Sepekan yang lalu, hari-hari saya penuh oleh agenda pelatihan. Saya baru belajar di pekan ini bawa saya perlu masa transisi sekitar dua hari setelah sibuk mengikuti pelatihan. Berganti dari rutinitas pelatihan ke hari-hari biasa memerlukan perhatian khusus. Informasi baru yang saya pelajari mulai dipahami dengan baik, bahkan ada beberapa informasi yang bisa membangkitkan trauma. Dari situ saya belajar bahwa informasi baru yang saya pelajari saat pelatihan adalah sebagian intisari yang saya butuhkan untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa trauma.
Masa transisi adalah beristirahat untuk mengurai informasi. Saya tidak mengambil pekerjaan selama masa transisi, termasuk menulis. Menulis membutuhkan upaya mental. Sehingga yang bisa saya lakukan adalah bermain, membaca, dan jurnal gambar.
Tantangan lainnya yang hadir adalah transisi masa duka. Dua pekan yang lalu saya kehilangan seorang teman. Beban emosionalnya terasa cukup berat. Saya ingat teman tersebut berjasa memberikan saya akses pemeriksaan dan dukungan terhadap kondisi autisme dan ADHD saya. Dari masa duka, saya belajar bahwa saya perlu menajamkan kearifan hidup saya. Ini akan mempengaruhi pandangan etis dan upaya yang saya lakukan untuk masa mendatang.
Ternyata, saya mengalami tiga masa transisi sekaligus, sehingga proses penyelesaian berlangsung runyam.
Yang saya lakukan paling awal dan paling mudah adalah menyadari dan mengalirkan emosi melalui gerak. Praktik penubuhan mendukung saya untuk menemukan lokasi emosi di badan dan mengalirkan nya. Emosi yang terpendam bisa mempengaruhi pengambilan keputusan sehari-hari, resiko semakin tinggi jika terlalu banyak emosi tersimpan di tubuh. Karena emosi berfungsi sebagai peringatan untuk tubuh. Yang dibutuhkan adalah menerima pesan emosi, kemudian mengalirkan nya keluar. Emosi yang bertumpuk di badan pun membuat diri sulit untuk merasa terhubung dengan inti diri. Hubungannya dengan nurani, kegundahan dan emosi yang berkumpul membuat diri tidak berpijak.
Ada tiga tahap yang saya alami sepanjang melakukan praktik penubuhan untuk merawat emosi: mengakui emosi, mengalirkan emosi, dan berpijak.
Mengakui emosi mencakup mengenali emosi dan mengingat kenangan. Setiap emosi hadir dengan pesan. Ketika pesan tidak terbaca atau diabaikan, pesan itu disimpan di badan. Dalam satu waktu bisa menimbulkan kepenatan, atau ketegangan di bagian tubuh tertentu. Aku memanggil emosi tersebut di badan, melalui gerakan. Kemudian dalam perhatian muncul informasi. Saya bisa menafsirkan emosi lewat gestur gerakan. Setelah menafsirkan emosi, saya bisa menamai emosi. Kemudian kenangan akan muncul secara samar, itu berhubungan dengan emosi yang muncul. Yang muncul bisa satu peristiwa, bisa juga serangkaian peristiwa dengan pengalaman emosi yang mirip. Kadang kita mengumpulkan emosi yang serupa dari serangkaian peristiwa dalam hidup, sehingga itu muncul semua secara beruntun. Beberapa orang bisa kewalahan saat mengatasi emosi dengan rentetan peristiwa yang banyak. Namun, perlu diingat bahwa kilas balik menghadirkan wawasan. Kita boleh untuk mendistraksi kilas balik tidak menyenangkan saat tidak siap mengatasinya.
Saya menyaksikan kilas balik sambil bergerak. Memerlukan latihan untuk bisa fokus bergerak sepanjang kilas balik. Bergerak membantu diri saya melanjutkan kenangan kilas balik. Informasi yang saya terima mencakup emosi, peristiwa, dan perhatian khusus. Perhatian khusus ini merupakan pemikiran-pemikiran yang hadir dalam pikiran. Kita perlu menahan diri untuk menyelesaikan kilas balik serta mengumpulkan setiap konten pemikiran yang penting. Ini menjadi utama bagaikan mengumpulkan bahan-bahan untuk perubahan diri. Saat informasi yang diterima tepat dan cukup, kita bisa memperoleh wawasan. Salah satu pertanyaan yang membantu adalah “apa yang akan saya lakukan secara berbeda jika peristiwa serupa berulang?” Lalu pertanyaan berikutnya, “wawasan baru apa yang saya peroleh dari kilas balik tadi?”
Penerimaan dan pengakuan emosi dan kenangan merupakan pengalaman yang membebaskan dan melegakan. Itu artinya kita mendapat pelajaran baru dari peristiwa hidup pribadi. Setelah informasi dan wawasan diterima dengan baik, langkah berikutnya adalah mengalirkan emosi.
Mengalirkan emosi adalah tanda kesembuhan, bukan tanda kelemahan apalagi tanda kerusakan. Setiap emosi punya caranya masing-masing untuk keluar dari tubuh. Perlu kita catat bersama, mengalirkan emosi bukan artinya melakukan kekerasan kepada orang lain atau benda, melainkan mengalirkan emosi secara somatik. Tubuh kita punya cara alamiah dalam mengalirkan emosi. Namun, budaya kita sebelumnya belum mengenali pengaliran emosi. Sehingga yang dikenali hanya memukul, berteriak, ataupun menangis. Tubuh kita merupakan ciptaan yang hebat karena sebenarnya tubuh punya cara untuk mengalirkan emosi.
Mengalirkan emosi dengan tubuh adalah dengan mengizinkan tubuh untuk mengeluarkan respon terhadap emosi. Misalkan marah, seseorang bisa menggenggam tangan keras dan menegangkan otot-otot di sekujur tubuhnya. Ada pula orang yang menjadi banyak bicara saat merasakan kejenuhan. Kejenuhan adalah emosi yang menunjukkan adanya ketidaksiapan untuk mengalami peristiwa kehidupan. Ketika sedih bisa menangis, ketika takut bisa membuat tubuh gemetar dan bahkan tertawa. Marah pun bisa dialirkan dengan tertawa. Selain itu, ada juga emosi kesakitan berupa menguap. Juga emosi gembira dengan tertawa dan hal lainnya. Kita perlu mendengarkan tubuh kita dan izinkan diri menemukan cara yang tepat. Di beberapa kesempatan ada respons emosi seperti buang air kecil dan juga muntah. Jika itu cara mengalirkan emosi, maka lakukanlah.
Setelah selesai mengalirkan emosi, hal yang muncul berikutnya adalah berpijak. Kita perlu kembali di sini dan sekarang (here and now). Ada beberapa teknik yang bisa digunakan. Yang paling mudah adalah 3-2-1. Sebut tiga benda dan warnanya, sebut dua hal yang didengar, sentuh satu benda dan sebut namanya. Kita perlu mengembalikan diri pada pijakan dengan bertumpu pada indera kita: apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita hirup, apa yang kita raba, dan apa yang kita kecap. Mengembalikan diri dari kenangan dan emosi adalah penting. Keberpijakan membuat kita kembali pada diri sendiri. Tidak berpijak artinya diri masih terjebak dalam emosi dan kenangan masa lalu. Lebih baik untuk melakukan dengan dukungan pendamping, apalagi untuk orang yang baru belajar. Seseorang bisa saja melakukan pijakan sendiri, tetapi waktunya bisa jauh lebih lama daripada berpijak dengan dukungan pendamping. Pendamping bisa seorang teman yang mengerti caranya berpijak.
Proses merawat emosi dan kenangan terjadi beberapa kali. Mengingat ada tiga transisi yang saya alami secara bersamaan. Dari proses pengenalan emosi, diri perlu jelas peristiwa dan emosi apa yang mau dirawat. Alirkan satu per satu dan kumpulkan wawasan nya. Saya memerlukan waktu beberapa kali dalam sehari untuk merawat emosi. Sepanjang masa transisi, saya tidak melakukan pekerjaan yang berat dan menjaga sumber daya energi saya supaya cukup untuk merawat emosi sepanjang masa transisi. Untuk orang biasa, masa transisi mungkin bisa berlalu lebih cepat, dan mungkin bisa dengan mudah mengesampingkan perhatian supaya bisa segera bekerja dan Merawat emosi nanti. Bagi saya, ada waktu di mana saya gak bisa mengesampingkan perhatian dan perlu secara aktif dan sadar melakukan transisi: mengurai informasi dan Merawat emosi.
Beberapa waktu setelah masa transisi berakhir, saya merasakan keterhubungan dengan inti diri saya dan mulai ada kesadaran diri untuk melihat kembali tujuan hidup saya. Pandangan ke masa mendatang muncul dan saya siap untuk bekerja. Saya menjangkau beberapa teman untuk menguji kembali kearifan saya. Belakangan ini saya aktif mencari kerja, kemudian saya mempertanyakan pada diri apa saya benar-benar butuh pekerjaan. Lalu, pekerjaan seperti apa yang layak untuk diri saya? Sepertinya menjadi pengamat dan pendidik adalah arahan yang mulai tampak. Terlepas ketidakamanan dan ketidakpastian yang saya alami terkait kondisi disabilitas dan identitas saya yang lainnya. Saya mengupayakan hidup saya sebaik mungkin.


Posting Komentar