Setelah satu tahun sejak kepergian teman saya, Raga. Waktu itu, kami sama-sama terkena COVID dan saya mendapatkan kabar dari adiknya bahwa Raga telah meninggal. Saya terpukul dari kejadian itu, mengingat bahwa dia adalah orang yang mengingatkan kebaikan dan perjuangan yang selama ini saya lakukan.
Setelah agenda ziarah yang tertunda-tunda,
pada akhirnya, saya berhasil menyempatkan saya mengunjungi makam Raga. Saya
minta untuk diantar ke makam Raga bersama keluarga. Sebelum saya mengunjungi
toko Burayotnya Raga yang terkenal, saya memesan beberapa burayot untuk saya ambil
sekalian.
Saat menulis postingan ini, saya melihat bahwa
toko Burayot
the Legendary cookie from Garut - Google Maps, diam-diam, sudah menjadi
toko Burayot yang paling populer di Garut. Itu saya lihat dari pencarian di
Google.
Saya suka Burayot di tokonya Raga karena
rasanya yang khas dan pas. Berbeda dari burayot yang lainnya, yang seringkali
terasa kemanisan. Asyiknya adalah tersedia berbagai macam rasa. Saya biasa beli
burayot mix. Belakangan ini, saya lihat ada menu premium baru yang harganya
40ribuan. Saya akan coba di kesempatan berikutnya.
Yes! 7 November adalah hari saya mengunjungi kembali toko Burayot the Legendary Cookie from Garut. Selain Burayot, ternyata ada ulen. Saya baru saja memasaknya di rumah hari ini dan rasanya enak banget. Saya memeriksa pada pihak toko apakah sambel Ulen aman untuk dimakan (tidak menggunakan MSG). Mereka menjawab bahwa semua menu di toko ini tidak menggunakan MSG dalam masakannya. Saya senang bisa makan dengan tenang.
Sekilas mengunjungi tempat ini, rasanya seperti masuk ke surga burayot dan ulen. Burayot dan ulennya bisa langsung dimasak dan dimakan di sini juga. Harganya pun terjangkau, dari 20 ribu – 47 ribu.
Saat tiba di toko Burayot Legendary Cookie from Garut, saya disambut oleh ibu Raga. Dan tak lama kemudian, teh Mayang menyambut saya. Mereka mempersiapkan menu yang saya pesan sejak beberapa hari yang lalu.
Setelah pesanan sudah siap, kami (saya, ibu Raga, dan Mayang) berangkat ke makam Raga bersama-sama. Kami memesan mobil untuk mengantar kami ke lokasi makam keluarga di daerah Sukarame, Leles. Kami berbincang mengenang kebaikan dan perjalanan hidup Raga. Dari bagaimana awal saya berkenalan dengan Raga hingga saat keluarga Raga mengantar Raga ke Purwakarta untuk perawatan COVID.
Mengingat Kebaikan Raga
Saya senantiasa ingat kebaikan Raga. Terutama pada tahun 2019, saat saya terpaksa harus meninggalkan Garut untuk melanjutkan studi saya. Saya merasa tidak punya tujuan waktu itu. Yang saya ingat dari Raga adalah saat dia bilang bahwa dia menyadari yang aku lakukan selama di sekolah adalah benar. Kekerasan di lingkungan pendidikan harus dihentikan.
Ibu Raga kaget saat mengetahui insiden kekerasan yang mengenai semua siswa di angkatan saya dan Raga. Saya beritahu juga bahwa saya kehilangan sebagian kemampuan pendengaran telinga kiri saya sejak kejadian itu. Dari pengalaman itulah, saya bersikap resistensi terhadap pendidikan kekerasan di kaderisasi sekolah. Ini juga yang menjadi dasar fondasi saya dalam mengembangkan pendidikan non kekerasan untuk remaja.
Di saat saya mau menyerah, Raga telah mengingatkan saya untuk bangkit dan mulai kembali. Bahkan setelah 11 tahun berlalu, ternyata budaya kekerasan di kaderisasi sekolah itu masih ada.
Sepanjang prosesnya, saya mengenali bahwa ini terjadi tidak hanya di satu sekolah. Tetapi hampir di semua sekolah di Kabupaten tersebut. Ada keyakinan bahwa untuk mendidik disiplin dan kepemimpinan, maka satu-satunya cara adalah kekerasan. Kekakuan inilah yang menjadi praktik penuh luka dan kesakitan yang ada di sekolah, yang diyakini sebagai “berkat” dalam selubung kekerasan.
Di makam keluarga Raga, kami disambut oleh pemandangan yang haru. Ketika saya mengingat kebaikan Raga, seorang sahabat yang sudah pergi dari dunia ini. Kami juga mengingat leluhur-leluhur Raga.
Saya sempat memikirkan bagaimana bisa Raga seorang, dibanding seribu siswa seangkatan sekolah, bisa merenungkan kejadian yang saya alami hingga tiba pada kesimpulan bahwa “apa yang orang ini lakukan adalah benar”. Yang saya alami, saya bergulat panjang dengan efek jangka panjang dari trauma pendidikan kekerasan di sekolah. Saya tidak menyangka bahwa memang benar ada orang yang bisa ikut merasakan penderitaan dan perjuangan yang saya alami.
Saya sebut ini sebagai bakat untuk berempati mengafirmasi penderitaan dan perjuangan seseorang. Kemampuan ini hadir dalam diri Raga. Saat kepergian Raga, saya menangis karena baru menyadari bahwa Raga sudah berpikiran sampai sejauh itu. Dengan pemahaman ini, saya berterima kasih kepada leluhur-leluhur Raga karena sudah mewariskan kemampuan untuk berwelas asih kepada Raga. Kebaikannya tiba di diri saya, serta orang-orang yang ada di kehidupannya Raga.
Saya mendoakan tidak hanya Raga seorang. Saya mendoakan juga leluhur-leluhur Raga atas anugerah singkat yang saya dapatkan dari kehadiran Raga di dunia ini. Saya ingat ibu Raga bilang, “melakukan ziarah mengingatkan saya bahwa mungkin waktu saya tidak lama di dunia ini. Ada hal-hal yang perlu saya siapkan juga di kehidupan setelahnya.”
Setelah berziarah, saya teringat kembali tentang upaya saya dalam membangun pendidikan non kekerasan yang belum selesai. Saya masih tahap belajar dan praktik, belum ada prinsip dasar dan paten yang saya hasilkan. Yang sudah ada adalah wawasan-wawasan dan arahan tentang apa yang saya ciptakan untuk dunia tempat saya tinggal yang penuh dengan kekerasan dan trauma.
Dari Raga, saya ingat bahwa diri saya berharga dan bermakna untuk terus melanjutkan upaya dalam membangun pendidikan non kekerasan.


Posting Komentar