tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Merawat Diri dari Trauma Bawaan setelah Membaca Berita Tragedi Kanjuruhan Malang

Tragedi Kanjuruhan telah menjadi ingatan bersama kita. Bahwa kita mengetahui banyak orang meninggal dengan berbagai macam sebab di sana. Dari usia anak-anak hingga orang dewasa. Banyak orang berduka. Kita juga, tanpa disadari, juga berduka dan menyerap trauma bawaan (vicarious trauma).

gambar dari freepik.com

Apa itu trauma bawaan?

Dr. Ramsden dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh ScienceDaily (2015) menyatakan bahwa melihat peristiwa berita kekerasan melalui media sosial dapat menyebabkan orang mengalami gejala yang mirip dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

"Media sosial telah memungkinkan cerita kekerasan dan gambar vulgar untuk ditonton oleh publik dengan detail mengerikan yang belum diedit. Menyaksikan peristiwa-peristiwa ini dan merasakan penderitaan mereka yang secara langsung mengalaminya dapat berdampak pada kehidupan kita sehari-hari. Dalam penelitian ini kami ingin melihat apakah orang akan mengalami efek jangka panjang seperti stres dan kecemasan, dan dalam beberapa kasus gangguan stres pasca-trauma dari melihat gambar-gambar ini." - Dr. Ramsden (Viewing Violent News on Social Media Can Cause Trauma -- ScienceDaily, 2015)

Kita perlu mengakui bahwa respons-respons traumatis mungkin muncul setelah secara sadar maupun tidak sadar membuka dan mengonsumsi konten berita tragedi Kanjuruhan. Bukan berarti melarang untuk membaca berita tersebut. Ada kebijaksanaan bahwa kita bisa merawat diri setelah membaca konten berita penuh kekerasan seperti itu.

Trauma bawaan (vicarious trauma) adalah proses perubahan yang dihasilkan dari keterlibatan empati dengan penyintas trauma (British Medical Association, 2022). Siapa pun yang terlibat secara empati dengan penyintas insiden traumatis, penyiksaan, dan materi yang berkaitan dengan trauma mereka, berpotensi terpengaruh.

Tanda-tanda trauma bawaan

Diambil dari BMA (2022), berikut adalah tanda-tanda trauma bawaan:

  • mengalami perasaan marah, marah, dan sedih yang berkepanjangan tentang korban
  • menjadi terlalu terlibat secara emosional dengan korban
  • mengalami rasa bersalah, rasa malu, perasaan ragu-ragu diri dari mengamati peristiwa
  • disibukkan dengan pikiran korban di luar situasi kerja
  • identifikasi diri berlebih dengan korban (adanya fantasi horor dan penyelamatan)
  • kehilangan harapan, pesimisme, sinisme
  • menjaga jarak, mati rasa, detasemen, memotong hubungan dengan korban, tetap sibuk. Menghindari mendengarkan cerita orang lain tentang pengalaman traumatis
  • kesulitan dalam mempertahankan batasan profesional dengan korban, seperti terlalu memaksakan diri (mencoba melakukan lebih dari yang ada dalam peran untuk membantu korban).

Yang saya perhatikan dari gejala-gejala tersebut adalah itu mempengaruhi fungsi dan produktivitas kita sehari-hari. Kadang terasa seperti biasa saja, kita ingin terus bekerja setelah menyaksikan berita tragedi. Namun sebenarnya itu adalah pertanda bahwa diri kita memerlukan perawatan diri. Kita perlu berhenti dan mengakui bahwa peristiwa trauma telah terjadi, kita membaca berita itu, sehingga tubuh dan pikiran kita terpengaruh oleh berita tersebut.

Cara merawat diri dari trauma bawaan

Saya mengambil informasinya dari PINEREST (Kunze, n.d.) dan menyuntingnya. Ini adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk merawat diri dari trauma bawaan.

1. Kendalikan paparan Anda terhadap media.

Berhati-hatilah saat Anda membaca berita (petunjuk: tepat sebelum tidur mungkin bukan ide yang baik).

Perhatikan bagaimana perasaan Anda saat membaca berita atau postingan seseorang di Twitter atau saluran lainnya. Apakah Anda merasakan denyut nadi Anda lebih cepat? Apakah Anda memiliki keinginan untuk membalas dengan komentar geram atau komentar defensif?

Pantau pemberitahuan otomatis di gawai Anda. Pemberitahuan berita buruk di tengah malam mungkin bisa mengganggu dan membuat seseorang tidak bisa tidur semalaman. Anda bisa gunakan fitur tidur di ponsel supaya tidak mendapatkan pemberitahuan otomatis di ponsel di jam tidur.

2. Ketahui pemicu Anda

Anda tidak perlu memiliki diagnosis kesehatan mental agar lebih sensitif terhadap topik yang berbeda. Kita semua telah menghadapi hal-hal yang sulit dan beberapa dari kita hanya lebih sensitif terhadap isu-isu tertentu. Jika ada topik berita yang menurut Anda dapat jadi pemicu, Anda bisa menyaring supaya berita seperti itu tidak muncul di pemberitahuan ataupun umpan kanal media sosial.

3. Mempraktikkan perawatan diri yang baik.

Makan dengan baik, tidur nyenyak, berolahraga, minum banyak air, menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai, menikmati hewan peliharaan dan / atau anak-anak Anda, bersenang-senang dan terus aktif dengan tugas dan tugas rumah tangga.

4. Proses perasaan Anda.

Memproses perasaan secara langsung mungkin yang terbaik. Anda bisa menjangkau teman yang Anda rasa nyaman untuk diajak bicara. Dengan demikian, teman tersebut bisa mendukung Anda untuk memproses peristiwa atau perasaan yang sedang dialami.

Jangkau teman penting, apalagi di saat diri merasa sendiri. Luangkan waktu untuk berbicara dan berdiskusi ketika sumber daya internal Anda didukung.

5. Bicaralah dengan profesional kesehatan jiwa

Ini mungkin yang berat untuk sebagian besar orang Indonesia. Ini penting dilakukan di saat kegundahan yang dialami akibat membaca berita traumatis mempengaruhi produktivitas sehari-hari. Seperti kesulitan fokus, tidak mau mengerjakan tugas, perawatan diri kurang, merasa ingin terus-terusan bekerja, dan sebagainya.

Jika gejala itu cukup mengganggu, maka ada baiknya untuk mengalokasikan sumber daya untuk konsultasi kepada Psikolog, Psikiater, ataupun Konselor.

Beberapa orang takut profesional kesehatan jiwa mereka akan menilai mereka atau tidak setuju dengan mereka ketika mereka berbicara tentang masalah sosial dan politik. Sebagian besar profesional kesehatan jiwa tahu bahwa Anda tidak ingin berdebat, tetapi Anda ingin mengeksplorasi bagaimana merawat diri sendiri ketika peristiwa sosial membuat Anda kesal. Jika Anda tidak yakin, bersikaplah tegas dan katakan sesuatu, seperti, "Saya benar-benar khawatir tentang peristiwa politik hari ini. Bisakah kita mengeksplorasi cara-cara agar saya dapat mengelola kekhawatiran saya?"

6. Terlibat.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk terlibat secara aktif dalam masyarakat, termasuk dengan korban tragedi Kanjuruhan. Saya melihat berita teman-teman yang juga menunjukkan solidaritas dengan mengadvokasi dan menggalang dana dukungan untuk korban tragedi Kanjuruhan. Itu adalah upaya baik untuk terlibat secara langsung. Satu berita yang hype buat saya adalah Army yang menggalang dana tembus Rp420 juta (CNN Indonesia, 2022).

Jika tidak bisa untuk terlibat langsung, tidak masalah juga. Anda bisa terlibat dalam kegiatan sosial lainnya yang sama-sama bermakna seperti:

  • Mendonorkan darah
  • Menjadi relawan
  • Terlibat dalam komunitas dengan identitas yang berbeda
  • Melakukan tindakan kebaikan secara acak

Sekali lagi, tidak ada salahnya untuk diberi tahu. Ada manfaat untuk membiarkan diri Anda mengikuti berita dan informasi dengan penuh semangat tentang masalah yang penting bagi Anda, tetapi saya di sini untuk mengingatkan Anda untuk menjaga diri sendiri saat melakukannya. Kita adalah yang paling membantu dan efektif ketika kita telah merawat diri kita sendiri dengan baik.

Referensi

British Medical Association. (2022, January 17). Vicarious trauma: signs and strategies for coping. https://www.bma.org.uk/advice-and-support/your-wellbeing/vicarious-trauma/vicarious-trauma-signs-and-strategies-for-coping

CNN Indonesia. (2022, October 4). ARMY Indonesia Galang Dana untuk Tragedi Kanjuruhan, Tembus Rp420 Juta. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20221004142339-248-856209/army-indonesia-galang-dana-untuk-tragedi-kanjuruhan-tembus-rp420-juta

Kunze, A. K. (n.d.). Caring For Yourself When There’s Traumatic News - Pine Rest Newsroom. Retrieved October 6, 2022, from https://www.pinerest.org/newsroom/articles/self-care-for-traumatic-news-blog/

Viewing violent news on social media can cause trauma -- ScienceDaily. (2015, May 6). https://www.sciencedaily.com/releases/2015/05/150506164240.htm

1 komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer