Selama ini saya mengira bahwa saya sudah selesai dengan trauma-trauma pribadi saya. Namun ternyata, ada satu bagian dari trauma yang saya lewatkan. Perasaan takut dan teror yang intens di dalam, ia berusaha melindungi saya supaya saya terhindar dari peristiwa buruk di masa mendatang. Dengan mudah ia menandai orang sebagai ancaman dan membuat saya menghindari ketakutan.
![]() |
| Ilustrasi orang merenung (diambil dari pexels.com) |
Sebelumnya saya sudah mempraktikkan kerentanan untuk mengatasi perasaan lemah akibat rasa takut. Saya sudah berada di tahap menghargai perasaan dan merawat diri sendiri berdasarkan apa yang dialami. Fokus pada perasaan dan sensasi di tubuh. Lalu melakukan kegiatan yang bisa menyeimbangkan diri sendiri.
Tahap berikutnya adalah menyadari pemicu kerentanan dan mengenali polanya. Yang terjadi pada saya adalah muncul perasaan takut pada satu objek atau peristiwa. Yang saya butuhkan adalah untuk berada jauh dari objek tersebut selama beberapa waktu. Hal baru adalah saya mengambil kesempatan untuk merasakan pengalaman itu secara penuh. Perasaan takut serta pacuan adrenalin yang kuat. Meledak kuat dalam aktivitas fisik, kemudian perlahan disadari lewat kegiatan-kegiatan yang menyeimbangkan perasaan.
Merawat Emosi
Menyeimbangkan perasaan yang saya maksud adalah, salah satunya, ketika ada dorongan berupa bentukan cara pengaliran emosi muncul di pikiran maka saya memfasilitasinya dengan melakukan apa yang muncul. Misal ketika yang saya rasakan adalah takut, saya mengenali bahwa itu perasaan takut, untuk memfasilitasi perasaan itu maka saya mengizinkan tubuh saya ikut bergetar bersamaan saya menghayati pikiran dari perasaan takut tersebut. Beberapa menit setelahnya, saya bisa kembali berpijak pada diri saya sendiri. Itu adalah cara saya untuk bisa kembali berpijak.
Merawat diri, termasuk merawat emosi dan trauma. Merawat emosi artinya mengenali emosi yang muncul dan bertamu di ruang hati kita. Dalam jamuan tersebut, senantiasa tanyakan:
- Perasaannya apa?
- Bagaimana muncul?
- Dampaknya apa?
- Apa yang dibutuhkan?
Empat poin tersebut adalah pertanyaan dasar. Setiap emosi punya maksud dalam diri. Untuk menyeimbangkan diri kita, kita bisa berpamitan dengan emosi tersebut dengan mengalirkan lewat tubuh sendiri. Orang awam biasa berpikir bahwa mengalirkan emosi butuh benda lain untuk jadi objek pelampiasan. Namun cara seperti itu adalah cara yang kurang sehat. Karena sesungguhnya, tubuh kita sendiri punya cara istimewa untuk mengalirkan emosi.
Emosi-emosi yang biasa muncul termasuk marah, sedih, takut, kejenuhan, gembira, dan masih banyak lagi. Bahasa membantu kita untuk mengenali nama emosi yang tepat. Misalkan bahagia dan damai tampak serupa, tetapi pengalaman dan intensitas emosinya berbeda. Setiap emosi yang muncul itu punya maksud dan tujuan masing-masing. Pengalaman itu pun akan direkam oleh pribadi kita dan pada akhirnya akan membentuk kepribadian kita.
Merawat Trauma
Merawat trauma artinya mengakui bahwa ada peristiwa-peristiwa kehidupan yang menyebabkan luka-luka di tubuh jiwa kita. Itu bukanlah sebuah kesalahan tentang diri sendiri. Melainkan karena tidak adanya sumber daya yang cukup untuk mengatasi suatu peristiwa dalam hidup. Kita tidak tentu senantiasa siap dalam mengalami dalam hidup. Ada beberapa kejadian dalam hidup ketika kita mengalami peristiwa trauma. Tubuh kita membeku karena kita tidak punya sumber daya atau cara merespons situasi tersebut dengan tepat sesuai kebutuhan diri. Kita melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan soal peristiwa hidup tersebut. Pengalaman-pengalaman bisa saja menjadi menyakitkan dan tidak nyaman.
Emosi-emosi terkunci di badan, sebagai penanda bahwa ia menjadi bahan bakar untuk perilaku reaktif saat peristiwa serupa kejadian trauma muncul. Ketika peristiwa pemicu terjadi, seseorang jadi “reog” karena emosi-emosi terpendam itu mengambil alih fungsi kesadaran. Meskipun terlihat menyeramkan, mekanisme itu hadir dengan tujuan yang mulia yaitu melindungi diri sendiri.
Yang diri butuhkan adalah afirmasi, penegasan bahwa peristiwa trauma sudah selesai. Bahwa kita tidak akan menciptakan trauma-trauma baru di diri sendiri dan orang lain karena trauma sebelumnya yang belum selesai. Memang, satu peristiwa trauma akan mengundang peristiwa trauma berikutnya dalam hidup. Maka perlu perhatikan bahwa saat pola trauma di masa lalu bisa dipecahkan maka itu akan menyelesaikan pola-pola trauma serupa yang datang setelahnya.
Perawatan yang bisa dilakukan mengenai trauma adalah menyediakan tempat dan dukungan. Tempat dan situasi yang aman dan nyaman akan memungkinkan seseorang memproses trauma-trauma dan emosi yang belum selesai dalam diri. Proses itu akan terjadi secara organik dan bisa difasilitasi dengan lebih baik dengan adanya profesional kesehatan jiwa dan teman-teman pendamping.
Tahapan awal yang biasanya terjadi adalah munculnya kembali kenangan trauma. Diri perlu kesiapan untuk benar-benar menyaksikan kembali kilas balik, yang awalnya bisa saja sangat membuat tidak nyaman dan kegundahan. Setelah menyaksikan kembali, emosi-emosi yang terkunci ini akan muncul ke permukaan. Di saat itulah, seseorang bisa membuka kunci emosi tersebut dan mengalirkannya keluar. Kejadian mengalirkan emosi membuat diri merasa rentan sekaligus berdaya. Profesional ataupun pendamping dibutuhkan untuk mengembalikan pijakan ke sini dan saat ini.
Setelah emosi-emosi tertanam itu selesai dialirkan, kita dapat memperhatikan kembali perbedaan dalam hidup kita. Terutama saat peristiwa pemicu terjadi. Saat peristiwa pemicu terjadi, tubuh yang awalnya bereaksi menjadi “reog” menjadi kehilangan daya. Di situ kesadaran bisa muncul. Diri sendiri akan punya keterampilan untuk berhenti, sadar dan berpikir. Di situlah kesempatan belajar muncul, bahwa kita bisa merespons sesuatu dengan berbeda dan lebih sehat di tiap kali pertemuan pemicu. Pola belajar ini terjadi secara gradual dan perlahan orang akan memperoleh keterampilan hidup baru dari trauma yang diselesaikan.
Pembelajaran ini tidak terjadi secara menyeluruh. Kadang-kadang, seperti yang saya alami, penyembuhan dan pembelajaran pola-pola kemudahan itu terjadi sepotong-potong. Saya ceritakan di awal tulisan ini bahwa saya bergumul dengan perasaan takut. Nah, pada saat ini, perasaan itu mulai bisa saya proses sekarang. Ada hal baru, tiap kali pergumulan muncul ke permukaan. Jika tidak dirawat maka ada kemungkinan bahwa seseorang bisa terjebak dalam lingkaran setan abadi. Kita juga perlu ingat bahwa perubahan menuju lebih baik tidak terjadi secara instan, kita bisa menjadi lebih baik sedikit-sedikit di setiap percobaan. Bahkan dari sesuatu yang merupakan kegagalan besar.



Posting Komentar