Ada interaksi tertentu dengan seseorang yang membuat diri takut. Kecurigaan muncul, pengindraan menjadi sensitif dan menimbulkan ketidaknyamanan. Keringat dingin muncul, detak jantung berdebar, tubuh memberikan peringatan bahwa diri sedang menghadapi sebuah ancaman. Lalu respons yang bisa muncul adalah melawan, kabur, atau membeku.
Emosi menular dan dapat membanjiri individu dan kelompok (Hoover, 2018). Saat emosi takut muncul, itu adalah pertanda adanya ancaman. Emosi takut bisa dialirkan lewat tubuh dengan gemetar, keringat dingin, dan tertawa.
Ada dua pengalaman emosi takut yang saya bahas di postingan ini. Pengalaman pertama tentang tanda bahaya dan perawatan diri. Pengalaman kedua tentang takut dan kesempatan untuk bertumbuh.
| Postingan ini mengikuti tema Minggu ke-44 2022 #1minggu1cerita : Takut |
Tanda Bahaya dan Perawatan Diri
Kita bisa memperhatikan bagaimana emosi takut ini muncul dan menuntun kita sadar pada hal-hal yang bisa membahayakan diri. Itu bisa tentang ekonomi, karier, kesehatan jiwa, dan sebagainya. Kecurigaan dan tanda bahaya membawa informasi yang perlu ditafsirkan secara bijak melalui latihan dan renungan.
Emosi takut saya alami ketika berinteraksi dengan orang yang menyedot emosi. Saya menjadi kelelahan dan menemukan bahwa pernyataan yang diberikan oleh orang itu memanipulasi. Percakapan sederhana menjadi sangat melelahkan. Aku jadi cenderung meninggalkan percakapan. Dan ketika dia berusaha menjangkau diriku dan menyampaikan kalimat-kalimat seperti “kamu adalah satu-satunya teman,” “aku gak mau kehilangan kamu,” dan sebagainya; sinyal bahaya yang tegas muncul di diriku. Setelah beberapa waktu meninggalkan interaksi, saya sadar bahwa itu adalah komunikasi yang manipulatif.
Ada lima hal yang bisa dilakukan saat menghadapi orang yang menyedot emosi (Sharma, 2021). Itu adalah:
- Memasang batasan
- Bicara jujur dan langsung
- Hindari memperbaiki permasalahan orang lain
- Ajukan alternatif lain
- Tetap menjaga jarak
Saya sudah melakukan kelima langkah tersebut saat menghadapi orang yang menyedot emosi. Pertama soal batasan, saya menjelaskan interaksi dan bahasan apa saja yang bisa dilakukan pada satu sama lain. Ini untuk menghargai emosi masing-masing dan tidak membuat diri terpengaruh dengan manipulasi yang ia lakukan.
Setiap emosi dan kebutuhan saya komunikasikan secara jujur dan langsung. Saya memahami bahwa mungkin orang yang menyedot emosi tersebut tidak menyadari bahwa ia telah melakukan manipulasi. Berusaha mengalamatkan manipulasi yang dilakukan seseorang malah menambah lelah. Sehingga perlu untuk perhatikan kondisi diri sendiri, kenali apa yang dibutuhkan dan bicara langsung kepada orangnya. Dengan demikian, diri memberikan ruang untuk memperlakukan satu sama lain dengan menghargai dan menghormati.
Awalnya dari interaksi dengan orang tersebut menimbulkan dorongan untuk ikut memperbaiki permasalahan yang dialaminya. Namun, setelah ingat kembali batasan, saya ingat bahwa itu di luar batasan yang sudah saya tentukan. Saya tidak perlu melakukan itu dan memberi bantuan di saat saya tersedia dan sesuai dengan batasan.
Saya ingat bahwa ada orang yang lebih berhak memberikan dukungan langsung kepadanya. Ada kesempatan bagi seseorang untuk menjangkau orang terdekat, membangun komunitas yang aman dan menumbuhkan bagi dirinya. Itu adalah alternatif yang saya ajukan karena kondisi saya yang kewalahan dengan manipulasi dan kesulitan emosionalnya.
Dan yang terakhir, di saat diri sudah kewalahan banget. Jarak perlu dibangun. Memang ada kejadian saya jadi ingin menembus batasan. Di saat itu terjadi pada saya, saya berhenti dan menentukan tindakan sesuai yang tepat. Selain orang lain, diri sendiri juga perlu melatih batasan dan menjaga jarak. Ini juga penting untuk menjaga energi emosional saya untuk pekerjaan yang lebih bermakna.
Kesempatan untuk Bertumbuh dari Rasa Takut
Saat berinteraksi dengan orang, ada beberapa pernyataan baik oleh diri sendiri ataupun orang yang dapat memicu perasaan takut. Sebabnya bisa macam-macam. Ada pula yang berikutnya mengarah pada tindakan kekerasan yang merupakan upaya penyelamatan diri.
Saya berhenti dan memperhatikan apa yang telah saya lakukan. Ada sesuatu yang ternyata membelenggu diri saya. Saya mengakui bahwa ada kerusakan yang saya lakukan karenanya. Kemudian saya meminta maaf kepada orang yang menjadi sasaran kekerasan.
Ketakutan memiliki fungsi merangsang kekecewaan dan keinginan untuk pembebasan (Anālayo, 2019). Kesadaran atas belenggu membuat saya termenung sesaat. Setelah peristiwa tersebut, saya ambil waktu untuk memahami belenggunya. Itu ternyata adalah sesuatu yang seharusnya saya lakukan untuk diri sendiri, bukan yang saya proyeksikan kepada orang lain dan menuntut orang melakukannya kepada saya.
Wawasan ini adalah baru bagi saya. Ini adalah kesempatan bagi saya untuk tumbuh dan belajar. Bahwa ketakutan yang saya miliki punya pesan buat diri saya sendiri.
Seperti yang dikatakan Analayo (2019), seseorang menyadari sifat yang pada akhirnya tidak memuaskan dari apa yang bersifat berubah. Menyadari duka mengarah pada berkurangnya kecenderungan untuk menyesuaikan hal-hal sebagai "milikku" dan mengidentifikasi dengan mereka dengan rasa sombong, sesuai dengan tumbuhnya wawasan tentang bukan diri.
Dalam hal ini, saya menyadari kembali asal-muasal saya menyampaikan perkataan yang tidak sesuai kepada orang lain. Pengakuan ketakutan sebagai tahap terpisah dapat dengan mudah memberi kesan bahwa mengalami kesusahan dan ketakutan adalah elemen yang sangat diperlukan dalam kemajuan wawasan (Anālayo, 2019). Prosesnya terasa tidak nyaman karena kemudian saya melepaskan sesuatu yang sebelumnya menjadi standar keamanan dan kenyamanan saya.
Keperluan untuk membangun kapasitas diri muncul dan karenanya saya mulai tercerahkan tentang kenapa saya agak menyangkut pada suatu kondisi. Pengalaman emosi takut yang mengarah pada kesadaran menghadirkan kedukaan yang menuntun saya untuk mengubah diri saya. Duka ini membuat saya melepaskan duka sebelumnya, dan menunjukkan bahwa saya perlu membangun diri saya supaya bisa hidup dengan lebih baik.
Lebih lanjut mengenai kondisi yang saya alami, penjelasan dari Analayo (2019) sesuai dengan apa yang saya alami:
Duka membentuk kondisi untuk timbulnya keyakinan atau iman, yang pada gilirannya mengarah pada kegembiraan, kegembiraan, ketenangan, dan kebahagiaan, dan dengan cara ini akhirnya menghasilkan pembebasan.
Itulah dua wawasan tentang emosi takut. Saya ingat bahwa proses pembelajaran dan pertumbuhan diri saya terus berlanjut. Dan dengan ini, kesempatan-kesempatan baru hadir dalam kehidupan saya. Saya menumbuhkan keyakinan untuk melangkah ke tujuan hidup berikutnya.
Daftar Pustaka
Anālayo, B. (2019). The Insight Knowledge of Fear and Adverse Effects of Mindfulness Practices. Mindfulness, 10(10), 2172–2185. https://doi.org/10.1007/s12671-019-01198-4
Hoover, N. C. (2018). Creating Cultures of Peace: A Movement of Love and Conscience. Conscience Studio.
Sharma, S. (2021, July 27). 5 Ways To Deal With Emotionally Draining Friends. Calm Sage. https://www.calmsage.com/how-to-deal-with-emotionally-draining-friends/



Posting Komentar