapkan kebijakan yang adil, melakukan transparansi keuangan, dan menghindari benturan kepentingan, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan "Mata Pencaharian Benar" dan "Perbuatan Benar". Korupsi dan ketidakadilan dalam organisasi muncul dari keserakahan (Lobha) dan kebodohan batin (Moha) yang gagal melihat bahwa kerugian satu orang adalah kerugian seluruh komunitas.
Ketidakadaan tatanan yang ajeg menciptakan ketidakpastian, dan dalam ketidakpastian itu, kecemasan serta konflik tumbuh subur. Penderitaan ini bisa dihentikan jika kita memiliki keberanian untuk membangun struktur yang melindungi semua orang tanpa kecuali.
Dari Pelarian Menuju Pembangunan Tatanan
Selama bertahun-tahun, pola saya menghadapi kegagalan organisasi adalah dengan melarikan diri. Saya keluar, memutuskan hubungan, dan mencari tempat baru. Pelarian ini adalah mekanisme pertahanan diri yang wajar saat menghadapi lingkungan yang beracun. Namun, pelarian terus menerus tidak akan menyelesaikan akar masalah jika kita tidak pernah menemukan atau menciptakan alternatif yang lebih baik.
Titik balik terjadi ketika saya berinteraksi dengan sebuah inisiatif nasional yang menempatkan governance sebagai prioritas utama. Di sana, saya menemukan kontras yang luar biasa. Jika di tempat sebelumnya saya melihat pendanaan digunakan untuk mendorong benturan kepentingan, di tempat yang baru ini, setiap sen dan setiap langkah kebijakan dipertanggungjawabkan dengan adil.
Inilah wawasan baru yang saya dapatkan: membangun komunitas bukan hanya soal visi besar atau semangat yang meluap-luap. Membangun komunitas adalah soal membangun "tatanan". Tatanan yang adil memastikan bahwa setiap orang tahu di mana mereka berdiri, apa hak mereka, dan bagaimana mereka dilindungi. Tatanan ini memberikan rasa aman yang memungkinkan kreativitas dan produktivitas muncul secara alami.
Praktik Baik: Apa yang Harus Kita Perjuangkan?
Melalui refleksi ini, saya menyimpulkan beberapa praktik baik yang harus menjadi fondasi setiap komunitas yang ingin benar-benar bebas dari penderitaan sistemik:
Kebijakan yang Tertulis dan Ajeg: Aturan tidak boleh bergantung pada mood pemimpin atau kedekatan personal. Harus ada prosedur operasi standar yang jelas yang dipatuhi oleh semua level.
Transparansi dan Akuntabilitas: Setiap keputusan, terutama yang berkaitan dengan sumber daya, harus dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan. Ini menutup celah bagi korupsi dan nepotisme.
Manajemen Benturan Kepentingan: Organisasi harus secara aktif mengidentifikasi dan memitigasi situasi di mana kepentingan pribadi seseorang dapat memengaruhi keputusan organisasi.
Protokol Ruang Aman: Harus ada mekanisme formal untuk menangani keluhan, konflik, dan perlindungan terhadap kekerasan di dalam komunitas.
Keadilan Distributif: Memastikan bahwa kesempatan dan beban kerja didistribusikan secara adil berdasarkan kapasitas dan kebutuhan, bukan berdasarkan favoritisme.
Penutup
Upaya membangun tatanan komunitas yang ajeg, aman, dan nyaman bagi semua adalah sebuah jalan perjuangan. Ini adalah upaya saya saat ini untuk berhenti melarikan diri dan mulai menanam akar pada sistem yang benar-benar berpihak pada keadilan.
Kita tidak bisa mengontrol seluruh kekacauan di dunia, tetapi kita bisa mengontrol bagaimana komunitas kecil kita beroperasi. Dengan menerapkan tata kelola yang penuh kesadaran (mindful governance), kita sedang membangun oase di tengah padang pasir penderitaan. Ini bukan hanya tentang manajemen organisasi, ini adalah tentang memuliakan martabat setiap manusia yang ada di dalamnya.


Posting Komentar