tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Emosi sebagai Kompas: Melawan Mati Rasa di Tengah Deru Kapitalisme


Seringkali kita diajarkan untuk memisahkan perasaan dari logika. Seolah-olah perasaan adalah gangguan yang harus disingkirkan agar kita bisa berpikir jernih. Namun, pandangan ini mengabaikan fungsi fundamental dari emosi itu sendiri. Perasaan dan pikiran yang muncul saat kita menghadapi suatu peristiwa bukanlah musuh. Mereka adalah kompas kehidupan. Mereka adalah pesan yang perlu diurai.

Ketika kesedihan datang, ia memberitahu kita tentang apa yang berharga bagi kita yang kini telah hilang. Ketika kemarahan muncul, ia memberi sinyal bahwa ada batas diri yang dilanggar atau ketidakadilan yang terjadi. Mengabaikan sinyal-sinyal ini sama saja dengan membuang peta saat kita tersesat di hutan belantara. Namun, upaya untuk mendengarkan dan menghayati perasaan ini menjadi tantangan yang luar biasa berat di zaman sekarang.

Kita hidup dalam sebuah ekosistem budaya yang didominasi oleh nilai-nilai patriarki dan kapitalisme. Kedua sistem ini, yang seringkali bekerja beriringan, memiliki satu tujuan yang sama berkaitan dengan tubuh dan pikiran manusia: kontrol dan efisiensi. Budaya patriarki seringkali menuntut ketabahan yang kaku. Laki-laki dilarang menangis, dan perempuan seringkali dilabeli "terlalu emosional" atau "histeris" ketika mengekspresikan ketidaknyamanan. Emosi dianggap sebagai kelemahan.

Di sisi lain, kapitalisme memandang manusia sebagai unit produksi. Dalam kacamata ini, emosi yang intens—baik itu kesedihan mendalam, kegembiraan yang meluap, atau kemarahan yang membara—adalah gangguan terhadap produktivitas. Seorang pekerja yang terlalu banyak merenung atau merasakan duka dianggap tidak efisien. Oleh karena itu, sistem ini menuntut kita untuk menumpulkan kesadaran dan kepekaan emosional kita. Kita didorong untuk menjadi mesin yang dingin, yang bisa terus bekerja tanpa terganggu oleh gejolak batin.

Proses penumpulan ini terjadi secara perlahan namun pasti. Kita mulai mengabaikan rasa lelah. Kita menelan kemarahan ketika diperlakukan tidak adil demi menjaga "profesionalisme". Kita menunda duka karena tidak ada waktu cuti yang cukup. Emosi dikecilkan sedemikian rupa untuk menguatkan kontrol atas keputusan hidup kita. Kita menjadi lebih mudah dikendalikan ketika kita tidak peka terhadap apa yang sebenarnya kita butuhkan atau inginkan. Kita terus berlari di atas roda hamster produktivitas tanpa pernah bertanya, "Apakah ini yang benar-benar aku inginkan?"

Sangat mudah bagi kita untuk terjerat oleh budaya tersebut. Jebakannya halus dan seringkali dibungkus dengan janji-janji kesuksesan atau kestabilan. Namun, berkesadaran dalam menghayati situasi ini memberikan kesempatan bagi kita untuk bertindak secara berbeda. Sedikit demi sedikit, kita bisa mulai merebut kembali otoritas atas diri kita sendiri.

Salah satu tantangan terbesar dalam proses ini adalah menghadapi sistem kesehatan mental yang kapitalistik. Seringkali, pendekatan kesehatan mental arus utama berfokus pada "penyembuhan" yang cepat agar individu bisa segera kembali bekerja. Terapi atau pengobatan kadang diarahkan hanya untuk menghilangkan gejala yang mengganggu produktivitas, bukan untuk menggali akar masalah eksistensial atau struktural yang menyebabkan penderitaan tersebut.

Sistem ini mendorong kita terus menerus menebalkan dinding pertahanan kita. Kita diajari teknik-teknik untuk "mengelola stres" bukan agar kita hidup lebih bahagia, tetapi agar kita bisa menahan beban kerja yang lebih berat. Ada jebakan produktivitas yang sangat berbahaya di sini. Kita merasa bersalah jika beristirahat. Kita merasa tidak berharga jika tidak menghasilkan sesuatu. Nilai diri kita digantungkan pada seberapa banyak yang bisa kita kerjakan dalam satu hari.

Jebakan-jebakan produktivitas ini justru yang membuat penindasan dan diskriminasi semakin lestari. Ini terlihat jelas dalam bagaimana masyarakat memperlakukan penyandang disabilitas. Dalam sistem yang memuja kecepatan dan efisiensi tubuh yang "sempurna", mereka yang memiliki cara kerja tubuh atau pikiran yang berbeda seringkali dipinggirkan. Disabilitas dianggap sebagai defisit karena tidak sesuai dengan standar mesin kapitalis. Padahal, jika kita berhenti mengukur manusia dari produktivitasnya, kita bisa melihat bahwa setiap keberadaan memiliki nilai intrinsik yang tidak bisa ditawar.

Untuk melawan arus yang deras ini, kita perlu melakukan tindakan radikal: berhenti sejenak.

Berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Ini adalah tindakan perlawanan. Kita perlu berhenti sejenak dan mempertanyakan kembali apa yang sedang terjadi dalam hidup kita. Mengapa saya merasa cemas setiap hari minggu malam? Mengapa saya merasa kosong meskipun baru saja mendapatkan promosi? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa muncul jika kita memberikan ruang hening di antara kebisingan tuntutan sehari-hari.

Mengurai dan mempertanyakan hal-hal ini tidak perlu dilakukan sendirian. Isolasi adalah senjata lain dari sistem yang ingin memecah belah kita agar kita tetap lemah. Teman dan kelompok dukungan bisa saja membantu. Dan lebih dari itu, kelompok dukungan itu perlu dibangun secara sadar. Kita perlu menciptakan ruang-ruang aman di mana kerentanan tidak dihukum, tetapi dirayakan.

Kita perlu ingat bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Perasaan kesepian dan keterasingan seringkali adalah ilusi yang diciptakan oleh gaya hidup individualis yang ekstrem. Ketika kita mulai berbagi cerita, kita akan menemukan bahwa rasa sakit, kecemasan, dan harapan kita ternyata juga dirasakan oleh orang lain. Perasaan dan emosi ini adalah sesuatu yang dibagikan bersama. Mereka mencerminkan situasi pribadi, namun juga mencerminkan kondisi lingkungan kita.

Depresi yang kita rasakan mungkin bukan sekadar ketidakseimbangan kimiawi di otak, tetapi respon wajar tubuh terhadap lingkungan kerja yang menindas atau ketidakpastian ekonomi yang kronis. Kecemasan kita mungkin adalah sinyal alarm terhadap krisis iklim yang nyata. Dengan menyadari ini, kita tidak lagi menyalahkan diri sendiri sepenuhnya atas apa yang kita rasakan.

Membawa kebijaksanaan dan kesadaran ini membangun kehidupan yang lembut sekaligus tegas. Lembut kepada diri sendiri dan orang lain karena kita memahami betapa beratnya beban yang dipikul setiap orang di bawah sistem ini. Tegas dalam menetapkan batasan. Tegas dalam menolak eksploitasi. Tegas dalam melindungi nurani.

Kelembutan ini bukanlah kelemahan. Justru dibutuhkan kekuatan yang luar biasa untuk tetap lembut di dunia yang keras. Ini adalah praktik melatih keputusan bijaksana sepanjang waktu. Setiap kali kita memilih untuk beristirahat saat lelah, kita sedang melatih kebijaksanaan. Setiap kali kita memvalidasi perasaan teman yang sedang sedih tanpa buru-buru menasihati, kita sedang melatih kebijaksanaan.

Sikap ini pun nantinya menuntun kita pada komunitas yang kita butuhkan. Komunitas yang tidak berkompetisi satu sama lain, melainkan saling menopang. Komunitas yang mengarahkan kita kepada kearifan kolektif. Di sini, kita belajar bahwa penyembuhan sejati tidak pernah bersifat individual semata. Penyembuhan saya terikat dengan penyembuhan Anda.

Pada pandangan yang lebih jauh atau eagle eye perspective, kesadaran emosional ini memberikan lensa yang kritis terhadap pengalaman ketubuhan, sosial, dan keadilan. Kita mulai bisa melihat pola. Kita bisa melihat bagaimana penderitaan pribadi terhubung dengan kebijakan publik. Kita bisa melihat bagaimana trauma diturunkan antar generasi, dan bagaimana struktur kekuasaan memelihara trauma tersebut.

Emosi kita menjadi data. Kemarahan kita menjadi bahan bakar untuk menuntut keadilan. Kesedihan kita menjadi dasar untuk membangun solidaritas. Rasa takut kita menjadi pengingat untuk berhati-hati dan saling menjaga. Dengan menjadikan emosi sebagai kompas, kita tidak hanya menavigasi kehidupan pribadi kita dengan lebih baik, tetapi kita juga mulai memetakan jalan menuju dunia yang lebih adil dan manusiawi.

Mari kita mulai mendengarkan kembali. Mari kita hormati setiap detak jantung yang berpacu karena cemas dan setiap air mata yang jatuh karena lelah. Itu semua adalah bahasa tubuh kita yang jujur, yang berusaha menyelamatkan kita dari mati rasa yang dipaksakan oleh dunia. Di sanalah, dalam kejujuran rasa itu, terletak benih-benih kebebasan kita.

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer