Pada 8 - 10 Oktober 2021 lalu, aku mengikuti sebuah kegiatan kemah dengan tujuan untuk mengobati luka batinku. Ini merupakan upaya untuk pendidikan ulang mengenai pendidikan keagamaan yang dulu terjadi pada aku secara traumatik. Dulu, aku merasa tidak belajar apa-apa di institusi pendidikan agama tersebut dikarenakan perundungan di sana tidak terkendali dan yang jadi utama adalah aku dipaksa pengasuhku untuk bersekolah di situ. Mereka gak sadar kalau sekolah itu gak layak dan gak pantas buat aku.
Proses yang saya alami selama kemah terasa menakjubkan. Aku bisa membiarkan ketegangan dalam diriku untuk berlalu begitu saja. Lepas dari tubuh dan mempelajari pola-pola ketenangan yang baru. Semakin aku mendalami luka ini, semakin terbebaskan diriku dari belenggu trauma. Pengalaman masa lalu di sekolah agama membuat aku belajar untuk siap siaga ketika ada ancaman perundungan. Aku menjadi lebih sensitif terhadap lingkungan sekitarku dan akhirnya aku menjadi sangat kelelahan.
Hingga pada saatnya, di hari terakhir kemah, aku menyadari hal yang lebih dalam dari perlakuan yang aku terima saat peristiwa trauma. Ketakutan yang gak karuan, yang tertanam di diriku lewat perlakuan dan interaksi pengasuhku kepada aku, berasal dari trauma pendidikan yang dimiliki oleh pengasuh. Aku ingat pengasuhku cerita tentang trauma pendidikan yang ia pendam beberapa tahun lalu. Aku menyadari bahwa ternyata selama ini aku menjadi proyeksi trauma dari pengasuhku. Aku dijerumuskan pada situasi traumatik serupa yang dialami pengasuh sebagai tanda pertolongan bahwa pengasuh punya isu trauma yang belum selesai. Dan itu diwariskan kepada aku.
Pengalaman traumatik itu berdampak hebat padaku, mengenai berbagai aspek kehidupan dan juga perkembangan hidup aku. Termasuk kesulitan yang aku alami di masa kuliah, yang ternyata membuat aku semakin rentan trauma pendidikan dan mendapatkan efek terburuk dari peristiwa trauma pendidikan berikutnya. Seorang dosen telah memproyeksikan trauma pendidikannya kepada mahasiswa-mahasiswanya. Siklus yang terulang padaku, karena aku, pada waktu itu, belum menyelesaikan isu trauma pendidikan paling awal yang pernah aku alami ketika masa sekolah agama.
Yang aku pelajari dari pengalaman ini adalah kehidupan berkesadaran itu penting. Trauma yang dialami di masa lalu menciptakan kesulitan di masa-masa setelahnya. Sehingga untuk mengatasi sebuah kesulitan, orang perlu untuk kembali ke masa lalu, menemukan traumanya, dan menyembuhkannya. Yang aku alami, penyembuhan itu akan membantu menyelesaikan masalah-masalah yang datang setelah kejadian trauma.
Aku menemukan trauma pendidikan ini setelah menyembuhkan trauma akademik di masa kuliah. Kemudian aku mundur ke trauma pendidikan sebelumnya ketika insiden FPB dan KPK di masa kelas 4 SD. Lalu mundur ke trauma pendidikan paling awal di hidup aku, ketika aku dipaksa masuk sekolah agama di kelas 1 SD. Beberapa postingan ku sebelumnya, bercerita tentang trauma sekolah agama yang melukai diriku dalam belajar, sekolah, dan bahkan sampai melukai spiritualitas diriku (ini akan aku ceritakan nanti).


Posting Komentar