tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Dinamika Hidup dengan Kearifan: Bagaimana Mengenali dan Memaknai Perubahan

Pada hari ini, keseharian saya mulai menunjukkan arah untuk perubahan. Selama beberapa bulan terakhir, saya fokus kepada tiga hal yaitu mendapatkan penghasilan dan pengembangan diri; mengelola blog; dan pengembangan komunitas. Alokasi waktu yang saya luangkan telah menunjukkan kepada saya tentang prioritas apa yang menjadi lebih penting untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan.

Dorongan untuk menguji kearifan

Setelah prioritas tampak, saya terdorong untuk mengevaluasi kearifan saya. Saya perlu menguji kembali apakah topik yang jadi minat saya itu tepat dan diperlukan dalam kronologi waktu saya hidup. Saya sadar bahwa kini bukan lagi saatnya untuk memilih apapun yang saya suka dan senangi untuk menjadi tujuan hidup. Saya perlu mengujinya untuk memastikan apakah upaya sesuai dengan kebutuhan peradaban masa ini. Tampaknya berat, tetapi saat diperhatikan dalam hidup sehari-hari, itu layaknya menggambarkan aliran sungai hidup yang saat ini diikuti.

Kearifan dan ruang eksistensi

Kita seperti berada dalam ruang eksistensi yang tak berwujud. Kearifan menunjukkan tujuan koordinat eksistensi yang kita lalui. Diri perlu secara sadar untuk memvisualisasi jalan di hadapan. Sesederhananya menajamkan kearifan artinya memvisualisasikan ruang eksistensi secara utuh. Ini seperti menciptakan peta dalam permainan dunia terbuka.

Minat saya dalam menulis blog

Jalan minat dan pekerjaan harian saya mengarah kepada bidang pendidikan. Saya payah dalam bersosialisasi, sehingga prioritas mengelola komunitas menjadi berkurang. Keluaran yang saya senangi dan upayakan sekarang adalah pendidikan melalui tulisan. Ternyata saya kurang nyaman jika menampilkan wajah saya dan berceramah di media sosial. Saya pun tidak cocok untuk menghadapi kerumunan twitter yang terlihat ganas buat saya. Sehingga menulis di blog dan buku menjadi alternatif terbaik yang bisa saya upayakan dalam hidup saya. Saya pun mulai mengurangi menunjukkan diri saya di media sosial dan lebih sering menunjukkan buku yang saya baca dan cuplikan tulisan saya di media sosial. Saya mengerti sekarang bahwa saya mulai melepaskan pengelolaan komunitas dalam upaya saya dan memprioritaskan menulis sebagai upaya yang tepat.

Menulis blog harian memang menyenangkan. Namun, itu membuat frustrasi bila saya tidak punya penghasilan tetap. Itu sebabnya belakangan ini saya mulai mencari pekerjaan. Ada satu lembaga yang menarik perhatian saya, sehingga saya tertarik. Namun saya menjadi tidak termotivasi setelah melihat banyak deskripsi pekerjaan yang gak sesuai buat aku. Saya perlu mencari alternatif lain untuk mendapatkan penghasilan.

Saya senang bahwa blog ini sudah dimonetisasi. Saya senang mendapatkan umpan balik untuk terus mengembangkan blog dan tulisan saya. Beberapa teman merekomendasikan saya untuk menerbitkan buku. Untuk itu, saya membutuhkan mentor menulis buku. Ini menjadi perhatian saya untuk pembaca Kalaupadi yang budiman. Serta saya pun berharap bisa dapat penghasilan dari buku yang saya terbitkan. Saya belum tahu apakah yang saya tuliskan itu disukai banyak orang atau hanya orang tertentu. Saya merasa kelelahan jika berusaha untuk menyesuaikan tulisan saya dengan pasar. Saya lebih nyaman merespons situasi kekinian dengan kearifan yang saya punya.

Kearifan itu Penting

Mengenai kearifan, saya mau jawab kenapa itu penting. Kita mulai dari kutipan buku pedoman fasilitator Hidup Tanpa Kekerasan – Menciptakan Budaya Damai dan Adil (Nadine C Hoover dkk., 2020):

Pekerjaan kita didasarkan pada percobaan, bukan keyakinan buta atau fanatisme. Kita beruji coba dengan bagaimana tetap sadar akan kekuatan perubahan hidup di setiap saat, dan bagaimana mendengarkan dan hidup sesuai dengan cinta dan hati nurani. Eksperimen dengan keputusan dan interaksi sehari-hari membuat kami tersedia dan siap untuk terbuka terhadap kekuatan perubahan. Eksperimen ini membutuhkan catatan sebagai individu, kelompok pendamping, dan komunitas.

Menguji coba kearifan adalah laku harian. Saya tidak akan tahu wawasan tentang bidang yang saya senangi jika saya tidak merekam apa yang saya lakukan dan menemukan arahannya. Sepertinya benar untuk coba aja dulu dengan catatan bahwa diri akan merekam perkembangan yang dialami selama mencoba. Ya kalau misalkan tidak cocok, ya tinggal mengubah haluan. Wawasan baru lainnya adalah bahwa perubahan memerlukan transisi. Banting setir atau perubahan yang revolusioner mungkin bisa menjadi dobrakan besar yang biasanya dirasa oleh diri sebagai menguntungkan secara hebat. Kita perlu berhenti dan sadar bahwa perubahan cepat bisa membawa penderitaan, itu adalah bagian dari prosesnya.

Laku Harian Hidup dengan Kearifan

Yang sedang saya bangun melalui laku harian kearifan adalah dengan berkesadaran memperhatikan perkembangan diri dan berubah secara berangsur-angsur. Satu kebiasaan untuk satu periode waktu yang biasanya butuh waktu minimal tiga pekan. Dengan identitas yang berangsur-angsur berubah, itu diwujudkan dari kebiasaan-kebiasaan yang dibangun. Itu ternyata tidak sekedar mengklaim identitas melainkan mewujudkan identitas diri kita dari laku sehari-hari.

Seorang teman menyebutkan diri saya sebagai orang yang sangat dinamis. Terus berubah dan terus mengalir. Saya merasa kelelahan menghadapi perubahan-perubahan besar, sehingga saya memperlambat gerak hidup saya dan melalui perubahan-perubahan yang lembut. Saya sadar bahwa saya sedang membangun identitas saya secara berangsur-angsur dan itu terwujud dalam kegiatan sehari-hari yang saya lakukan.

Hidup dengan kearifan telah membatasi hidup saya dari tindakan-tindakan yang tidak diperlukan. DI saat bersamaan, hidup berkearifan telah membebaskan saya untuk mengaktualisasikan diri saya secara penuh. Belakangan ini, saya baru bisa melepaskan transisi-transisi yang butuh waktu ekstra untuk selesai. Ternyata ada transisi yang perlu diperhatikan dan membangun keseharian dari kebiasaan-kebiasaan. Itulah komitmen saya dalam hidup, memperhatikan kapasitas diri dan masa kronologi waktu saya yang terbatas.

Referensi

Nadine C Hoover, Alma (Kins) Aparece, Subhash Chandra, Chris Hunter, Park Jungjoo, Petrus, Nanik, & Rosie Remmerswaal. (2020). Panduan Fasilitator Menciptakan Budaya Damai dan Keadilan yang Lestari: Sebuah gerakan cinta dan hati nurani. Friends Peace Teams.

1 komentar

Terima kasih sudah berkomentar
  1. Semangat kak menulis blognya. Semua orang butuh mencoba banyak hal untuk menemukan apa minatnya dan bakat dalam diri. Coba aja dulu semua nanti akan tampak disebelah mana kita merasa nyaman mengerjakannya.

    BalasHapus
Populer