tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Arahan untuk bekerja dan hidup secara lambat (setelah sebelumnya terdidik serba cepat)

Terngiang dalam pikiran perkataan “ayo cepat, cepat, cepat.” Kata-kata yang membuat saya mempercepat pekerjaan yang saya lakukan sekarang. Saya ditekan, kehilangan kesempatan untuk menghayati, dan memungkinkan untuk menimbulkan kecelakaan.

Saya besar dalam budaya yang mematok waktu sekolah mulai pukul 07.00. Untuk tiba tepat waktu, saya terbiasa bangun pukul 05.00. Saya segera mandi, ibadah pagi, kemudian berpakaian. Setelah pakaian siap, saya memeriksa barang bawaan saya. Saya melihat ke jadwal kemudian mengingat janji-janji dengan teman. “Apa ada janji atau latihan hari ini?”

Sepanjang perjalanan hidup saya. Saya merasa bangga dengan rutinitas seperti itu. Bisa tampak produktif dengan bangun dan bekerja tepat waktu.

Namun sejak saya duduk di bangku kuliah, saya memperhatikan ada pola yang berubah di diri saya dan teman-teman kuliah saya. Meskipun jadwal tertera pukul 7, kami selalu memulainya di pukul 8. Kami sadar soal jam tidur. Orang mulai punya kendali untuk punya tidur yang cukup dan memulai kuliah satu jam lebih lambat.

Saya yang awalnya sudah terbiasa dengan pola tidur dan bekerja yang jam 5 bangun langsung siap-siap, perlahan berubah juga. Saya yang awalnya ingin segera cepat-cepat dalam melakukan sesuatu, mulai meregangkan tekanan dan berjalan dengan santai. Saya yang awalnya ingin serba cepat, ingin berhenti dan menikmati perjalanan yang lambat.

Dasar Keyakinan si Serba Cepat

Saya mulai menyadari bahwa kebiasaan yang sebelumnya saya bangun (bangun pagi, mengerjakan serba cepat) punya dasar keyakinan. Keyakinan yang pertama adalah tentang kedisiplinan. Keyakinan yang kedua adalah bahwa orang harus bekerja lebih awal dan selesai lebih awal untuk mencapai kesuksesan.

Saya merasa oke-oke saja soal keyakinan yang pertama. Namun saya bergeming saat mengetahui keyakinan yang kedua. Karena itu adalah wacana yang terus diulang sejak saya sekolah menengah. Ini menjadi semacam keyakinan kolektif bahwa untuk mencapai “kesuksesan” kita perlu mulai dan selesai lebih cepat daripada orang lain.

Saya menyaksikan bahwa tindakan seperti itu menuntut kita untuk bekerja lebih dan dibayar kurang. Kesiapan dan ketersediaan untuk bisa bekerja lebih dengan bayaran yang lebih kurang.... Ini pun hadir dalam percakapan saya dengan seorang Doktor di Universitas bahwa ini adalah jebakan budaya yang hadir di sekitar kita.

Hustle Culture dan Quiet Quitting

Salah satu yang berkaitan ini adalah hustle culture (budaya keramaian). Saya ambil dan terjemahkan dari situs BFI (2022).

Hustle culture (budaya keramaian) adalah gaya hidup seseorang yang terus bekerja dan hanya beristirahat untuk waktu yang singkat. Ini dilakukan karena mereka yang menjalankan budaya merasa bahwa melakukannya akan membuat diri mereka sukses. Di Indonesia sendiri, budaya keramaian ini sering dikaitkan dengan budaya kerja karyawan di startup teknologi dengan ritme kerja yang sangat cepat. Tidak hanya ritme kerja yang cepat, bekerja lebih dari jam kerja yang ditentukan juga sering dialami oleh para pekerja.

Karakteristik budaya kerja ini antara lain sebagai berikut. Yang pertama adalah selalu memikirkan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk bersantai dan beristirahat. Selanjutnya adalah selalu merasa bersalah ketika Anda sedang bersantai, mengambil cuti, atau bahkan ketika Anda sedang beristirahat.

Karakteristik orang atau perusahaan yang memiliki budaya ini juga dapat dilihat dari target yang tidak realistis yang menyebabkan karyawan atau dirinya sendiri menjadi lelah di tempat kerja dan kelelahan. Akhirnya, orang-orang dengan budaya keramaian jarang puas dengan pekerjaan yang mereka dapatkan.

Menghadapi hustle culture, orang-orang termasuk diri saya sendiri melakukan quiet quitting. Berhenti dengan tenang adalah penerapan work-to-rule, di mana karyawan bekerja dalam jam kerja yang ditentukan dan hanya terlibat dalam aktivitas dalam jam tersebut (Quiet Quitting - Wikipedia, n.d.).

Dalam sebuah artikel (Rosalsky & Selyukh, 2022) ada kutipan bahwa berhenti dengan tenang adalah “berhenti dari gagasan untuk menjangkau yang di atas dan melampauinya”. Seseorang masih melakukan tugas, tetapi tidak lagi mengikuti mentalitas budaya keramaian bahwa pekerjaan harus menjadi tujuan hidup. Nilai diri seseorang sebagai pribadi tidak ditentukan oleh kerja kerasnya.

Banyak orang yang sedang menderita kelebihan jam kerja. Waktu kerja sudah disepakati sebelumnya, tetapi tuntutan kerja meminta beberapa tugas untuk selesai dalam tenggat waktu tertentu. Seseorang bisa mengambil lembur dan mereka dibayar per jam atas kerjanya. Ada pula yang tidak dibayarkan, entah karena kondisi dan situasi yang bagaimana.

Arahan untuk bekerja dan hidup secara lambat

Arahan untuk bekerja dan hidup secara lambat, merupakan bagian dalam membangun keseimbangan antara hidup dan pekerjaan. Ada kutipan yang saya ambil untuk kita renungkan bersama,

"ketika saatnya untuk menjadi lambat, jadilah lambat. Dan ketika tiba saatnya untuk menjadi cepat, mendesak, dan kuat, lakukan itu, dan belajar untuk mengenali perbedaannya. Saya pikir dalam budaya kita, kita dibiasakan untuk selalu melakukan hal-hal dengan cepat dan efisien dan tegas ... Jadi kita masuk ke dalam pola tindakan mendesak, bahkan ketika itu tidak tepat, bahkan ketika kita menyadari bahwa cara kita melakukan sesuatu sebenarnya membuat masalah menjadi lebih buruk." Michael Finkelstein, 2014 (dalam Ioncică & Petrescu, 2016).

Hidup lambat tidak selalu berarti melakukan sesuatu secara perlahan, melainkan menyesuaikan kecepatan aktivitas dengan tujuan yang ingin dicapai, dan melangkah bolak-balik sendiri bila perlu (Ioncică & Petrescu, 2016).

Saya mengambil waktu sejenak untuk berhenti dan merenungkan tentang perubahan hidup yang awalnya seba cepat akibat tekanan waktu dari luar. Kini mulai melambat dan bisa melaju cepat sesuai kebutuhan. Melalui kesempatan renungan ini, saya mulai menyadari bahwa harapan sosial terkait pekerjaan dan ekonomi telah mewujudkan tekanan waktu. Ini pun, dalam proses berpikir, menunjukkan adanya pertimbangan soal tingkat kapasitas seseorang dan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan itu.

Memang benar, seseorang punya waktunya sendiri dan bisa menentukan sendiri tempo hidupnya. Kita juga secara langsung maupun tidak langsung terlibat dengan orang-orang di sekitar kita. Harapan-harapan tertentu dari orang lain terhadap diri kita mewujudkan tekanan mengenai waktu. Dan itu adalah tentang ekspektasi dan pertimbangan orang lain terhadap diri kita.

Ketika apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, respons akan hadir. Komunikasi diperlukan untuk memberikan pemahaman tentang situasi dan kondisi yang sesungguhnya terjadi. Kadang-kadang ekspektasi ini diberikan sepihak tanpa adanya memeriksa kecocokan tentang apa yang dihayati oleh diri sendiri dengan orang lain.

Dengan adanya kesadaran dan wawasan ini, kita bisa mengambil langkah untuk menentukan tempo hidup kita sendiri. Baik cepat ataupun lambat. Selamanya cepat maupun selamanya lambat mungkin bisa kurang baik, maka tempo yang baik adalah yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.

Apapun yang dikerjakan, secepat atau selambat apapun temponya, kita punya kendali atas hidup kita sendiri.

Referensi

Getting Know Hustle Culture that Often Happens to Employees - BFI. (2022, August 9). https://www.bfi.co.id/en/blog/sering-terjadi-kenali-apa-itu-hustle-culture-dan-cara-menyikapinya

Ioncică, D.-E., & Petrescu, E.-C. (2016). Slow living and the green economy. The Journal of Philosophical Economics: Reflections on Economic and Social Issues, IX(2).

Quiet quitting - Wikipedia. (n.d.). Retrieved October 8, 2022, from https://en.wikipedia.org/wiki/Quiet_quitting

Rosalsky, G., & Selyukh, A. (2022, September 13). The economics behind “quiet quitting” — and what we should call it instead : Planet Money : NPR. https://www.npr.org/sections/money/2022/09/13/1122059402/the-economics-behind-quiet-quitting-and-what-we-should-call-it-instead

Postingan blog ini mengikuti tema “Cepat” Minggu ke-40 2022 oleh #1minggu1cerita



Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer