Seringkali, kita dihadapkan pada satu fase di mana perasaan gelisah hadir tiada henti. Ia datang seperti ombak yang menuntut adanya perubahan, atau mungkin mendesak kita untuk segera memenuhi sebuah harapan. Namun, ironisnya, diri kita sendiri sering kali tidak tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan atau bagaimana cara memenuhinya.
Dalam ketidaktahuan itu, saya mulai menyaksikan bagaimana perubahan bekerja.
Dinamika Perubahan dan Transformasi
Perubahan tidak selalu datang dengan gegap gempita. Sering kali, ia terlihat dalam pergeseran-pergeseran halus. Keterkaitan antarmanusia berubah, pola hubungan bertransformasi, dan diri kita sendiri mengalami proses pembentukan ulang yang terjadi secara terus-menerus.
Namun, di tengah proses transformasi ini, muncul sebuah pertanyaan besar yang kerap menjadi sumber pergumulan batin: Bagaimana saya bisa tahu bahwa jalan dan upaya yang saya lakukan ini sudah tepat?
Ketidakpastian ini wajar. Tidak ada peta pasti untuk perjalanan psikologis dan spiritual seseorang. Perasaan ragu adalah bagian dari validasi bahwa kita sedang bertumbuh, bukan sekadar berjalan di tempat.
Menemukan Wawasan Baru
Perjalanan panjang dan pemahaman yang perlahan tumbuh membawa saya pada sebuah wawasan penting. Mungkin, jawaban dari kegelisahan ini bukan tentang "melakukan lebih banyak", melainkan tentang menata ulang.
Saya menyadari bahwa yang diperlukan saat ini adalah upaya untuk mengelola nilai-nilai yang saya pegang. Kita perlu mengenali batasan-batas baru (new boundaries) dalam perjalanan hidup yang sekarang. Apa yang dulu relevan, mungkin kini perlu disesuaikan. Apa yang dulu kita anggap sebagai kewajiban, mungkin kini perlu diletakkan dalam batas kerinduan yang lebih sehat.
Penutup
Mengelola batas bukan berarti menutup diri. Itu adalah cara kita menghormati transformasi yang sedang terjadi. Ini menjadi perhatian utama saya sekarang: belajar berdamai dengan ketidaktahuan, sembari perlahan membangun nilai dan batasan yang mendukung pertumbuhan diri di masa depan.



Posting Komentar